MerahPutih.com - Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) merilis hasil Survei Profil Internet Indonesia 2026 yang mencatat penetrasi internet di tanah air.
APJII tahun 2026 mencatat pertumbuhan pelanggan internet tetap (fixed broadband). Jumlah masyarakat yang berlangganan internet tetap mencapai 99.515.436 jiwa, dengan pertumbuhan pelanggan sebesar 3,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, Mayoritas pelanggan internet tetap menggunakan layanan internet kabel/fiber sebesar 37,9 persen.
Di mana 81,7 persen atau setara dengan 235.261.078 jiwa dari total populasi Indonesia sebanyak 287.303.234 jiwa sudah mendapatkan akses internet.
Survei ini memberikan gambaran komprehensif mengenai tingkat penetrasi internet, perilaku pengguna internet, pola akses digital, tingkat keamanan siber, hingga perkembangan layanan internet tetap (fixed broadband) di Indonesia.
Berdasarkan hasil survei terakhir dari APJII, saat ini Indonesia memiliki sekitar 287 juta penduduk. Dan untuk tahun 2026 ini, penetrasi internet Indonesia meningkat dibandingkan tahun 2025,
ujar Ketua Umum APJII Muhammad Arif dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (21/5).
Angka tersebut menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada angka 80,66 persen, sekaligus memperlihatkan bahwa internet telah menjadi kebutuhan utama masyarakat Indonesia di berbagai sektor kehidupan.
Peningkatan penetrasi internet ini menunjukkan transformasi digital nasional terus bergerak secara progresif dan semakin inklusif.
Internet saat ini bukan lagi sekadar kebutuhan tambahan, tetapi telah menjadi bagian dari aktivitas sosial, ekonomi, pendidikan, hingga pelayanan publik masyarakat Indonesia. Hasil survei ini menunjukkan bahwa transformasi digital nasional terus berkembang dan perlu didukung dengan pemerataan infrastruktur, peningkatan kualitas layanan, serta penguatan literasi digital masyarakat,
ujarnya.
Secara wilayah, Pulau Jawa masih memberikan kontribusi terbesar terhadap pengguna internet nasional dengan tingkat penetrasi mencapai 85,95 persen dan kontribusi pengguna sebesar 58,24 persen.
Sementara itu, wilayah Kalimantan mencatat penetrasi sebesar 80,40 persen dan kontribusi pengguna sebesar 6.20 persen, Sumatera sebesar 78,24 persen dan kontribusi pengguna sebesar 20.74 persen.
Selanjutnya Bali dan Nusa Tenggara sebesar 78,14 persen dan kontribusi pengguna sebesar 5.26 persen, Sulawesi sebesar 72,58 persen dan kontribusi pengguna sebesar 6.62 persen, serta Maluku dan Papua sebesar 69,74 persen dan kontribusi pengguna sebesar 2.94 persen.
Data ini menunjukkan bahwa pemerataan akses internet terus mengalami perkembangan, meskipun masih terdapat kesenjangan digital antarwilayah yang perlu menjadi perhatian bersama.
Dari sisi demografi, penetrasi internet pada laki-laki tercatat sebesar 83,95 persen dengan tingkat kontribusi sebesar 50.03 persen, sedangkan perempuan sebesar 79,79 persen dengan tingkat kontribusi sebesar 49.97 persen, yang menunjukkan kesenjangan gender dalam akses internet semakin kecil.
Berdasarkan wilayah tempat tinggal, masyarakat urban memiliki tingkat penetrasi sebesar 84,75 persen dengan tingkat kontribusi sebesar 60.59 persen, sementara wilayah rural mencapai 78,18 persen dengan tingkat kontribusi sebesar 39.41 persen.
Survei juga menunjukkan bahwa kelompok pendidikan memiliki korelasi terhadap tingkat penggunaan internet.
Tingkat penetrasi tertinggi tercatat pada kelompok pendidikan perguruan tinggi sebesar 92,49 persen, diikuti SMA/SMK sederajat sebesar 90,44 persen, SMP sederajat sebesar 82,48 persen, dan tidak sekolah/SD sederajat sebesar 74,84 persen.
Berdasarkan kelompok generasi, penetrasi internet tertinggi berada pada kelompok Gen Z sebesar 89,02 persen dan milenial sebesar 90,34 persen, yang menunjukkan dominasi generasi muda dalam pemanfaatan teknologi digital.
Dari sisi aktivitas, masyarakat yang bekerja memiliki kontribusi penggunaan internet terbesar dengan penetrasi mencapai 84,9 persen.
Terkait alasan masyarakat menggunakan internet, aktivitas komunikasi dan jejaring sosial menjadi faktor terbesar dengan persentase 19,9 persen, diikuti hiburan digital seperti streaming dan game sebesar 19,7 persen, pencarian informasi dan berita sebesar 19,6 persen, serta transaksi e-commerce dan layanan digital sebesar 18,7 persen.
Hal ini menunjukkan bahwa internet telah menjadi bagian penting dalam aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia.
Di sisi lain, bagi masyarakat yang belum terkoneksi internet, alasan utama yang paling banyak ditemukan adalah tidak memiliki perangkat yang dapat terkoneksi internet sebesar 34 persen, tidak mengetahui cara menggunakan perangkat digital sebesar 31,5 persen, dan harga kuota internet yang masih dianggap mahal sebesar 17,2 persen.