MERAHPUTIH.COM - PERKEMBANGAN informasi di media sosial membuat banyak ibu semakin mudah mendapatkan edukasi tentang menyusui. Namun, derasnya informasi tersebut juga menjadi tantangan tersendiri karena tidak semua pesan yang beredar memiliki dasar ilmiah.
Ketua Umum Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Nia Umar mengingatkan masyarakat agar lebih kritis dalam menerima informasi, terutama yang disampaikan key opinion leader (KOL) atau figur publik.
Menurutnya, pengalaman pribadi seorang ibu tidak bisa dijadikan acuan umum karena setiap ibu dan anak memiliki kondisi yang berbeda.
Pengalaman satu ibu itu tidak bisa dijadikan evidence-based (bukti ilmiah). Kita tidak bisa mengambil pengalaman satu orang lalu menganggap hal tersebut pasti berlaku untuk semua ibu.
Nia Umar, Ketua Umum Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)
Nia mencontohkan fenomena pemberian ASI menggunakan botol atau dot. Menurutnya, sebagian ibu mungkin merasa tidak mengalami kendala ketika memberikan ASI melalui botol, tetapi kondisi tersebut belum tentu sama pada ibu lainnya.
Baca juga:
Konsumsi Pil KB Diklaim Tidak Mengurangi Air Susu Ibu Menyusui
“Banyak ibu yang mengatakan, 'saya tidak apa-apa memerah ASI, anak tetap menyusu langsung, lalu minum menggunakan dot'. Namun, anak setiap ibu berbeda. Tidak bisa pengalaman satu ibu disamakan dengan ibu lain,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, selama 15 tahun menjadi konselor menyusui, ia menemukan berbagai kasus dengan respons anak terhadap perpindahan dari payudara ke botol bisa berbeda.
“Ada ibu dengan anak pertama yang baik-baik saja saat berpindah dari payudara ke botol. Namun, pada anak kedua, justru mengalami bingung puting hingga berhenti menyusu langsung,” katanya.
Pentingnya Memahami Risiko sebelum Mengambil Keputusan
Nia menegaskan kampanye menyusui harus tetap mengutamakan informasi yang berbasis penelitian, bukan sekadar pengalaman individu. Ia menyebut AIMI tidak merekomendasikan penggunaan botol dot secara sembarangan karena terdapat risiko bayi mengalami bingung puting.
Menurutnya, keputusan akhir tetap berada di tangan orangtua. Namun, tenaga konselor memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan informasi mengenai risiko dan konsekuensi dari setiap pilihan. “Kita tidak bisa memaksa ibu. Setelah diberikan edukasi dan mengetahui risikonya, keputusan tetap menjadi pilihan masing-masing. Namun, informasi mengenai risikonya tetap harus disampaikan,” ujar Nia.
Ia menambahkan tidak semua bayi yang menggunakan dot pasti mengalami bingung puting. Namun, karena setiap pasangan ibu dan anak memiliki kondisi yang berbeda, risiko tersebut perlu menjadi pertimbangan. Nia melihat tantangan terbesar saat ini yakni melimpahnya informasi mengenai menyusui di ruang digital. Alih-alih membantu, banyaknya informasi justru membuat ibu semakin bingung menentukan sumber yang dapat dipercaya.
Oleh karena itu, ia mengajak para ibu untuk membedakan antara pesan yang memiliki unsur promosi dan edukasi yang benar-benar didukung bukti ilmiah.
“Informasi yang sangat banyak seperti tsunami membuat ibu semakin bingung mencari mana informasi yang benar. Maka penting bagi ibu untuk belajar menilai sumber informasi,” ucapnya.(Tka)
Baca juga: