Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Dunia

20 Negara Bersatu Amankan Pelayaran Selat Hormuz, Indonesia Tidak Masuk

Wisnu Cipto - Sabtu, 21 Maret 2026

MerahPutih.com - Sebanyak 20 negara kini menyatakan kesediaan untuk berkontribusi dalam memastikan keamanan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital energi dunia yang terganggu akibat konflik di Timur Tengah (Timteng).

Awalnya beberapa hari lalu, enam negara pertama meliputi Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Jepang telah mengeluarkan pernyataan bersama untuk berkolaborasi menjamin keselamatan pelayaran di Selat Hormuz.

“Kami menyatakan kesiapan untuk berkontribusi langkah yang tepat untuk memastikan pelayaran aman di Selat Hormuz. Kami menyambut komitmen bangsa-bangsa yang terlibat dalam rencana persiapannya,” demikian pernyataan bersama enam negara itu, dikutip dari Kantor Berita RIA Novosti, Sabtu (21/3).

Baca juga:

Jepang Adil di Mata Iran, Jamin Kapal Negeri Sakura Aman Layari Selat Hormuz

Tambahan 14 Negara Baru

Pada Sabtu (21/3) ini, 14 negara baru ikut bergabung. Dilansir Antara, 14 negara itu meliputii Kanada, Korea Selatan, Selandia Baru, Denmark, Latvia, Slovenia, Estonia, Norwegia, Swedia, Finlandia, Republik Ceko, dan Romania.

Negara-negara itu menekankan gangguan terhadap pelayaran internasional dan rantai pasok energi global merupakan ancaman bagi perdamaian dan keamanan dunia.

Mereka juga menyerukan moratorium komprehensif untuk menghentikan serangan terhadap infrastruktur sipil, termasuk instalasi minyak dan gas.

Baca juga:

Bukan Perang Eropa, Uni Eropa Belum Ingin Kerahkan Kapal Perang ke Selat Hormuz

Rute Utama Suplai Minyak dan LPG Dunia

Ketegangan meningkat sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran, termasuk ibu kota Teheran. Iran kemudian melakukan serangan balasan ke wilayah Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah.

Akibat eskalasi, lalu lintas perkapalan di Selat Hormuz rute utama suplai minyak dan LPG dari Teluk ke pasar global sempat berhenti total. Dampaknya, banyak negara mengalami lonjakan harga bahan bakar.

Baca Artikel Asli