MerahPutih.com - Militer Ansar Allah (Houthi) telah mengumumkan memberlakukan blokade laut terhadap kerajaan Arab Saudi sebagai balasan atas kendali mereka terhadap wilayah udara Yaman selama 12 tahun, dan bandara Sanaa telah dibombardir saat pesawat Iran yang membawa delegasi Houthi mendarat.
Houthi, gerakan yang memerintah Yaman utara, menyerang tiga kapal tanker minyak Saudi dalam dua hari terakhir, kata sumber Yaman kepada stasiun televisi Lebanon Al Mayadeen.
Dalam 48 jam terakhir, angkatan bersenjata Yaman telah menyerang tiga kapal tanker minyak Saudi,
kata sumber tersebut.
Bahwa 16 kapal Saudi telah berbalik arah karena tidak dapat melewati Selat Bab al-Mandab yang dikuasai Houthi dalam enam hari terakhir, dimulai pada 20 Juli.
Baca juga:
Serangan Houthi ke Arab Saudi Picu Kekhawatiran Jemaah Umrah, ini Faktanya
Sejak Yaman memberlakukan blokade, tidak satu pun kapal tanker minyak Saudi yang melewati Selat tersebut baik dari arah mana pun,
imbuh sumber itu.
Menurut sumber tersebut, larangan terhadap pelayaran Saudi, yang diberlakukan pada 20 Juli, masih berlaku.
Sementara, Kepala Komando Pusat AS (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper,mengusulkan untuk menghentikan penyerangan di Selat Hormuz, karena telah mencapai batas efektivitasnya, demikian lapor Axios mengutip sumber-sumber yang mengetahui informasi tersebut.
Menurut Axios, rekomendasi Cooper dan penasihat lainnya berhasil memengaruhi Presiden AS Donald Trump dalam keputusannya pada Jumat untuk menghentikan sementara pemboman Iran.
Hal ini membuktikan adanya pengakuan dari penasihat militer dan sipil Trump bahwa kemampuan untuk mencapai tujuan melalui aksi militer, termasuk penggunaan kekuatan udara, memiliki keterbatasan.
Cooper menyampaikan posisinya kepada para pejabat Pentagon dan Gedung Putih minggu ini, dengan alasan bahwa pemboman baru-baru ini secara signifikan mengurangi kemampuan Iran untuk menyerang kapal.

