MerahPutih.com - Krisis bahan bakar minyak (BBM) melanda negara Prancis. Selain pasokan, harga BBM melonjak setelah berlangsungnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran pada Februari 2026.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mendesak jajaran pemerintahannya untuk melakukan segala upaya guna mengatasin krisis BBM.
Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure mengatakan pada 11 September bahwa harga BBM yang melonjak setelah berlangsungnya konflik yang melibatkan Iran pada Februari 2026 akan tetap tinggi dalam waktu lama.
Harga solar di negara tersebut telah mencapai 2,30 euro atau sekitar Rp 46.809 per liter, sedangkan bensin mencapai 2,10 euro atau sekitar Rp42.738) per liter. Rata-rata harga tersebut melonjak hampir 30 persen dibandingkan sebelum krisis.
Baca juga:
Presiden Prabowo Ungkap 3 Masalah Bangsa yang Harus Segera Dibereskan: Pangan, BBM, Kemiskinan
Presiden Republik Prancis telah mengarahkan pemerintahannya untuk berupaya penuh guna memastikan pasokan (BBM) di satu sisi serta mengendalikan harga di sisi lain,
kata Bregeon.
Sementara itu, Direktur Kantor Penghubung Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) untuk Federasi Rusia, Oleg Kobiakov mengatakan krisis di Timur Tengah masih berlangsung sehingga terlalu dini untuk membicarakan jangka waktu pemulihan rantai pasokan melalui Selat Hormuz.
Masih terlalu dini untuk membicarakan jangka waktu pemulihan fungsi normal rantai logistik yang melewati Selat Hormuz,
kata Kobiakov kepada RIA Novosti.
Dia mencatat bahwa hal tersebut terutama disebabkan oleh krisis yang masih berlangsung di kawasan tersebut.
Hasil dari konfrontasi di Timur Tengah, yang dimulai lebih dari tujuh bulan lalu, masih belum dipastikan,
kata Kobiakov.