MerahPutih.com - Ketegangan geopolitik dan krisis energi dunia imbas eskalasi konflik di Selat Hormuz memasuki babak paling menggentarkan dan berpotensi makin panjang.
Pemerintah Iran menegaskan tidak akan membuka kembali akses pelayaran strategis Selat Hormuz selama Presiden AS Donald Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu masih memegang kekuasaan.
Para pejuang kami tidak akan membuka Selat Hormuz sampai Trump yang kriminal dan Netanyahu yang haus darah diturunkan dari kursi kekuasaan mereka, dan ini merupakan tahap pertama pembalasan bangsa Iran,
Mohammad Baqer Zolqadr, penasihat politik Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, dikutip dari kantor berita ISNA, Jumat (18/9).
Baca juga:
Balas Klaim Trump atas Selat Hormuz, Iran Sebut California Wilayah Barunya

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (ANTARA/AA)
Manuver Balasan Iran Atas Agresi Militer dan Embargo Ekonomi
Zolqadr menegaskan sikap terbaru Iran itu sebagai bentuk manuver pembalasan atas agresi militer dan tekanan ekonomi yang dilancarkan AS dan Israel.
Konflik mematikan ini berakar dari serangan terbuka yang diluncurkan pasukan gabungan AS dan Israel ke wilayah Iran pada 28 Februari lalu, yang langsung memicu balasan serangan balasan sengit dari Teheran.
Meskipun kedua belah pihak sempat menyepakati nota kesepahaman penghentian permusuhan pada pertengahan Juni, gesekan militer kembali membara hingga membuat AS beralih mengandalkan strategi tekanan ekonomi ketat.
Baca juga:
Krisis Minyak Dunia Makin Berlarut-larut
Eskalasi konflik itu hampir sepenuhnya menghentikan pelayaran melalui Selat Hormuz, yang merupakan jalur pasokan penting bagi minyak global, produk minyak bumi, dan gas alam cair. Akibatnya dilansir Antara, harga bahan bakar meningkat di sebagian besar negara.
Apalagi, kini militer Iran menegaskan Selat Hormuz baru akan dibuka jika Presiden AS Trump dan PM Israel Netanyahu lengser. Aksi penutupan permanen ini dipastikan bakal terus menekan perekonomian internasional seiring dengan melonjaknya harga BBM di berbagai belahan dunia. (*)