MERAHPUTIH.COM — PENIKMAT sampanye akan merasakan alkohol yang lebih nendang. Hal itu terjadi setelah produsen di Prancis mendapat izin menaikkan kadar alkohol sampanye untuk pertama kalinya. Penaikan kadar alkohol itu terkait dengan gelombang panas ekstrem yang melanda musim panas tahun ini.
Otoritas industri setempat mengatakan produsen sampanye untuk sementara diperbolehkan menghasilkan minuman dengan kadar alkohol hingga 15 persen, naik dari batas reguler 13 persen. Penaikan tersebut dipicu kondisi cuaca ekstrem berupa panas dan kekeringan. Kondisi itu membuat kadar gula dalam buah anggur jauh lebih tinggi. Dalam proses fermentasi, ragi mengubah gula menjadi alkohol.
Tak hanya bikin kadar alkohol meningkat, cuaca panas esktrem mempercepat jadwal panen anggur, di wilayah Champagne, Prancis, masa panen tercatat terjadi paling awal sepanjang sejarah akibat cuaca ekstrem tersebut. Asosiasi industri Comite Champagne memperkirakan kondisi seperti ini dapat menjadi hal biasa dalam 10 hingga 15 tahun mendatang akibat perubahan iklim.
Baca juga:
Al Gusto Gandeng Chef Matteo Meacci Hadirkan Cita Rasa Tuscany dalam Wicked Wine Dine
Kadar Alkohol Dinaikkan hanya untuk Tahun Ini
Kenaikan kadar alkohol diperkirakan hanya akan berdampak pada sebagian kecil produk sampanye. Juru bicara Comite Champagne, dikutip BBC, mengatakan, dalam proses fermentasi kedua yang menghasilkan gelembung pada champagne, sejumlah kecil wine dari hasil panen tahun ini mungkin memiliki kadar alkohol sedikit di atas batas regulasi 13 persen, yakni sekitar 13,1 hingga 13,2 persen.
“Oleh karena itu, diputuskan untuk menaikkan batas regulasi secara luar biasa dan sementara menjadi 15 persen. Hanya untuk tahun ini," kata juru bicara tersebut.
Anggur pertama mulai dipanen pada awal Agustus, kemudian proses panen meluas pada pertengahan bulan. Comite Champagne menyebutnya sebagai panen paling awal yang pernah tercatat di Champagne.
"Musim tanam 2026 akan dikenang sebagai salah satu yang paling tidak biasa dalam sejarah Champagne, ditandai embun beku musim semi dengan intensitas bersejarah, periode pembungaan yang sangat awal, serta lima gelombang panas sepanjang musim panas," kata asosiasi tersebut.
Baca juga:
Sudestada Malbec Day 2026, Festival Wine Argentina Hadir di Jakarta
Perubahan Iklim Mengubah Siklus
Stephane Vignon, produsen sampanye di Verzenay, kepada The Times, mengatakan perubahan iklim membuat kondisi cuaca di kawasan tersebut semakin menyerupai wilayah Mediterania.
"Iklim Mediterania bergerak ke utara. Ini merupakan tahun pertama dari siklus baru. Mungkin tidak terjadi setiap tahun, tetapi akan terjadi lagi," ujarnya.
Maxime Toubart, Wakil Ketua Comite Champagne, mengatakan kepada AFP bahwa meningkatnya kemungkinan cuaca yang lebih panas di masa depan membuat panen ekstrem tahun ini mungkin menjadi kondisi normal dalam 10 hingga 15 tahun mendatang.
Prancis menjadi salah satu negara Eropa yang paling terdampak cuaca ekstrem tahun ini, termasuk gelombang panas yang memicu kebakaran hutan besar.
Perubahan iklim meningkatkan suhu rata-rata global dan membuat gelombang panas semakin sering serta intens. Dampaknya terasa sangat kuat di Eropa, yang menurut layanan iklim Copernicus merupakan benua dengan laju pemanasan tercepat, sekitar dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.
Baca juga:
Dunia lagi Susah, Penjualan Sampanye Terhempas karena tak Ada yang Ingin Perayaan Meriah
Alkohol Tinggi tak Selalu Disukai Konsumen
Namun, kadar alkohol yang lebih tinggi belum tentu menjadi daya tarik bagi konsumen. Jane Anson, kolumnis wine sekaligus penulis yang berbasis di Bordeaux, memperingatkan tren konsumen justru mengarah pada minuman dengan kadar alkohol lebih rendah.
"Pertarungan antara keinginan konsumen dan apa yang diberikan alam pasti sangat membuat produsen stres," katanya kepada The Times.
Sampanye dari panen 2026 diperkirakan baru mulai beredar pada 2028 karena minuman tersebut wajib menjalani proses pematangan setidaknya selama 15 bulan.(dwi)
Baca juga: