10 Oktober, Peringati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2020
Sabtu, 10 Oktober 2020 -
PERINGATAN ini merupakan bentuk dari edukasi kesehatan mental untuk masyarakat global. Meningkatkan awareness (kesadaran), advokasi untuk melawan stigam-stigma sosial yang sering dikaitkan dengan kesehatan mental. Jutaan orang dari seluruh negara merayakan hari ini dengan turut berpartisipasi dalam beragam program kesehatan dengan memperhatikan dampak penting dari kesehatan mental.
Hari Kesehatan Mental Sedunia ini menjadi hari penting ketika kita semua sedang dihadapi pandemi COVID-19. Banyak orang yang berjuang bertahan di kondisi yang tidak pasti. Kita semua dituntut untuk beradaptasi dengan keadaan sulit, mulai dari pendidikan, pekerjaan, dan juga relasi.
Baca juga:
Buku 'Kissing the Coronavirus' Jadi Viral di Internet, Ada Apa?
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan COVID-19 membuat banyak orang yang jatuh dalam kemiskinan atau lingkungan yang rentang dengan perlindungan dari virus tersebut.
Berdasarkan apa yang terjadi di masa lalu, kebutuhan akan kesehatan mental atau psikis ini terus meningkat. Ada beragam investasi dalam program kesehatan mental secara nasional atau pun internasional yang terus mengalami kekurangan dana selama bertahun-tahun.
Baca juga:
Alasan tersebut yang menjadi tujuan dari kampanye Hari Kesehatan Mental Sedunia, meningkatkan investasi dalam kesehatan mental.
Dilansir dari laman Times Now News, pada 1992 untuk pertama kalinya Federasi Kesehatan Mental Dunia membentuk sebuah inisiatif untuk merayakan hari kesehtan mental sedunia. Pada awalnya tidak ada tema khusus dalam hari peringatan ini, tetapi sejak 1994 dirayakan dengan tema Meningkatkan Kualitas Pelayanan Kesehatan Mental di Seluruh Dunia.
Setiap tahunnya ada beragam tema yang diperingati untuk Hari Kesehatan Mental Sedunia, seperti tahun lalu yang mengusung tema Promosi Kesehatan Mental 2019 dan Pencegahan Bunuh Diri.
Kondisi kesehatan mental tentu memengaruhi bagaimana cara seseorang berpikir, berperilaku, dan merasakan di setiap aspek kehidupan yang dijalani. Semua itu bergantung pada pilihan kita, untuk menjalani kehidupan sehari-hari seperti apa.
"Kamu tidak harus selalu bersikap positif. Tidak apa-aoa untuk merasa sedih, marah, kesal, frustasi, takut, dan cemas. Memiliki perasaan tersebut tidak menjadikan kamu orang yang negatif. Justru membuatmu menjadi manusia," ucap penulis buku Tiny Buddha's Worry Journal: A Creative Way to Let Go of Anxiety and Find Peace, Lori Deschene. (Ren)
Baca juga: