MerahPutih.com - Sepanjang tahun 2025 terdapat 2.039 kasus HIV/AIDS baru di Bali, dengan sekitar 31 persen di antaranya berasal dari warga luar Bali dan WNA.
“HIV itu kalau kita lihat kenapa kasusnya tinggi di Bali, itu karena data HIV adalah setiap pasien yang mengakses pengobatan, dan kenyataannya memang banyak pasien dari luar Provinsi Bali yang mengakses pengobatan di sini,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bali, I Gusti Ayu Raka Susanti, kepada media, Selasa (21/4).
Baca juga:
Red Flag, Kasus HIV/AIDS Denpasar Tembus 17 Ribu Terbanyak Usia Produktif
Faktor Akses Layanan
Menurut dia, banyak pasien dari luar Bali memilih menjalani pengobatan di Bali karena layanan kesehatan yang lebih terbuka dan lengkap.
“Mungkin mereka tidak ingin diketahui di wilayahnya, jadi itu salah satu faktor. Di Bali kan ada bule juga, dari provinsi lain juga,” imbuh Raka Susanti, dilansir Antara.
Ayu menambahkan seluruh puskesmas dan rumah sakit di Bali telah siap melayani pemeriksaan dan pemberian obat. Dinkes juga bekerja sama dengan yayasan-yayasan yang aktif memobilisasi pasien dari temuan kasus hingga pendampingan.
“Iya, kita kerja sama dengan yayasan, mereka memobilisasi pasien dari temuan kasus, pendampingan, kemudian mengajak ke faskes,” ujarnya.
Baca juga:
Mengenal HIV/AIDS, Bagaimana Bisa Tertular dan Apa Gejalanya?
Warga Asli Bali Diimbau Hindari Kontak Seksual
Dengan jumlah penduduk Bali sekitar 4,4 juta jiwa, angka 2.039 kasus memang terlihat tinggi. Namun, lebih dari 600 kasus berasal dari luar Bali.
Raka Susanti juga menekankan sebagian pasien sudah positif HIV sebelum datang ke Bali. Untuk itu, Dinkes Bali juga terus mengingatkan masyarakat untuk menghindari kontak seksual dengan pasien positif, tidak berganti pasangan, serta menggunakan pengaman.
“Kalau misalnya pasien HIV ini dia harus minum obat seumur hidup dan melakukan pemeriksaan viral load untuk mengetahui kondisi virus di dalam tubuhnya, itu kuncinya agar tidak menularkan ke pasangannya,” tandasnya. (*)