MerahPutih.com - Pura Mangkunegaran menggelar tradisi Syawalan pada Sabtu (28/3), yang diikuti ribuan warga dari berbagai penjuru Kota Solo dan sekitarnya.
Masyarakat memadati kawasan Pendapa Ageng untuk mengikuti halalbihalal bersama K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X. Kegiatan ini merupakan bagian dari perayaan Riyaya Kupat atau Lebaran Ketupat di bulan Syawal.
Selain dihadiri keluarga dalem, abdi dalem, dan kawula Mangkunegaran, acara ini juga diikuti jajaran Forkopimda Kota Solo serta masyarakat umum yang diberi akses terbuka.
Pengageng Kawedanan Panti Budaya Puro Mangkunegaran, GRAj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura, mengatakan Syawalan menjadi momentum penting untuk mempererat jalinan antara Mangkunegaran dengan masyarakat.
“Kami menyelenggarakan Syawalan atau halalbihalal. Tidak hanya bersama abdi dalem dan kerabat, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat umum untuk bersilaturahmi langsung dengan Kanjeng Gusti,” ujar Gusti Sura.
Ia menegaskan, keterbukaan Mangkunegaran terhadap masyarakat telah menjadi bagian dari tradisi sejak masa Mangkoenagoro I melalui nilai Hanebu Sauyun, yakni semangat persatuan dalam kebersamaan.
“Hubungan Mangkunegaran dengan masyarakat Solo semakin erat. Ini juga menjadi momen berkumpul kembali, seperti reuni kecil setelah Lebaran, baik bagi abdi dalem, kerabat, maupun masyarakat,” kata dia.
Baca juga:
Tradisi Injak Bumi, Ritual Sakral Bayi-Bayi Jambi Seberang Setelah Salat Id
Tradisi Ziarah Kubur di Hari Raya Idul Fitri 1447 H, Umat Muslim Kenang Handai Taulan
Dalam kesempatan tersebut, Mangkunegaran juga membagikan sekitar 4.000 paket ketupat opor kepada masyarakat. Selain dibagikan langsung di lokasi, sebagian paket juga disalurkan ke sembilan kelurahan di wilayah Banjarsari.
Menurut Gusti Sura, jumlah tersebut memiliki makna simbolis, yakni menandai empat tahun masa jumeneng Mangkoenagoro X sekaligus mencerminkan komitmen untuk terus dekat dengan rakyat.
“Yang berbeda tahun ini adalah pembagian 4.000 ketupat. Ini simbol empat tahun kepemimpinan Kanjeng Gusti, sekaligus bentuk kepedulian kepada masyarakat,” paparnya.
Dengan tingginya antusiasme masyarakat, Syawalan Mangkunegaran kembali menegaskan posisinya sebagai tradisi budaya yang hidup dan terus relevan. Pura Mangkunegaran pun memastikan kegiatan ini akan terus dilaksanakan setiap tahun sebagai ruang silaturahmi yang inklusif bagi semua kalangan.
“Ke depan, kegiatan seperti ini akan terus kami selenggarakan. Ini sudah menjadi agenda tahunan dan bagian dari komitmen kami untuk selalu dekat dengan masyarakat,” pungkasnya. (Ismail/Jawa Tengah)