MerahPutih.com - Indonesia kini tengah berusaha untuk bangkit dari tekanan ekonomi dalam negeri ataupun global. Namun, Ekonom Senior Rizal Ramli mengungkapkan tantangan yang datang untuk Indonesia menjadi negara besar seakan menerpa tak ada henti.
Menurut Rizal Ramli, Indonesia terperangkap dalam narasi-narasi yang bersifat retorik, emosional, dan romantisme belaka. "Perkara ini malah membuat Indonesia sulit tumbuh menjadi bangsa besar," kata dia, dalam Talk Show bertajuk Indonesia 1928 di Jakarta, dikutip Kamis (24/3).
Baca Juga:
Isu Pelanggaran HAM dan Kebebasan Demokrasi Masih Jadi Masalah di Rezim Jokowi-Ma'ruf
Mantan Menko Kemaritiman dan Investasi ini menyebut tiga persoalan yang membelenggu bangsa ini sehingga menyebabkan generasi muda khususnya, sulit berkembang. Tiga persoalan ini adalah korupsi, nepotisme dan anti-pluralisme.
Untuk itu, Rizal menilai narasi semangat nasionalisme yang digaungkan saat ini harusnya bersifat substantif, seperti isu keadilan dan kesejahteraan. “Beban ini menyeret anak Indonesia turun ke bawah. Jadi tugas kita, kita harus potong ketiga beban itu," ujar sosok yang beberapa kali menjadi menteri sejak era Gus Dur itu.
Baca Juga
Lebih jauh, Rizal menekankan tidak ada negara maju jika masih ada korupsi, tidak ada negara maju jika masih ada nepotisme. "Perbedaan harus kita hargai, yang anti perbedaan tidak cocok karena kita negara Pancasila," tegas sosok yang kerap dikenal dengan jurus Rajawali Ngepret saat menjadi menteri Jokowi itu.
Sementara itu, Sejarawan Anhar Gonggong menilai yang menjadi persoalan saat ini adalah pudarnya peranan organisasi politik. Seperti partai dalam menjalankan fungsi edukasi.
“Pertanyaan saya sekarang adakah partai mendidik rakyat. Kan itu persoalannya. Hal ini yang harus dipikirkan," jelas Anhar, dalam acara yang sama.
Menurutnya, fungsi edukasi ini bertujuan untuk memperbaiki mental ditengah kecenderungan perilaku kurang baik di sebagian elit. Oleh karena itu, pendidikan bisa memberikan sistem tertentu yang bisa mengubah mentalnya.
"Orang-orang yang berjuang memerdekakan Indonesia adalah pemimpin yang mampu melampaui diri sendiri. Kontras dengan kondisi saat ini dimana rakyat terkesan diabaikan ketika politisi telah menang Pemilu," sebut Anhar.
Baca Juga:
Begini Efek MotoGP Mandalika Terhadap Ekonomi Daerah
Pada kesempatan yang sama, Pendiri Pusat Orientasi Rusia Indonesia (PORIN) Sunaryo N. Soenhadji juga menambahkan keterkaitan bahasa dan budaya.
Baginya, mempelajari kosakata dan gramatikal saja tidak cukup untuk memahami budaya. Sedangkan seseorang yang mengetahui bahasa, maka besar kemungkinan dia akan mengetahui budaya. Dewasa ini, kata Sunaryo, faktor bahasa sangat penting.
Sedangkan, Direktur Eksekutif IndoNarator Sekar Hapsari mengungkapkan bila masih terdapat banyak hal yang dipelajari oleh generasi muda dan diterapkan ke depannya. "Ini bukan sekadar urusan kontestasi 2024, melainkan untuk kepentingan jangka panjang generasi muda Indonesia," tutur Sekar. (Knu)
Baca Juga:
Dua Tahun Jokowi-Ma'ruf, Ancaman Pidana Kebebasan Berekspresi Dinilai Masih Terjadi