Sensory Seeker pada Anak, Kenali Ciri-cirinya!
Perlu bantuan profesional medis untuk menangani gangguan sensory seeker. (Foto: Pexels/Artem Beliaikin)
ANAK yang tidak bisa diam dan selalu mengganggu teman sebayanya bukan lah aib. Anak dengan gangguan sensory seeker sering dikaitkan dengan penderita ADHD. Namun, keduanya memiliki penyebab dan gejala yang cukup berbeda. Sayangnya seringkali orangtua merasa malu dan memilih menghukumnya dengan sanksi yang cukup keras di rumah. Padahal sensory seeker bisa disembuhkan melalui terapi sensorik.
Melansir dari understood.org, sensory seeker sebenarnya tidak hanya terjadi kepada anak kecil. Semua kalangan usia bisa menderita gangguan sensory seeker karena penyakit ini menyerang saraf sensorik di dalam tubuh. Tetapi penyakit ini lebih banyak ditemukan pada anak kecil. Gejalanya bisa bertambah parah dan mengganggu aktivitas sehari-hari jika tidak segera ditangani oleh para profesional.
Baca Juga:
1. Ceroboh
Ibu-ibu dan Bapak-bapak sekalian, jangan langsung marah jika anak cenderung ceroboh dalam melakukan sesuatu. Seringkali kecerobohan yang dialami seorang anak bukan dilakukan secara sengaja melainkan akibat terhambatnya saraf sensorik pada otak. Ketika melihat anak terus menerus ceroboh dan tidak bisa melakukan hal sederhana dengan benar, orangtua justru harus segera membawa sang buah hati ke tenaga profesional untuk diterapi.
2. Suara bising
Salah satu ciri-ciri anak yang menderita sensory seeker adalah sering bicara dengan nada tinggi. Selain itu mereka juga sangat sensitif terhadap suara di sekitarnya. Jika anak-anak lain merasa biasa saja ketika mendengar suara bel sekolahnya, anak dengan sensory seeker bisa merasa suara bel sekolah sama kencangnya dengan roket yang sedang diluncurkan. Tak jarang mereka stres hanya karena mendengar suara-suara yang nyaring.
Baca Juga:
EQ Tinggi itu Superpower, Kenali Bentuknya dalam Kehidupan Sehari-hari
3. Sering menghancurkan barang
Bukan karena jahil kepada temannya, anak dengan sensory seeker bisa dengan mudah menghancurkan barang milik orang lain karena tidak bisa mengontrol tenaga dari tangannya sendiri. Anak akan mencari kegiatan untuk memenuhi kebutuhan saraf sensorik dari otak yang tidak terstimulus dengan baik. Sayangnya kegiatan-kegiatan yang bisa memuaskan saraf sensorik penderita sensory seeker adalah dengan menghancurkan barang, berlari, melompat, dan kegiatan lain secara ekstrem.
4. Memiliki kebiasaan yang abnormal
Anak dengan gangguan sensory seeker juga seringkali memiliki kebiasaan aneh seperti menggigit baju dan mainannya sendiri. Orangtua tidak boleh langsung memarahi dan memaksa anak untuk mengoreksi perbuatannya karena bisa jadi hal ini disebabkan oleh kesalahan pada saraf sensorik otak. (Mar)
Baca Juga:
Bagikan
Berita Terkait
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Program Pemutihan BPJS Kesehatan Berlangsung di 2025, ini Cara Ikut dan Tahapannya