Rodrigo Duterte ‘The Punisher’ yang kini Menghadapi Persidangan atas Kejahatan terhadap Kemanusiaan

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 14 Maret 2025
 Rodrigo Duterte ‘The Punisher’ yang kini Menghadapi Persidangan atas Kejahatan terhadap Kemanusiaan

Mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte.(foto: Instagram @rodyduterteofficial)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM - DULUNYA pemimpin terpilih nan dijuluki ‘The Punisher’, Rodrigo Duterte kini diserahkan ke Den Haag untuk menghadapi persidangan atas kejahatan terhadap kemanusiaan terkait dengan perang brutalnya terhadap narkoba. Inilah pembalikan tak terduga nasib bagi seorang politikus yang dulu terbuka menyombongkan diri tentang membunuh orang dan menempatkan lawan-lawannya dalam daftar penyerangan.

Rodrigo Duterte memimpin Filipina selama enam tahun yang penuh gejolak. Ia mengawasi penindakan keras terhadap narkoba, secara terbuka mengancam kritik dengan kematian, dan melontarkan kata-kata kasar kepada sejumlah pemimpin dunia, mulai dari Paus hingga mantan Presiden AS Barack Obama.

Pada Rabu (12/3), Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) di Belanda mengonfirmasi bahwa mantan pemimpin Filipina tersebut kini berada dalam tahanan mereka.

Duterte ialah seorang mantan jaksa, anggota kongres, dan wali kota. Ia membangun reputasi kerasnya di Kota Davao, Filipina Selatan. Pada 2016, ia meraih kemenangan pada pemilihan presiden. Janjinya ketika itu populis, yakni meniru taktik keras dari kampung halamannya dan memerangi narkoba serta pengedar narkoba di seluruh negara Asia Tenggara tersebut.

"Semua kalian yang terlibat narkoba, kalian berandal, saya benar-benar akan membunuh kalian," katanya di hadapan massa dalam salah satu pidato kampanye 2016 yang penuh dengan kata-kata kasar khasnya. "Saya tidak punya kesabaran, saya tidak ada jalan tengah. Entah kalian membunuh saya atau saya akan membunuh kalian semua, bajingan,” katanya ketika itu, dikutip CNN.

Begitu berkuasa, ia meluncurkan apa yang disebut kelompok hak asasi manusia sebagai ‘tim pembunuh’ untuk memberantas pengedar narkoba. Banyak korban tim ini ialah pemuda dari daerah kumuh yang ditembak polisi dan orang bersenjata liar sebagai bagian dari kampanye untuk menargetkan para pengedar.

Data polisi menyebutkan 6.000 orang terbunuh. Beberapa kelompok hak asasi manusia mengatakan jumlah korban tewas bisa mencapai 30 ribu, dengan banyak orang tak bersalah dan orang yang tidak terlibat menjadi korban tembakan.

Kepresidenan Duterte yang penuh darah berakhir pada 2022. Tiga tahun kemudian, hanya delapan polisi yang dihukum atas lima korban yang terbunuh dalam perang melawan narkoba.

Mahkamah Pidana Internasional (ICC) meluncurkan penyelidikan tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan Duterte selama masa jabatannya sebagai pemimpin nasional dan Wali Kota Davao. Duterte lama telah menyangkal tuduhan pelanggaran hak asasi manusia dan berpendapat bahwa masalah narkoba merupakan urusan penegakan hukum domestik. Ia berulang kali mengatakan tidak akan tunduk pada yurisdiksi asing dan mengejek ICC, mendesak jaksa untuk ‘cepat-cepat’ menindaklanjutinya.

Dua hari sebelum penangkapannya, ia mengecam ICC dalam pidato khasnya yang penuh kemarahan kepada pendukungnya di Hong Kong. "Dari berita saya sendiri, saya memiliki surat perintah, dari ICC atau semacamnya, bajingan ini sudah lama mengejar saya. Apa yang saya lakukan salah?" katanya.

Baca juga:

ICC Tahan Mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte atas Tuduhan Kejahatan terhadap Kemanusiaan, Ancaman Hukumannya enggak Main-Main, Bisa Maksimal Seumur Hidup


Pemilihan Waktu saat Dua Keluarga Politisi Berseteru




Penangkapan ini amat mungkin lebih disebabkan Duterte yang berada di pihak berseberangan dalam perseteruan antardua keluarga paling terkenal di Filipina. Di saat bersamaan, ICC tidak dapat melakukan penangkapan secara mandiri dan bergantung pada kerja sama pemerintah nasional untuk melaksanakan surat perintah.

Klan Duterte sebelumnya berada dalam aliansi dengan dinasti politik Marcos yang terkenal. Putri Duterte, Sara Duterte-Carpio, menjabat wakil presiden untuk Presiden Filipina saat ini, Ferdinand Marcos Jr. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, aliansi itu runtuh, jatuh ke penghinaan publik dan saling ejek.

Pada Oktober 2024, Duterte-Carpio menyampaikan berbagai keluhan terhadap presiden dalam konferensi pers yang disiarkan langsung selama 2 jam, mengatakan bahwa dia ‘ingin memenggal kepalanya’.

Lebih jauh, pada konferensi pers daring pada 23 November 2024, ia mengatakan telah menyewa seorang pembunuh untuk membunuh Marcos, istrinya, dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Martin Romualdez jika ia dibunuh. Ia menegaskan ancaman yang ia peringatkan bukanlah lelucon.

Marcos mengatakan Filipina akan ‘menghentikan’ kontak dengan ICC, karena Manila tidak mengakui kewenangannya dalam masalah kedaulatan negara. Hal itu disebabkan Duterte menarik Filipina dari pengadilan pada 2019. Namun, menurut mekanisme penarikan ICC, pengadilan tetap memiliki yurisdiksi atas kejahatan yang dilakukan selama periode keanggotaan negara tersebut.

Presiden Marcos mengatakan ia diwajibkan untuk mengikuti permintaan Interpol untuk menangkap Duterte. Marcos mengatakan Interpol meminta bantuan. Oleh karena itu, pemerintah Filipina mematuhi karena memiliki komitmen kepada Interpol yang harus mereka penuhi.

“Jika kami tidak melakukan itu, Interpol tidak akan membantu kami dalam kasus lain yang melibatkan buron Filipina di luar negeri," kata Marcos dalam konferensi pers larut malam setelah pesawat yang membawa Duterte lepas landas.(dwi)

Baca juga:

Duterte Akui Bertanggung Jawab atas Perang Narkoba, Siap Hadapi ICC


#Rodrigo Duterte #Mahkamah Pidana Internasional (ICC) #Filipina
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Pemerintah Filipina Ampuni Mantan Terpidana Mati Mary Jane Veloso, Janji Bantu Kehidupan dan Keluarganya
Departemen Pekerja Migran Filipina (DMW) memastikan akan mendampingi Mary Jane bersama keluarganya dalam proses kembali menjalani kehidupan di masyarakat.
Dwi Astarini - Senin, 28 September 2026
Pemerintah Filipina Ampuni Mantan Terpidana Mati Mary Jane Veloso, Janji Bantu Kehidupan dan Keluarganya
Indonesia
Mary Jane Veloso Akhirnya Bebas Setelah Dapat Pengampunan Mutlak dari Presiden Filipina Ferdinand
Istana juga menyebut salah satu hal yang menjadi perhatian dalam proses tersebut adalah pernyataan bahwa Mary Jane tidak melakukan kesalahan sebagaimana yang dituduhkan kepadanya.
Alwan Ridha Ramdani - Minggu, 27 September 2026
Mary Jane Veloso Akhirnya Bebas Setelah Dapat Pengampunan Mutlak dari Presiden Filipina Ferdinand
Dunia
Penembakan Sekolah Kembali Terjadi di Filipina, 3 Siswa Tewas
Penembakan terjadi di sebuah sekolah menengah di South Cotabato, Filipina selatan.
Yusuf Abdillah - Jumat, 18 September 2026
Penembakan Sekolah Kembali Terjadi di Filipina, 3 Siswa Tewas
Dunia
Kebakaran Kapal Feri di Filipina, 5 Tewas dan 87 Orang Hilang
Gambar dari lokasi kejadian menunjukkan kapal terbakar di lautan.
Dwi Astarini - Jumat, 11 September 2026
 Kebakaran Kapal Feri di Filipina, 5 Tewas dan 87 Orang Hilang
Dunia
Pengadilan Keluarkan Perintah Penangkapan Wakil Presiden Filipina, Hadapi 3 Dakwaan
Duterte, 48 tahun, menjadi wakil presiden ke-15 dan termuda di negara Asia Tenggara saat terpilih mendampingi Marcos pada 2022 untuk masa jabatan tetap enam tahun.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 04 September 2026
Pengadilan Keluarkan Perintah Penangkapan Wakil Presiden Filipina, Hadapi 3 Dakwaan
Dunia
Badai Muson Habagat Landa Filipina, 8 Orang Tewas dan 486 Ribu Orang Terdampak
setidaknya 124 ribu keluarga atau 486 ribu orang terdampak bencana akibat hujan lebat dan banjir di sejumlah wilayah Filipina hingga Minggu pukul 18:00 waktu setempat.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 10 Agustus 2026
Badai Muson Habagat Landa Filipina, 8 Orang Tewas dan 486 Ribu Orang Terdampak
Dunia
Beijing Tersinggung, Menhan Filipina dan Keluarganya Diblacklist Masuk China Termasuk Hong Kong
China melarang Gilberto Teodoro Jr, istri, dan anaknya memasuki wilayah China daratan, Hong Kong, maupun Makau.
Wisnu Cipto - Jumat, 12 Juni 2026
Beijing Tersinggung, Menhan Filipina dan Keluarganya Diblacklist Masuk China Termasuk Hong Kong
Dunia
21 Orang Tewas Akibat Bangunan Ambruk di Filipina
Pemerintah kota tengah menyelidiki penyebab insiden tersebut, kata para pejabat.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 03 Juni 2026
21 Orang Tewas Akibat Bangunan Ambruk di Filipina
Indonesia
Para Pimpinan ASEAN Berkumpul di Cebu Filipina
Filipina akan mendorong pembahasan terkait ketahanan energi di tengah krisis pasokan minyak global akibat konflik di Timur Tengah.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 07 Mei 2026
Para Pimpinan ASEAN Berkumpul di Cebu Filipina
Indonesia
Terbang ke Filipina Ikuti KTT, Presiden Prabowo Buka Peluang Kerja Sama Industri Nikel dengan Negara Asia Tenggara
Presiden Prabowo dijadwalkan menghadiri forum strategis untuk memperkuat konektivitas dan kerja sama ekonomi subkawasan ASEAN.
Dwi Astarini - Kamis, 07 Mei 2026
Terbang ke Filipina Ikuti KTT, Presiden Prabowo Buka Peluang Kerja Sama Industri Nikel dengan Negara Asia Tenggara
Bagikan