Kesehatan Mental

Resistensi Insulin Bisa Jadi Penyebab Depresi

Dwi AstariniDwi Astarini - Selasa, 07 Juni 2022
Resistensi Insulin Bisa Jadi Penyebab Depresi

Resistensi insulin merupakan proses saat sel menjadi kurang responsif terhadap hormon insulin. (freepik/xb100)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

RESISTENSI insulin merupakan masalah metabolisme dan masalah kesehatan mental. Namun, kebanyakan orang masih belum pernah mendengar tentang resistensi insulin. Padahal, retensi insulin merupakan satu-satunya kondisi kesehatan kronis paling umum.

Resistensi insulin merupakan proses saat sel menjadi kurang responsif terhadap hormon yang disebut insulin. "Karena reseptor insulin ditemukan di setiap sel dalam tubuh, seperti otot, lemak, organ, tulang, dan kulit, baik tidaknya sel merespons sinyal insulin sangat penting untuk perasaan dan fungsi tubuh," ujar Professor-in-Residence di Department of Psychiatry UC San Diego, AS Thomas Rutledge, PhD.

"Salah satu fungsi utama insulin ialah membantu tubuh mengontrol kadar gula darah dengan cara memasukkan kelebihan gula darah ke sel untuk disimpan. Proses ini terjadi setiap kali kamu makan," kata staf psikolog di San Diego Healthcare System tersebut.

BACA JUGA:

Atasi Depresi dengan Terapi Aktivasi Perilaku

Namun, karena insulin sangat penting untuk pengaturan gula darah, bahkan orang yang pernah mendengar tentang insulin atau resistensi insulin kebanyakan menganggapnya hanya sebagai masalah yang dialami pasien diabetes.

"Memang, ini sebagian benar. Pada orang dengan diabetes, sel-sel mereka menjadi sangat resisten terhadap insulin sehingga insulin tidak dapat lagi menjaga kadar gula darah mereka dalam kisaran yang sehat. Akibatnya, kadar gula darah menjadi tinggi, dengan konsekuensi bencana jika dibiarkan," ujarnya dalam artikel di Psychology Today.

Sayangnya, bahkan ketika seseorang dengan diabetes menerima pengobatan, itu tidak serta-merta memperbaiki resistensi insulin yang mendasarinya. Seseorang dapat menurunkan kadar gula darah sambil tetap resisten terhadap insulin, memberi mereka rasa aman yang salah tentang kesehatan mereka.

Pengaruh insulin pada kesehatan mental

depresi
Ketika kadar insulin meningkat secara kronis, jaringan otak juga menjadi resisten terhadap insulin. (freepik/wavebreakmedia_m)

Insulin memengaruhi setiap organ dalam tubuh, termasuk otak. Ketika kadar insulin meningkat secara kronis, jaringan otak juga menjadi resisten terhadap insulin. Konsekuensi dari ini banyak dan parah.

Misalnya, meskipun ilmu pengetahuan belum cukup kuat untuk membuat diagnosis resmi, banyak peneliti sekarang merujuk pada penyakit Alzheimer, yang mungkin merupakan hasil dari resistensi insulin jangka panjang di otak. Alzheimer merupakan bentuk demensia progresif dan fatal yang terkait dengan kehilangan memori yang parah, dikenal sebagai 'diabetes tipe 3' mengacu pada efeknya.

BACA JUGA:

Implan di Otak untuk Sembuhkan Depresi

Bagaimana hal ini terjadi? "Di antara efek lain yang masih diselidiki, resistensi insulin menghasilkan penumpukan plak amiloid, menyebabkan peradangan dan neurodegenerasi, dan mengganggu jaringan sinyal neuron," jelas Rutledge.

Ilmu pengetahuan yang berkembang pesat tentang resistensi insulin dan fungsi otak sekarang juga menunjukkan bahwa efeknya dapat melampaui demensia termasuk depresi. Depresi adalah suatu kondisi yang didefinisikan kumpulan gejala yang heterogen.

"Beberapa gejala klasik depresi, seperti kesedihan, rasa bersalah, bunuh diri, dan konsentrasi yang buruk, diyakini disebabkan disfungsi neurotransmiter yang disebut serotonin. Antidepresan populer seperti Prozac bekerja dengan meningkatkan fungsi serotonin di otak," terangnya.

Sebaliknya, gejala umum lain dari depresi seperti anhedonia (kurangnya motivasi atau minat), kelelahan, gangguan motorik, dan hilangnya dorongan seks lebih erat terkait dengan disfungsi neurotransmiter lain seperti dopamin dan norepinefrin. Menurutnya, ini merupakan area lain resistensi insulin menjadi sangat relevan.

Cara mengatasinya

depresi
Kurang tidur meningkatkan depresi karena manfaat tidur salah satunya mengurangi resistensi insulin (freepik/karlyukav)


"Selain efek neurokognitif tersebut terkait dengan demensia, resistensi insulin juga merusak fungsi dopamin dan menyebabkan disfungsi mitokondria di otak. Ketika resistensi insulin menjadi kronis dan lebih parah, hal itu juga menjadi semakin mungkin bermanifestasi dalam gejala somatik yang secara rutin kita kaitkan dengan depresi," ujarnya. Namun, karena gejala-gejala itu bukan akibat dari resistensi insulin. Baik psikoterapi maupun antidepresan konvensional tidak akan membantu.

Dalam kondisi tersebut, Rutledge menyarankan untuk membalikkan resistensi insulin. Resistensi insulin sangat bisa dibalikkan dengan perubahan gaya hidup. Bahkan tanpa penurunan berat badan, misalnya, olahraga teratur meningkatkan resistensi insulin.

Nutrisi bahkan lebih kuat. Kamu dapat mengurangi asupan gula, fruktosa, dan makanan ultra-olahan, misalnya, dapat meningkatkan sensitivitas insulin dalam beberapa hari hingga minggu.

Jika kamu tidak dapat mengubah apa yang kamu makan, strategi efektif lainnya ialah mengurangi makan. Bagi banyak orang, resistensi insulin mereka merupakan hasil dari makan dan ngemil yang sering sepanjang hari. Pola itu menyebabkan lonjakan insulin yang sering dan peningkatan kadar insulin kronis (secara teknis disebut hiperinsulinemia). Seiring waktu, kebiasaan tersebut menyebabkan resistensi insulin.

Bila penyebabnya demikian, puasa intermiten, dengan kamu mengonsumsi kalori dalam satu hingga dua kali makan sehari atau hanya selama durasi waktu terbatas di siang hari, meningkatkan resistensi insulin bahkan jika total asupan kalori dan pilihan makanannya sama. Terakhir, salah satu alasan kurang tidur meningkatkan depresi ialah karena manfaat tidur ialah mengurangi resistensi insulin.(aru)

BACA JUGA:

Atasi Depresi dengan 5 Gawai Canggih

#Kesehatan Mental
Bagikan
Ditulis Oleh

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).

Berita Terkait

ShowBiz
Yacko Rilis 'Unbreakable Me', Jadi Anthem Perempuan Bangkit dan Lawan Trauma
Yacko merilis 'Unbreakable Me', anthem tentang pemulihan kesehatan mental perempuan. Lagu ini juga jadi bagian kampanye di Sydney Marathon 2026.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 29 April 2026
Yacko Rilis 'Unbreakable Me', Jadi Anthem Perempuan Bangkit dan Lawan Trauma
Lifestyle
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Psikiater mengungkap stigma dan ejekan saat menstruasi bisa memicu tekanan mental. Perempuan didorong berani membela diri dan memahami kondisi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 23 April 2026
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Lifestyle
Bukan Sekadar PMS, PMDD Bisa Berdampak Serius hingga Picu Depresi Berat
PMDD adalah gangguan menjelang haid yang lebih berat dari PMS. Psikiater ingatkan gejalanya bisa picu depresi hingga butuh penanganan serius.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 21 April 2026
Bukan Sekadar PMS, PMDD Bisa Berdampak Serius hingga Picu Depresi Berat
Indonesia
Kemenkes Kritik Film ‘Aku Harus Mati’, Khawatirkan Perilaku Meniru
Menurut pihak Kemenkes, baliho itu berpotensi memicu peniruan tindakan bunuh diri, terutama di tengah tren kenaikan signifikan angka kematian di Indonesia.
Dwi Astarini - Selasa, 07 April 2026
Kemenkes Kritik Film ‘Aku Harus Mati’, Khawatirkan Perilaku Meniru
Indonesia
Promosi Film Horor "Aku Harus Mati" Dinilai Berdampak Buruk Bagi Kesehatan Mental Anak dan Remaja P
Sekitar 10 persen remaja mengalami gangguan kesehatan mental. Pada remaja dengan kerentanan psikologis seperti mereka, baliho film semacam "Aku Harus Mati" bisa memunculkan gagasan yang membahayakan.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 07 April 2026
Promosi Film Horor
Indonesia
Hasil CKG, Ratusan Ribu Anak Diketahui Alami Cemas dan Depresi
Saat ini pemerintah juga mempercepat pemenuhan tenaga psikolog klinis di Puskesmas yang jumlahnya masih terbatas,
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 09 Maret 2026
Hasil CKG, Ratusan Ribu Anak Diketahui Alami Cemas dan Depresi
Dunia
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Sekitar 2 persen orang dewasa di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental.
Wisnu Cipto - Kamis, 08 Januari 2026
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Olahraga
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Raphael Varane mengaku dirinya mengalami depresi saat masih membela Real Madrid. Ia menceritakan itu saat wawancara bersama Le Monde.
Soffi Amira - Rabu, 03 Desember 2025
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Indonesia
2 Juta Anak Alami Gangguan Kesehatan Mental, Kemenkes Buka Layanan healing 119.id Cegah Potensi Bunuh Diri
Kemenkes membuka layanan healing 119.id bagi warga yang mengalami stres, depresi atau memiliki keinginan bunuh diri.
Wisnu Cipto - Kamis, 30 Oktober 2025
2 Juta Anak Alami Gangguan Kesehatan Mental, Kemenkes Buka Layanan healing 119.id Cegah Potensi Bunuh Diri
Indonesia
Hasil Cek Kesehatan Gratis: 2 Juta Anak Indonesia Alami Gangguan Kesehatan Mental
Tercatat, ada sekitar 20 juta rakyat Indonesia didiagnosis mengalami gangguan kesehatan mental dari data pemeriksaan kesehatan jiwa gratis yang dilakukan.
Wisnu Cipto - Kamis, 30 Oktober 2025
Hasil Cek Kesehatan Gratis: 2 Juta Anak Indonesia Alami Gangguan Kesehatan Mental
Bagikan