Parenting

Punya Anak Bikin Kolot

Dwi AstariniDwi Astarini - Kamis, 20 Oktober 2022
Punya Anak Bikin Kolot

Motivasi pengasuhan orangtua bisa tinggi bahkan jika kamu tidak memiliki anak sendiri. (Foto: freepik/jcomp)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

EVOLUSI telah melengkapi orang dewasa, dalam tingkat yang berbeda, dengan kecenderungan untuk menganggap anak-anak lucu dan mengembangkan perasaan ingin membantu dan melindungi mereka.

Para peneliti menyebut dorongan untuk merawat dan melindungi anak-anak, bersedia terlibat dalam daftar panjang perilaku yang melelahkan dan mahal sebagai 'motivasi pengasuhan orangtua'. Motivasi pengasuhan orangtua bisa tinggi bahkan jika kamu tidak memiliki anak sendiri.

Lalu apa hubungannya ini dengan pandangan politik yang lebih konservatif? "Orang menginginkan masyarakat yang melindungi investasi mereka. Memiliki anak merupakan investasi dalam keluarga," ujar Director of the Primals Project Jer Clifton, PhD di University of Pennsylvania, AS.

BACA JUGA:

Kenali Sejumlah Persiapan Penting Sebelum Punya Anak

Orang yang menjadi orangtua rata-rata lebih termotivasi untuk bergantung kepada pasangannya untuk memastikan pengasuhan yang dapat diandalkan demi anak-anak dan kurang tertarik untuk memiliki teman kencan. Hal itu disebabkan waktu dan energi yang terbatas serta pengasuhan anak dapat mendorong kencan ke luar dari daftar prioritas.

parenting
Orang menginginkan masyarakat yang melindungi investasi mereka, dan memiliki anak adalah investasi dalam keluarga. (freepik/jcomp)

"Jadi orangtua mungkin menginginkan masyarakat di mana pergaulan bebas tidak dianjurkan dan keluarga dipromosikan. Banyak kebijakan sosial yang konservatif, misalnya, membatasi aborsi dan distribusi alat kontrasepsi, membuat perceraian menjadi lebih sulit, tampaknya ditujukan untuk melakukan hal itu," dia menjelaskan dalam artikelnya bersama Psikolog Peneliti Dr. Nicholas Kerry dari University of Pennsylvania di Psychology Today, Selasa (18/10).

Menjadi orangtua juga melibatkan merawat anak-anak yang rentan secara fisik, relatif tidak kompeten. Jadi orang tua mungkin tumbuh lebih sadar akan keselamatan, lebih memilih masyarakat dengan lebih sedikit orang yang mereka anggap mengancam dan lebih banyak orang dalam peran protektif.

Sekali lagi, ini mungkin membuat kebijakan sosial konservatif seperti hukuman pidana yang lebih keras, dan dukungan untuk polisi dan militer menjadi lebih menarik.

BACA JUGA:

Gara-Gara Sauna Pria Susah Punya Anak?

Studi baru mendukung

parenting
Peningkatan sementara motivasi pengasuhan orangtua melalui intervensi menyebabkan peningkatan konservatisme sosial. (freepik/jcomp)

Dalam sebuah studi baru di Proceedings of the Royal Society: B, para ahli memeriksa masalah ini secara empiris, menggunakan kombinasi metode korelasional dan eksperimental.

Seperti yang diperkirakan, orang dengan anak-anak mendapat skor lebih tinggi pada konservatisme sosial, bahkan ketika menyesuaikan hal-hal seperti usia, pendapatan, jenis kelamin, dan religiusitas.

"Kami pertama kali melihat sampel AS, tetapi kemudian mereplikasi temuan ini menggunakan data dari World Values Survey—kumpulan data besar yang terdiri dari 426.444 orang di 88 negara," jelas Clifton.

Mereka menemukan hubungan positif antara menjadi orangtua dan konservatisme sosial di sebagian besar negara. Ini termasuk negara kaya dan miskin dan negara dengan budaya dan agama yang berbeda.

Anehnya, usia itu sendiri bukanlah faktor. Untuk waktu yang lama, penelitian menunjukkan bahwa bertambahnya usia membuat orang lebih konservatif, sebagaimana tercermin dalam pepatah 'siapa pun yang tidak liberal pada usia 20 tidak memiliki hati, dan siapa pun yang tidak konservatif pada usia 30 tidak memiliki otak'.

"Namun, ketika kita mengontrol peran sebagai orangtua, orang yang lebih tua tidak lebih konservatif secara sosial daripada orang yang lebih muda. Hal yang penting menjadi orangtua," jelasnya.

Serangkaian eksperimen yang dapat lebih langsung menguji sebab-akibat menemukan bahwa peningkatan sementara motivasi pengasuhan orangtua melalui intervensi menyebabkan peningkatan konservatisme sosial.

"Intervensi itu sendiri melibatkan peserta penelitian yang berbicara tentang pengalaman pengasuhan anak yang positif atau interaksi dengan anak-anak sebelum menjawab kuesioner konservatisme sosial," kata Clifton.(aru)

BACA JUGA:

Mengapa Harus Nunda Punya Momongan?

#Parenting
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Menteri PPPA Soroti Pola Asuh di Era Digital, Anak Lebih Nyaman Curhat ke Teman
Survei Forum Anak di Jawa Tengah terhadap lebih dari 20 ribu anak menunjukkan 80 persen lebih nyaman curhat kepada teman dibanding orang tua.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 24 Agustus 2026
Menteri PPPA Soroti Pola Asuh di Era Digital, Anak Lebih Nyaman Curhat ke Teman
Lifestyle
AIMI Ingatkan Risiko Mitos Menyusui yang tidak Berbasis Bukti
Masyarakat diharapkan lebih kritis dalam menerima informasi, terutama yang disampaikan key opinion leader (KOL) atau figur publik.
Dwi Astarini - Jumat, 31 Juli 2026
AIMI Ingatkan Risiko Mitos Menyusui yang tidak Berbasis Bukti
Indonesia
DPR Nilai Penggunaan Gawai Anak sudah Lampaui Batas, Minta Sekolah Punya Aturan Jelas
Penggunaan perangkat digital yang berlebihan dapat mengurangi interaksi sosial hingga memengaruhi kesehatan mental peserta didik.
Dwi Astarini - Rabu, 29 Juli 2026
DPR Nilai Penggunaan Gawai Anak sudah Lampaui Batas, Minta Sekolah Punya Aturan Jelas
Lifestyle
Cara Batasi Waktu Bermain Roblox Anak: Panduan Parental Control dan Blokir Jaringan
Langkah sistematis ini memastikan batas waktu bermain berjalan otomatis tanpa perlu penyitaan perangkat secara fisik
Angga Yudha Pratama - Selasa, 28 Juli 2026
Cara Batasi Waktu Bermain Roblox Anak: Panduan Parental Control dan Blokir Jaringan
Fun
S-26 Exceptional Journey Hadir di Jakarta, Ajak Orang Tua Pahami Perkembangan Otak Anak
S-26 Exceptional Journey: Journey Inside The Brain menghadirkan pengalaman edukatif imersif yang mengajak orang tua memahami perkembangan anak.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 25 Juli 2026
S-26 Exceptional Journey Hadir di Jakarta, Ajak Orang Tua Pahami Perkembangan Otak Anak
Fun
Popok Tipis Anti Bocor Bantu Dorong Kebebasan Gerak dan Tumbuh Kembang Anak
MAKUKU perkenalkan popok comfort fit. Hadirkan teknologi SAP dan 360 Leak Protection, dirancang mendukung kebebasan gerak anak.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 12 Februari 2026
Popok Tipis Anti Bocor Bantu Dorong Kebebasan Gerak dan Tumbuh Kembang Anak
Lifestyle
Bunda, Coba deh Lavender & Chamomile untuk Tenangkan Bayi Rewel secara Alami
Lavender dan chamomile kerap menjadi pilihan utama dalam praktik mindful parenting.
Dwi Astarini - Minggu, 07 September 2025
Bunda, Coba deh Lavender & Chamomile untuk Tenangkan Bayi Rewel secara Alami
Fun
Liburan Bersama Anak di Kolam Renang: Seru, Sehat, dan Penuh Manfaat
Periode libur long weekend di Agustus ini jadi saat yang tepat untuk mengunjungi kolam renang.
Ananda Dimas Prasetya - Minggu, 17 Agustus 2025
Liburan Bersama Anak di Kolam Renang: Seru, Sehat, dan Penuh Manfaat
Indonesia
Tak hanya Melarang Roblox, Pemerintah Dituntut Lakukan Reformasi Literasi Digital untuk Anak-Anak
Perlu diiringi dengan edukasi yang mencakup tiga elemen kunci yakni anak, orangtua, dan tenaga pendidik.
Dwi Astarini - Jumat, 08 Agustus 2025
Tak hanya Melarang Roblox, Pemerintah Dituntut Lakukan Reformasi Literasi Digital untuk Anak-Anak
Lifestyle
Tak Melulu Negatif, Roblox Tawarkan Manfaat Pengembangan Kreavitas untuk Pemain
Orangtua juga perlu tahu bahwa ada sisi positif dari gim daring ini.
Dwi Astarini - Jumat, 08 Agustus 2025
 Tak Melulu Negatif, Roblox Tawarkan Manfaat Pengembangan Kreavitas untuk Pemain
Bagikan