EVOLUSI telah melengkapi orang dewasa, dalam tingkat yang berbeda, dengan kecenderungan untuk menganggap anak-anak lucu dan mengembangkan perasaan ingin membantu dan melindungi mereka.
Para peneliti menyebut dorongan untuk merawat dan melindungi anak-anak, bersedia terlibat dalam daftar panjang perilaku yang melelahkan dan mahal sebagai 'motivasi pengasuhan orangtua'. Motivasi pengasuhan orangtua bisa tinggi bahkan jika kamu tidak memiliki anak sendiri.
Lalu apa hubungannya ini dengan pandangan politik yang lebih konservatif? "Orang menginginkan masyarakat yang melindungi investasi mereka. Memiliki anak merupakan investasi dalam keluarga," ujar Director of the Primals Project Jer Clifton, PhD di University of Pennsylvania, AS.
BACA JUGA:
Orang yang menjadi orangtua rata-rata lebih termotivasi untuk bergantung kepada pasangannya untuk memastikan pengasuhan yang dapat diandalkan demi anak-anak dan kurang tertarik untuk memiliki teman kencan. Hal itu disebabkan waktu dan energi yang terbatas serta pengasuhan anak dapat mendorong kencan ke luar dari daftar prioritas.
"Jadi orangtua mungkin menginginkan masyarakat di mana pergaulan bebas tidak dianjurkan dan keluarga dipromosikan. Banyak kebijakan sosial yang konservatif, misalnya, membatasi aborsi dan distribusi alat kontrasepsi, membuat perceraian menjadi lebih sulit, tampaknya ditujukan untuk melakukan hal itu," dia menjelaskan dalam artikelnya bersama Psikolog Peneliti Dr. Nicholas Kerry dari University of Pennsylvania di Psychology Today, Selasa (18/10).
Menjadi orangtua juga melibatkan merawat anak-anak yang rentan secara fisik, relatif tidak kompeten. Jadi orang tua mungkin tumbuh lebih sadar akan keselamatan, lebih memilih masyarakat dengan lebih sedikit orang yang mereka anggap mengancam dan lebih banyak orang dalam peran protektif.
Sekali lagi, ini mungkin membuat kebijakan sosial konservatif seperti hukuman pidana yang lebih keras, dan dukungan untuk polisi dan militer menjadi lebih menarik.
BACA JUGA:
Studi baru mendukung
Dalam sebuah studi baru di Proceedings of the Royal Society: B, para ahli memeriksa masalah ini secara empiris, menggunakan kombinasi metode korelasional dan eksperimental.
Seperti yang diperkirakan, orang dengan anak-anak mendapat skor lebih tinggi pada konservatisme sosial, bahkan ketika menyesuaikan hal-hal seperti usia, pendapatan, jenis kelamin, dan religiusitas.
"Kami pertama kali melihat sampel AS, tetapi kemudian mereplikasi temuan ini menggunakan data dari World Values Survey—kumpulan data besar yang terdiri dari 426.444 orang di 88 negara," jelas Clifton.
Mereka menemukan hubungan positif antara menjadi orangtua dan konservatisme sosial di sebagian besar negara. Ini termasuk negara kaya dan miskin dan negara dengan budaya dan agama yang berbeda.
Anehnya, usia itu sendiri bukanlah faktor. Untuk waktu yang lama, penelitian menunjukkan bahwa bertambahnya usia membuat orang lebih konservatif, sebagaimana tercermin dalam pepatah 'siapa pun yang tidak liberal pada usia 20 tidak memiliki hati, dan siapa pun yang tidak konservatif pada usia 30 tidak memiliki otak'.
"Namun, ketika kita mengontrol peran sebagai orangtua, orang yang lebih tua tidak lebih konservatif secara sosial daripada orang yang lebih muda. Hal yang penting menjadi orangtua," jelasnya.
Serangkaian eksperimen yang dapat lebih langsung menguji sebab-akibat menemukan bahwa peningkatan sementara motivasi pengasuhan orangtua melalui intervensi menyebabkan peningkatan konservatisme sosial.
"Intervensi itu sendiri melibatkan peserta penelitian yang berbicara tentang pengalaman pengasuhan anak yang positif atau interaksi dengan anak-anak sebelum menjawab kuesioner konservatisme sosial," kata Clifton.(aru)
BACA JUGA: