MerahPutih.com - Sejak hari pertama penerapan makan bergizi gratis di Indonesia, ribuan anak sekolah telah menerima manfaatnya. Program ini secara resmi diluncurkan pada pekan lalu Senin (6/1) di 190 titik wilayah Indonesia.
Pada tahap awal Program MBG akan menyasar sekitar 3 juta penerima manfaat dalam tiga bulan pertama, dengan target meningkat menjadi 6 juta penerima pada tiga bulan berikutnya.
Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di seluruh Indonesia.
Program MBG perlu dilaksanakan secara berkelanjutan, sehingga bisa menghilangkan kemiskinan struktural dan kemiskinan kultural yang sudah menjadi budaya masyarakat.
Baca juga:
Dapat Makan Bergizi Gratis, Anak Sekolah Tetap Diberi Kesempatan ke Kantin di Jam Istirahat Kedua
"Kita sudah 70 tahun lebih merdeka dan silih berganti pemerintahan. Nah, program MBG dalam jangka panjang dapat menekan kemiskinan tersebut," kata Wakil Ketua umum DNIKS, Muhammad Lukman Edy kepada wartawan, Selasa (14/1).
Pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka memiliki pemikiran yang jauh ke depan hingga 2045 demi mengurangi kemiskinan lewat pendidikan.
"Animo masyarakat dan anak-anak terhadap program MBG ini juga antusias," ujarnya.
Ia mengapresiasi kinerja Mensos Syaifulah Yusuf atau Gus Ipul yang cepat melakukan sinergi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) demi mendukung program MBG.
"Pengurangan angka kemiskinan ini sejalan dengan program Kemensos, karena itu DNIKS siap berkoordinasi dan berkolaborasi," tuturnya.
Program MBG ini, kata ia, diharapkan bisa berkelanjutan, sehingga diperlukan adanya regulasi tersendiri untuk mengaturnya.
"Pilot projectnya memang kebanyakan anak-anak sekolah, tapi DNIKS berharap diperluaskan hingga ibu hamil dan menyusui," paparnya.
Mantan Menteri PDT itu menambahkan bahwa program MBG ini adalah program investasi yang bagus untuk mewujudkan generasi emas Indonesia seperti termaktub dalam visi 'Indonesia Emas 2045'.
Selain itu, kata dia, Program MBG juga akan berdampak pada pembentukan ekosistem sekolah yang baik seperti kesehatan anak didik.
"Kita harus berkolaborasi, mengajak banyak pihak untuk menyukseskan program MBG ini. Namun pemerintah harus terbuka demi perbaikan program," jelasnya.
Lukman berharap program MBG ini tidak hanya menyasar anak-anak di sekolah saja sebagai penerima manfaat, tetapi juga anak-anak di luar sekolah, karena kemiskinan mereka tidak bisa sekolah.
"Jadi ini harus menjadi program yang terintegrasi dengan kementerian/lembaga terkait," katanya.(Pon)

