Peneliti Formappi Menilai Tuduhan Keterlibatan DPR dalam Kasus e-KTP Logis
Aksi damai di depan gedung KPK. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus tidak heran dengan munculnya nama-nama anggota Dewan yang disebut dalam dakwaan kasus korupsi KTP elektronik atau e-KTP. Menurutnya, tuduhan Jaksa sangat masuk akal.
Peneliti Fungsi Legislasi Formappi ini menjelaskan, bahwa nama sejumlah anggota DPR yang disebut dalam persidangan kasus dugaan korupsi e-KTP dilatari dengan alasan dan latar belakang yang jelas. Dia menilai sangat logis bila sejumlah nama tersebut muncul di dalam dakwaan Jaksa KPK.
"Orang-orang ini pada masa e-KTP dibahas di DPR ada di Komisi II DPR yang berwenang membahas itu dan juga di Banggar (Badan Anggaran). Jadi dari soal ini, latar belakang yang disebut belakangan dalam kasus e-KTP ini logis semuanya," jelas Lucius di Jakarta, Minggu (19/3).
Menurut dia, perilaku anggota DPR yang selama ini kerap mempermainkan anggaran itu sudah biasa.
"Kita tahu misalnya, proyek penyimpangan infrastruktur yang melibatkan anggota DPR, sama juga modusnya. Kita wajib untuk meragukan orang-orang yang namanya disebut dalam dakwaan jaksa ketika melakukan klarifikasi," sambung Lucius.
Dia menilai, anggaran yang dikorupsi berjamaah dalam kasus e-KTP senilai Rp2,3 triliun ini jumlah yang besar. Sangat masuk akal, tambah Lucius, bila uang sebesar itu dibagikan ke banyak orang.
"Satu komisi bisa mendapatkan sampai ratusan miliar. Itu kan saya kira sangat wajar dan kalau mereka mengklarifikasi sekarang ramai-ramai mengatakan tidak terlibat, lalu mengalir ke siapa duit Rp2,3 triliun itu?" tegasnya.
Seperti diketahui, dalam dakwaan KPK menyebut sejumlah nama legislator menerima aliran dana dari proyek e-KTP. Jumlah yang diterima sangat fantastis nilainya. Total 60 anggota DPR RI menerima uang bancakan korupsi KTP elektronik Rp2,3 triliun dari nilai proyek Rp5,9 triliun.
KPK telah menetapkan dua tersangka Irman dan Sugiharto. Irman adalah bekas Direktur Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil Kemendagri. Sementara, Sugiharto adalah bekas Direktur Pengelola Informasi Administrasi Kependudukan Ditjen Dukcapil Kemendagri sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen.
Dalam dakwaan disebutkan Irman menerima aliran dana sejumlah Rp2.371.250.000, USD877.700, SGD6.000 Dolar Singapura sedangkan Sugiharto menerima sejumlah USD3.473.830. (Pon)
Bagikan
Berita Terkait
Camat di Medan Main Judol Pakai Uang Pemda Rp 1,2 Miliar, Komisi II DPR: Harus Dipecat dari ASN
Komisi II DPR Nilai Kunjungan Prabowo ke IKN Bawa Pesan Politik Keberlanjutan
Ketua Komisi II DPR: Wacana Pilkada Lewat DPRD Belum Masuk Prolegnas
Komisi II DPR Nilai Retret Kabinet di Hambalang Jadi Forum Evaluasi dan Penguatan Soliditas Pemerintah
Presiden Gelar Retret Kedua, DPR: Momen Evaluasi Kinerja dan Penguatan Soliditas Kabinet
Ketua Komisi II DPR Tegaskan Pilkada lewat DPRD Sah secara Konstitusi dan tak Bertentangan UUD 1945
Formappi Tagih KPK Tahan Dua Anggota DPR dalam Kasus CSR BI-OJK
Berangkat Umrah saat Dilanda Bencana, Komisi II DPR Minta Mendagri Tindak Tegas Bupati Aceh Selatan
Masa HGU di IKN Dipangkas, Komisi II DPR Dorong Kajian Regulasi Tanpa Ganggu Investasi
Respon Putusan MK Soal HGU IKN, Komisi II DPR Dorong Prabowo Terbitkan Perppu