Pemuda Tangguh: Berani Beli Rumah Meskipun Sempat Diremehkan Bank

Iftinavia PradinantiaIftinavia Pradinantia - Minggu, 03 Oktober 2021
Pemuda Tangguh: Berani Beli Rumah Meskipun Sempat Diremehkan Bank

Pemuda tangguh berani ambil rumah (Foto: ist)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KEBUTUHAN primer manusia ada tiga; sandang (pakaian), pangan (makanan) dan papan (rumah). Untuk generasi milenial semua tampak sederhana. Hobi shopping baju, kulineran setiap akhir pekan tidak menjadi persoalan. Tetapi tidak dengan membeli rumah. Kebutuhan papan masih ditangguhkan oleh sebagian besar generasi muda.

Ada berbagai alasan yang membuat mereka pikir-pikir atau bahkan enggan membeli rumah. Mulai dari harga tanah yg kian melejit dari tahun ke tahun hingga ketidakmampuan generasi muda dalam mengatur finansialnya menyisihkan sedikit untuk KPR membuat mereka ogah beli rumah. Belum lagi sebuah fakta bahwa rumah yang mampu dibeli oleh generasi milenial adalah rumah tipe sederhana dan di radius 30 hingga 50 kilometer dari pusat kota, kantor mereka.

Baca Juga:

Pemuda Negeri Aing Penuh Perjuangan untuk Keluar dari Hubungan Toxic

KPR
Akbarry di depan rumahnya yang masih dibangun (Foto: ist)

Mereka lebih nyaman untuk sewa rumah, apartemen, atau bahkan ngekos. Padahal, sekarang developer sudah memberi kemudahan dalam membeli rumah lewat KPR. Tetap saja itu tidak membuat mereka bergeming untuk membeli rumah.

Berbeda dengan Akbarry Noor. Meski masih muda dan lajang, pemuda berusia 28 tahun tersebut berani ambil KPR. Dia terima segala konsekuensi dan tanggungjawab demi sebuah rumah impian. Uniknya, Barry demikian ia biasa disapa justru mengambil keputusan untuk membeli rumah saat sedang galau.

"Jadi waktu itu gue putus sama pacar terlama gue. Gue tuh ngerasa kayak enggak ada tujuan hidup. Bangun tidur rasanya kosong. Pokoknya You know lah gimana rasanya abis ancur kan. Akhirnya, keinget jaman gua kecil tuh gua pingin banget punya rumah sendiri dan belajar tinggal sendirian sebelum menikah," kisahnya.

Dari momen tersebut, Akbarry beberapa kali berkunjung ke pameran rumah, rumah percontohan, dan lain-lain sendirian.

Namun perjalanan Akbarry dalam menentukan rumah idamannya tidak berjalan mulus. Dalam perjalanannya menemukan rumah pertamanya, dia sempat tersandung dan mengalami kerugian besar. Alih-alih memikirkannya secara matang, dia sempat memutuskan membeli rumah dengan gegabah tiga tahun yang lalu.

"Sebagai Aries gue tuh impulsif banget. Jadi sebelum rumah yang sekarang. Gua tuh udah pernah bayar uang tanda jadi ke perumahan yang menurut gua instagramable banget lah," ungkapnya.

Baca Juga:
RUMAH
Perjalanan Akbarry menemukan rumah idaman tidak selalu berjalan mulus (Foto: ist)

Dua minggu setelah ia membayar rumah pertamanya, dia memutuskan untuk bercerita pada kedua orang tuanya. Sayangnya, reaksi kedua orang tuanya tidak sesuai harapannya. "Ketika gue cerita ke mereka, akhirnya nyokap sama bokap mampirlah buat lihat lokasinya. Pulang dari sana, gua disuruh batalin. Kesel dong gue. Kan rumah gue, duit gue. Ternyata banyak perspektif dari orang tua yang kita sebagai anak muda tuh enggak lihat," urainya.

Yang menjadi penilaian kedua orang tuanya saat itu yakni lokasi rumahnya yang tidak strategis, lingkunganya yang kurang baik untuk jangka panjang, dan lain-lain. "Terpaksa dibatalin meskipun bangunan dan desainnya gua suka. Ya gitu namanya juga bocah, dahuluin ego. Enggak mikir panjang. Gue cuma mikir ini buatan arsitek favorit gue dan instagramable. Dah itu aja." Ketidaksetujuan orang tua membuat dia harus merelakan uangnya sebesar Rp10 juta hangus begitu saja.

Dari hal tersebut, ia pun mendapatkan pelajaran berharga. "Mungkin ini saran juga buat anak muda di luar sana. Jangan mau terbuai dengan kehidupan estetik nan fana. hahaha," kelakarnya.

Baca Juga: Pemuda Penyintas Autoimun Negeri Aing Hapus Stigma Negatif Psoriasis Lewat Kampanye Se-Asia Tenggara

rumah
Cari rumah bukan hanya bermodalkan aesthetic (Foto: ist)

Selang dua bulan kemudian, akhirnya dia menemukan satu perumahan baru di kawasan Summarecon Bekasi yang cocok dengan dirinya. "Gue pilih daerah yang enggak jauh dari rumah nyokap karena gua belajar dari orang tua gua yang rumahnya jauh sama nenek gua. Hal ini bikin silatuhrahmi jadi jarang terjadi," tuturnya.

Setelah menemukan rumah yang sesuai dengan dirinya, Akbarry pun menemukan kendala lainnya saat pengajuan KPR. "Untuk proses KPR juga cukup drama Karena kerjaan gue dianggap enggak menjanjikan di mata bank," katanya serius.

Ia pun harus merasakan pahitnya penolakan dari empat bank. Beruntung akhirnya ada bank yang mau menerima pengajuan KPRnya meskipun waktunya dekat sama deadline. "Ngeri banget asli. Kalau sudah deadline KPR gue enggak disetujuin sama bank, duit uang tanda jadi, DP 20% bisa angus. Hal, ini yang baru gue pelajari di momen itu," katanya serius.

Dia menguraikan harus mendatangi ke tujuh bank berbeda. Dari tujuh bank ada tiga bank yang menyetujui. Ia pun membandingkan dengan yang paling masuk akal untuknya. "Prosesnya cukup panjang dan bikin stres karena gua orangnya tuh berantakan banget soal filing dan lain-lain. Belum lagi banyak bank yang anggap kerjaan gue tuh enggak ada prospeknya."

Dari tiga bank yang setuju itu sangat membantunya dan analis banknya sangat menolong dirinya. Dia diminta semua bukti pemasukan termasuk berbagai bentuk hasil pekerjaannya. "Bahkan banyak kerjaan yang dari temelan. Akhirnya gua bikin lagi kontraknya dan gua kasih ke bank sebagai bukti hasil kerjaan gue. Karena dulu gue enggak pernah aware sama hal ini. Asal transferan lancar aja orangnya. Sebelumnya mana ngerti hal ginian. Gue kalau ada waktu senggang mendingan nonton Netflix ye enggak?" katanya tersenyum.

Baca Juga:
RUMAH
Pengalaman barunya kelabakan ajukan KPR (Foto: ist)

Setelah proses pengajuan KPR disetujui, perjalanan Barry untuk menyicil rumah idaman pun dimulai. "Beruntung gue bukan perokok dan peminum kopi. Hal ini cukup ngebantu gua untuk lebih berhemat. Terus gua juga enggak punya pacaran, jadi cost yang dikeluarin lebih kecil buat hidup sehari-hari," jelasnya.

"Gue tuh biasanya hidup dengan 10 sampai 20% dari income. Jadi walaupun penghasilan meningkat. Gaya hidup gue enggak meningkat. Terus gua ngusahain untuk rasio cicilan di angka 30% dari total pendapatan. Lalu, banyakin investasi ke orang tua. Bikin seneng orang tua tuh, kadang ada aja rejekinya. Terakhir, gua juga nerapin prinsip hidup minimalis di dua tahun terakhir," urainya.

Ada yang didapat, ada yang dikorbankan. Demikian pula yang dialami olehnya. Di saat ia melihat postingan teman-temannya yang pergi travelling dia enggak kemana-mana. Selain itu, dia juga kehilangan banyak waktu untuk bersosialisasi dengan teman-teman.

"Di tahun pertama gua ambil KPR tuh gue kerjanya cukup gila. Jadi gua kerja office hour dari Bekasi ke Grogol. Lanjut malamnya siaran sampai jam dua pagi. Itu rutinitas gua di hari kerja. Kalau di akhir pekan, gua full jadi MC acara-acara gitu. Jadi benar-benar enggak ada social life," bebernya.

Baca Juga:
RUMAH
Keseruannya di rumahnya sendiri (Foto: instagram@shuttetcrepes)

Di balik semua pengorbanan, ia mengaku dirinya bebas melakukan apapun di daerah teritorialnya. "Enaknya punya rumah sendiri bisa bebas sendiri. Gua bisa seharian enggak pakai baju di rumah hehe."

Selain itu, ia pun bisa menginspirasi banyak orang dengan menjadi narasumber di sejumlah acara properti. "Gue juga jadi bintang iklan Summarecon."

Ia pun membagikan tips untuk milenial dan generasi muda lainnya yg ingin ambil KPR. Menurutnya yang utama adalah persiapkan diri semantang mungkin. Lupakan tekanan sosial dan yakinlah bahwa setiap orang punya timeline masing-masing.

"Terus kalau bisa rapihin semua pembayaran kartu kredit paling enggak enam bulan terakhir. Supaya pas proses BI Checking nantinya lancar. Ambil rumah sesuai sama kebutuhan kita. Jangan ambil rumah karena cari validasi dari orang sekitar atau sosial media. Kalau semua list di atas sudah dipersiapin bismillah semoga lancar dan bisa ambil. Apalagi kalau sudah punya pasangan, nantinya bisa joint income, jadinya cicilan bakal lebih ringan," katanya berbagai tips. (avia)

Baca Juga:
#Oktober Pemuda Jagoan Negeri Aing #KPR #Model Rumah #Rumah Murah #Rumah Mewah #Perumahan #Rumah.com #Rumah #DP Rumah
Bagikan
Ditulis Oleh

Iftinavia Pradinantia

I am the master of my fate and the captain of my soul

Berita Terkait

Indonesia
Korban Bencana Sumatera Dapat Uang Kompensasi Rumah Rp 15-60 Juta, Tergantung Kerusakan
Untuk kategori rumah rusak berat kompensasi yang dianggarkan mencapai Rp 60 juta per kepala keluarga korban bencana Sumatera
Wisnu Cipto - Sabtu, 10 Januari 2026
Korban Bencana Sumatera Dapat Uang Kompensasi Rumah Rp 15-60 Juta, Tergantung Kerusakan
Indonesia
Kejagung Selamatkan Rp 6,6 Triliun, Prabowo: Bisa Bangun 100 Ribu Rumah untuk Korban Bencana
Kejagung berhasil menyelamatkan Rp 6,6 triliun. Presiden RI, Prabowo Subianto mengatakan, uang itu bisa membangun 100 ribu rumah untuk korban bencana.
Soffi Amira - Rabu, 24 Desember 2025
Kejagung Selamatkan Rp 6,6 Triliun, Prabowo: Bisa Bangun 100 Ribu Rumah untuk Korban Bencana
Indonesia
270.985 Unit Rumah FLPP Terserap Warga di 2025, Tertinggi Sejak 2010
Penyaluran dana ini disalurkan melalui 39 bank penyalur dengan rumah yang dibangun oleh 8.058 pengembang yang terdiri dari 13.118 perumahan.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 24 Desember 2025
270.985 Unit Rumah FLPP Terserap Warga di 2025, Tertinggi Sejak 2010
Indonesia
Bangun 2.000 Rumah untuk Korban Banjir Sumatra, DPR Minta Pemda Gerak Cepat
Pemerintah bakal bangun 2.000 rumah untuk korban banjir Sumatera. DPR pun meminta Pemda setempat agar bergerak cepat.
Soffi Amira - Rabu, 17 Desember 2025
Bangun 2.000 Rumah untuk Korban Banjir Sumatra, DPR Minta Pemda Gerak Cepat
Indonesia
Kabar Gembira, Kuota Rumah Subsidi Bagi Tenaga Kesehatan Ditambah 5 Ribu Unit
Pemerintah akan membuka berbagai skema pembiayaan agar akses kepemilikan rumah bagi tenaga kesehatan semakin mudah.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 12 November 2025
Kabar Gembira, Kuota Rumah Subsidi Bagi Tenaga Kesehatan Ditambah 5 Ribu Unit
Indonesia
PSI Desak Gubernur Pramono Ubah Aturan BPHTB, Era Anies Digratisiskan Rumah di Bawah Rp 2 Miliar
Kebijakan terbaru Pemerintah DKI itu tidak memberikan keringanan sama sekali apabila dibandingkan dengan kebijakan sebelumnya dalam Peraturan Gubernur (Pergub) No. 23/2023
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 12 November 2025
PSI Desak Gubernur Pramono Ubah Aturan BPHTB, Era Anies Digratisiskan Rumah di Bawah Rp 2 Miliar
Indonesia
KPR Masih Dominasi Pembelian Rumah di Indonesia
Pembelian rumah primer melalui pembayaran tunai bertahap dan tunai masing-masing memiliki pangsa sebesar 17 persen dan 8,59 persen.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 06 November 2025
KPR Masih Dominasi Pembelian Rumah di Indonesia
Indonesia
Begini Cara UMKM Akses Kredit Program Perumahan Buat Penuhi Target 3 Juta Rumah
Setidaknya ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi oleh UMKM maupun masyarakat untuk bisa mendapatkan KPP.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 24 Oktober 2025
Begini Cara  UMKM Akses Kredit Program Perumahan Buat Penuhi Target 3 Juta Rumah
Indonesia
Setahun Prabowo-Gibran: Program Makan Gratis Prabowo Disorot Tajam, Dianggap Sebagai 'Nasi yang Belum Matang Sempurna'
Kekuatan tanpa partisipasi hanya akan melahirkan efisiensi semu
Angga Yudha Pratama - Selasa, 21 Oktober 2025
Setahun Prabowo-Gibran: Program Makan Gratis Prabowo Disorot Tajam, Dianggap Sebagai 'Nasi yang Belum Matang Sempurna'
Indonesia
Masih Dibangun, Jokowi Belum Tempati Rumah Hadiah Negara Setelah 1 Tahun Lengser
Mantan Wali Kota Solo ini mendapatkan rumah pensiun hadiah dari negara di bangun di atas lahan seluas 12.000 meter persegi.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 21 Oktober 2025
Masih Dibangun, Jokowi Belum Tempati Rumah Hadiah Negara Setelah 1 Tahun Lengser
Bagikan