MerahPutih.com - DPP PDI Perjuangan (PDIP) memperingati 71 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) dengan menggelar seminar nasional di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
Acara yang menghadirkan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri sebagai keynote speech ini mengangkat tema Relevansi Gerakan Asia Afrika dalam Krisis Geopolitik Saat Ini.
Konferensi Asia Afrika yang digelar 18-24 April 1955 di Bandung, bagi PDIP, merupakan warisan paling gemilang dari Presiden Soekarno.
"Bung Karno sebagai pendiri bangsa, proklamator, penggali Pancasila, dan Bapak Bangsa Indonesia," kata Ketua DPP PDIP Ahmad Basarah
Baca juga:
Buka Sekolah Partai, Megawati Minta Kader PDIP Turun ke Rakyat dan Jaga Integritas
Melalui KAA, Bung Karno membuktikan bahwa bangsa Asia dan Afrika memiliki hak menentukan masa depannya sendiri tanpa intervensi kolonial dan imperialis. Basarah mengutip langsung pidato Bung Karno yang menggugah: "Lahirkanlah Asia Baru dan Afrika Baru."
Basarah juga menegaskan bahwa Bung Karno menyatakan kemerdekaan dan perdamaian adalah dua hal tak terpisahkan.
"Perdamaian adalah prasyarat bagi kemerdekaan, sebab tanpa perdamaian, kemerdekaan akan kehilangan makna dan nilainya," ujarnya.
Ia mengingatkan, kolonialisme belum sepenuhnya berakhir, melainkan bertransformasi menjadi neo-kolonialisme dalam bentuk dominasi ekonomi, ketergantungan teknologi, dan tekanan geopolitik.
Basarah menyoroti krisis global seperti konflik bersenjata, rivalitas AS-Tiongkok, perang Rusia-Ukraina, agresi militer AS-Israel terhadap Iran, penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, hingga blokade AS terhadap Kuba.
Ia mengungkapkan, Bung Karno telah meramalkan ketidakstabilan akibat kapitalisme dan imperialisme sejak dekade 1920-an.
Dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi (1964), Bung Karno menyebut imperialisme sebagai wujud paling agresif dari kapitalisme.
"Runtuhnya kolonialisme lama tidak berarti berakhirnya imperialisme. Imperialisme akan terus berganti wajah, berganti strategi, dan berganti instrumen," tuturnya.
Hadir dalam acara tersebut Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Kepala Badan Sejarah Indonesia PDIP Bonnie Triyana, serta para narasumber seperti Prof Hikmahanto (Pakar Hubungan Internasional), Dr. Dina Sulaeman (Pakar Timur Tengah), Andi Widjayanto (Eks Gubernur Lemhanas), dan Heri Akhmadi (mantan Dubes Jepang). Acara ini juga dihadiri anggota DPR Fraksi PDIP dan sejumlah aktivis, antara lain Direktur Amnesty International Indonesia Usman Hamid. (*)