Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1

Catatan Jurnalis saat Peristiwa Kudatuli: Sensor Ketat Militer dan Larangan Nama Megawati Soekarnoputri

Dwi AstariniDwi Astarini - Senin, 20 Juli 2026
Catatan Jurnalis saat Peristiwa Kudatuli: Sensor Ketat Militer dan Larangan Nama Megawati Soekarnoputri

Catatan Jurnalis saat Peristiwa Kudatuli: Sensor Ketat Militer dan Larangan Nama Megawati Soekarnoputri

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM - SEJUMLAH mantan jurnalis dan sejarawan membagikan catatan mengenai ketatnya represi dan sensor militer terhadap media massa di era Orde Baru, khususnya menjelang dan setelah Peristiwa 27 Juli 1996 atau yang dikenal sebagai Peristiwa Kudatuli.

Salah satu bentuk represi yang paling nyata yakni adanya larangan bagi media untuk menulis nama ‘Megawati Soekarnoputri’. Para jurnalis kala itu dipaksa mengubah nama tersebut menjadi 'Megawati Taufiq Kiemas' sebagai bagian dari upaya penghilangan pengaruh Sukarno oleh penguasa.

Kisah-kisah tersebut diungkapkan dalam diskusi bertajuk 30 Tahun Kudatuli, dalam catatan Wartawan: Refleksi Perjuangan Wartawan, Merekam Kebenaran dan Menjaga Independensi yang digelar di Kedai Tempo, Jakarta, Minggu (19/7).

Mantan jurnalis harian Bernas, Willy Pramudya, menceritakan bagaimana Peristiwa Kudatuli menjadi salah satu puncak ketegangan politik nasional.

Baca juga:

Peringati 29 Tahun Peristiwa 'Kudatuli', PDIP: Tanpa 27 Juli, Tidak Ada Reformasi



Pada masa itu, kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro menjadi pusat perhatian publik sekaligus pengawasan ketat dari aparat intelijen. Willy mengungkapkan, di tengah ketatnya tekanan rezim, media kerap melakukan pelapisan sensor mandiri (self-censorship) karena besarnya risiko keamanan. Salah satunya yakni pemaksaan penggunaan nama Megawati Taufiq Kiemas.

"Kami tidak boleh, misalnya, menggunakan nama Megawati Soekarnoputri. Kami dikumpulkan di sebuah hotel berdekatan Tanah Abang sana, supaya kami menulisnya Megawati Taufiq Kiemas," ujar Willy.

Hal tersebut menunjukkan bagaimana rezim penguasa berupaya menuntun produk jurnalistik agar sesuai dengan kemauan politik mereka, termasuk dalam hal penggunaan diksi.

Willy, mantan jurnalis harian Bernas



Selain kontrol diksi, Willy juga mengenang intimidasi harian yang dilakukan pihak militer melalui Kapendam Jaya saat itu, Panggih. Menurutnya, aparat militer kerap mendatangi ruang redaksi untuk memeriksa komputer jurnalis secara langsung.

"Setiap saat datang ke kantor, masuk ke kantor lalu melihat komputer satu per satu. Wartawan yang belum mematikan komputer akan ditegur, 'Ini jangan ditulis ya, ini judulnya jangan seperti ini'," kenang Willy.

Sementara itu, mantan jurnalis koran militer Berita Yudha, Widiarsi Agustina, turut membagikan pengalamannya bekerja di bawah ekosistem pers tentara yang saat itu menjadi alat kekuasaan. Meski berada di lingkungan militer, ia dibimbing mentor wartawan senior, mendiang Valens Goadoy, untuk tetap memegang prinsip jurnalisme yang berpihak kepada rakyat.

Widiarsi menceritakan bagaimana ketatnya pengawasan intelijen di sekitar Mimbar Demokrasi di halaman DPP PDI menjelang Kudatuli. Ia menyebut intelijen menyamar di berbagai sudut, mulai dari dekat kotak sumbangan hingga dapur redaksi untuk memantau pergerakan informasi.

Tekanan berat juga dirasakannya dari Kapendam. Widiarsi membenarkan pihak militer secara aktif mendikte diksi pemberitaan agar nama 'Sukarno' tidak muncul dalam media.

"Megawati itu dilarang menggunakan kata Sukarno. Waktu itu, kami paham belakangan karena memang ada usaha penghapusan pengaruh Sukarno. Jadi semua nama Megawati itu harus pakai nama Megawati Taufiq Kiemas," kata Widiarsi.

Bahkan, jika PDI merilis dokumen resmi dengan tanda tangan Megawati Soekarnoputri, pihak redaksi dipaksa menulisnya sebagai Megawati Soekarno Taufiq Kiemas.

Selain diksi, pihak militer secara rinci menghitung porsi pemberitaan mengenai PDI di media cetak nasional. Jika jumlah kolom berita atau penayangan gambar di televisi dinilai terlalu banyak, pihak militer akan langsung menelepon pemimpin redaksi untuk meminta pengurangan porsi.

"Lama-lama tentara itu tugasnya menghitung. Menghitung jumlah berita di Media Indonesia, di Kompas. Kompas itu kalau berita sambungannya di belakang lebih dari empat kolom saja, mereka sudah menegur," jelasnya.

Sementara itu, sejarawan Bonnie Triyana menilai Peristiwa Kudatuli memegang peranan penting dalam membuka jalan mobilitas politik vertikal bagi masyarakat setelah Pemilu 1999. Peristiwa tersebut menjadi salah satu milestone penting bersamaan dengan pembredelan media dan pemberangusan aktivis menjelang reformasi.

Bonnie membandingkan pola represi terhadap media yang terjadi pada masa Orde Baru dengan masa kini. Jika dahulu pemerintah menggunakan cara-cara vulgar seperti pembredelan langsung, saat ini polanya telah bergeser menjadi lebih halus, tapi tetap mengancam independensi.

Ia menekankan pentingnya mengingat kembali peristiwa sejarah seperti Kudatuli agar pola-pola represi serupa tidak terulang di masa kini, serta untuk menjaga agar kebebasan pers dan independensi jurnalisme tetap terawat.

"Kalau dulu pemerintah bisa langsung bredel. Sekarang polanya lain lagi, ditelepon, atau aliran ekonominya ditutup, iklan ditutup, atau diteror yang lebih vulgar lagi seperti dikirimi kepala babi atau mobilnya dilempari," papar anggota DPR RI ini.(Pon)





Baca juga:

Lewat Peringatan Kudatuli PDIP Ingatan Kader Soal Serangan Otoriter ke Partai








#PDIP #Megawati Soekarnoputri #Kudatuli
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Catatan Jurnalis saat Peristiwa Kudatuli: Sensor Ketat Militer dan Larangan Nama Megawati Soekarnoputri
Sebagai bagian dari upaya penghilangan pengaruh Sukarno oleh penguasa.
Dwi Astarini - Senin, 20 Juli 2026
Catatan Jurnalis saat Peristiwa Kudatuli: Sensor Ketat Militer dan Larangan Nama Megawati Soekarnoputri
Indonesia
PDIP Tagih Jawaban BGN soal Data Kader Diduga Ikut Proyek MBG
PDIP kirim surat setelah adanya pernyataan dari petinggi BGN yang menyebut hampir seluruh partai politik terlibat dalam pengadaan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Frengky Aruan - Minggu, 19 Juli 2026
PDIP Tagih Jawaban BGN soal Data Kader Diduga Ikut Proyek MBG
Indonesia
BBHAR PDIP Gugat Zulfan Lindan dan Total Politik terkait Tudingan Kerusuhan Agustus
Gugatan tersebut diajukan setelah pihaknya terlebih dahulu menempuh mekanisme penyelesaian sengketa pers melalui Dewan Pers.
Dwi Astarini - Kamis, 16 Juli 2026
BBHAR PDIP Gugat Zulfan Lindan dan Total Politik terkait Tudingan Kerusuhan Agustus
Indonesia
Dubes Korsel Bertemu Megawati di Teuku Umar, Bahas Upaya Perdamaian Korea
Dubes Korea sangat mengapresiasi perhatian Megawati atas persoalan di Semenanjung Korea.
Dwi Astarini - Senin, 13 Juli 2026
Dubes Korsel Bertemu Megawati di Teuku Umar, Bahas Upaya Perdamaian Korea
Indonesia
Bupati Sukoharjo Etik Suryani Jadi Tersangka, PDIP: kalau OTT, ya Langsung Dipecat
Ketua DPP PDIP Deddy Sitorus mengatakan partainya memiliki aturan yang jelas terhadap kader yang tertangkap melalui OTT.
Dwi Astarini - Minggu, 12 Juli 2026
Bupati Sukoharjo Etik Suryani Jadi Tersangka, PDIP: kalau OTT, ya Langsung Dipecat
Indonesia
Megawati Terima Penghargaan Tertinggi Timor Leste, Kenang Pertama Kali ke Dili
Megawati membandingkan pengorbanan masa muda Xanana Gusmao yang dipanggil 'Maun Xanana' dengan ayahnya sendiri, Bung Karno, yang harus menghabiskan total 22 tahun hidupnya keluar-masuk penjara
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 09 Juli 2026
Megawati Terima Penghargaan Tertinggi Timor Leste, Kenang Pertama Kali ke Dili
Indonesia
Ramos-Horta Beri Penghargaan Grande Colar da Ordem de Timor-Leste untuk Megawati, Pidato dan Candanya di Dili Jadi Sorotan
Megawati Soekarnoputri menerima Grande Colar da Ordem de Timor-Leste. Presiden José Ramos-Horta memuji perannya dalam memperkuat hubungan bilateral kedua negara.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 09 Juli 2026
Ramos-Horta Beri Penghargaan Grande Colar da Ordem de Timor-Leste untuk Megawati, Pidato dan Candanya di Dili Jadi Sorotan
Indonesia
Puan Tegaskan Sikap PDIP Tidak Abu-Abu, Jelas!
Partai politik yang berada di barisan pemerintah menghormati semua pendapat dan pandangan yang berbeda. Karena itu, dia menilai posisi PDIP sebaiknya harus jelas.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 02 Juli 2026
Puan Tegaskan Sikap PDIP Tidak Abu-Abu, Jelas!
Indonesia
PDIP Ogah Komentari soal Target Besar Jokowi untuk PSI, tak Mau Campuri Rumah Tangga Partai Lain
PDIP tidak akan ikut mengomentari ataupun mencampuri urusan internal partai politik lain.
Dwi Astarini - Senin, 29 Juni 2026
PDIP Ogah Komentari soal Target Besar Jokowi untuk PSI, tak Mau Campuri Rumah Tangga Partai Lain
Indonesia
PKB Tepis Tudingan Deddy Sitorus PDIP, Sebut Koalisi Kompak dan Solid
Partai-partai yang tergabung dalam koalisi saat ini tengah bekerja keras untuk memastikan berbagai program pemerintah berjalan sesuai harapan masyarakat.
Dwi Astarini - Selasa, 23 Juni 2026
PKB Tepis Tudingan Deddy Sitorus PDIP, Sebut Koalisi Kompak dan Solid
Bagikan