Merahputih.com - Kabar duka mendalam datang dari panggung seni dan politik Indonesia menyusul wafatnya putra bungsu Sang Proklamator, di mana Guruh Soekarnoputra meninggal dunia pada Sabtu (26pagi di usia 73 tahun.
Sang kakak, Megawati Soekarnoputri, dikabarkan langsung bergegas terbang dari Manado demi menghadiri prosesi pemakaman di TPU Karet Bivak, Jakarta. Kepergian sang maestro pencipta lagu legendaris ini tentu meninggalkan rasa kehilangan yang luar biasa bagi keluarga besar dan seluruh pencinta seni Tanah Air.
Baca juga:
Guruh Soekarnoputra Meninggal Dunia di Usia 73 Tahun, ini Profil dan Jejak Kariernya
Berita mengenai wafatnya Guruh Soekarnoputra memang cukup mengejutkan banyak pihak, mengingat dedikasinya sebagai tokoh seni Indonesia seolah tidak pernah padam oleh usia.
Sebelum dikebumikan di TPU Karet Bivak, jenazah sempat disemayamkan di rumah duka dan baru diberangkatkan setelah kehadiran Megawati yang memang sangat ditunggu oleh pihak keluarga.
Sebagai seorang figur lintas generasi, profil Guruh Soekarnoputra akan selalu melekat dengan karya-karya ikoniknya bersama GSP Production dan Swara Mahardhika yang sukses mengharumkan nama bangsa.
Megawati Hadiri Pemakaman Langsung dari Manado

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengatakan, rombongan keluarga memang sengaja menahan sebentar keberangkatan jenazah demi menunggu kedatangan Megawati. Presiden Ke-5 RI tersebut akhirnya tiba di lokasi persemayaman sekitar pukul 12.00 WIB usai menempuh perjalanan jauh dari Sulawesi Utara.
Karena memang keluarga yang ditunggu itu Bu Mega. Beliau baru dari Sulut,
ungkap Pramono.
Tak lama setelah kehadiran sang kakak, tepatnya sekitar jam satu siang, iring-iringan mobil jenazah beserta para pelayat pun perlahan bertolak menuju tempat peristirahatan terakhir.
Semangat Seni Sang Maestro di Detik-Detik Terakhir
Meski kondisi fisiknya belakangan terus menurun akibat sakit, nyala api nasionalisme dan kecintaan Guruh pada dunia kesenian rupanya nggak pernah redup. Pramono menceritakan betapa antusiasnya adik Megawati ini untuk kembali membangkitkan Gencar Semarak Perkasa Production (GSP).
Hebatnya lagi, di sisa waktunya, Guruh masih sibuk berkolaborasi dengan seniman lain untuk merancang sebuah pertunjukan seni monolog. Sayangnya, takdir berkata lain dan rencana itu harus tertunda.
Tapi karena kondisi kesehatannya menurun, sutradaranya digantikan, tidak jadi Mas Guruh. Jadi saya cukup intensif berinteraksi dengan beliau,
jelas Pramono mengenang momen kebersamaannya.
Mengenang Jejak Karya dan Profil Guruh Soekarnoputra
Buat kamu yang mungkin belum terlalu familiar dengan perjalanan hidupnya, pria kelahiran Jakarta, 13 Januari 1953 ini menghembuskan napas terakhirnya di RS MRCCC Siloam Semanggi pada pukul 04.16 WIB.
Bukan cuma politikus kawakan yang duduk di kursi DPR RI selama puluhan tahun (1992-1997 dan 1999-2024), Guruh juga seorang seniman tulen sejak usia dini.
Baca juga:
Guruh Soekarno Mengingat Kembali Perkenalannya dengan Musik Lenso
Bakat tarinya yang luar biasa membawanya mendirikan Swara Mahardhika. Ia juga merambah kancah musik dengan membentuk Guruh Gipsy dan Gank Pegangsaan bareng musisi legendaris seperti Keenan Nasution, Abadi Soesman, hingga Chrisye.
Salah satu mahakaryanya yang paling magis dan bakal terus kita ingat tentu saja lagu "Kala Sang Surya Tenggelam". Selamat jalan, Mas Guruh. Karya-karyamu akan selalu hidup dan abadi!