Merahputih.com - Kabar duka kembali menyelimuti Tanah Air menyusul berita Guruh Soekarnoputra meninggal dunia pada Sabtu pagi di usia 73 tahun akibat sakit. Kepergian sosok luar biasa ini menjadi kehilangan besar, terutama bagi dunia politik dan industri kreatif yang selama ini membesarkan namanya.
Menjelang pemakaman Guruh Soekarnoputra, mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, membagikan sebuah kisah yang cukup menyentuh hati.
Baca juga:
Megawati Langsung Terbang dari Manado Hadiri Pemakaman Haru Guruh Soekarnoputra
Jenazah putra bungsu Presiden Pertama RI Soekarno ini rupanya dikafani menggunakan kain favorit mendiang ibundanya, Fatmawati. Persiapan ini dilakukan dengan sangat khidmat oleh keluarga dan kerabat terdekat.
Tadi sudah disiapkan kain yang digunakan setelah kami sempat memandikan dan mendoakan,
ujar Sandiaga.
Pesan Terakhir Sesuai Wasiat Almarhum

Tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, pihak keluarga justru memilih Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta, sebagai lokasi peristirahatan terakhir.
Keputusan ini ternyata bukan tanpa alasan. Pusara Guruh sengaja diletakkan persis di sebelah makam sang ibunda, Fatmawati, sebagai bentuk penghormatan atas pesan yang pernah disampaikan almarhum sebelum tutup usia.
Sandiaga Uno Kehilangan Sosok Guru dan Mitra Bisnis
Bagi Sandiaga Uno, Guruh bukan sekadar politikus senior, melainkan mentor yang banyak berjasa. Sambil mengenang masa lalunya, Sandiaga bercerita bagaimana ia sering mampir ke rumah Guruh hanya untuk meminta wejangan saat baru mulai merintis usaha.
Hubungan erat mereka terus berlanjut. Keduanya pernah bermitra di dunia bisnis hingga menjadi rekan kerja di pemerintahan ketika Guruh menjabat sebagai anggota Komisi X DPR RI.
Sandiaga menyebut bahwa Indonesia benar-benar kehilangan salah satu penggerak ekonomi kreatif terbaiknya yang pernah membesarkan nama Swara Mahardhika.
Kita doakan beliau husnul khatimah dan diberikan tempat di sisi terbaik Allah SWT,
tambah Sandiaga mendoakan sang sahabat.
Rekam Jejak Sang Maestro: Dari Swara Mahardhika hingga Senayan
Sebagai informasi, Guruh mengembuskan napas terakhirnya pada pukul 04.16 WIB di MRCCC Siloam Hospital Semanggi. Pria kelahiran Jakarta, 13 Januari 1953 ini meninggalkan jejak karier yang sangat panjang, baik sebagai seniman maupun wakil rakyat di Senayan (periode 1992–1997 dan 1999–2024).
Sejak muda, adik dari Megawati Soekarnoputri ini memang sudah menunjukkan bakat seni yang luar biasa. Ia adalah otak di balik berdirinya grup kesenian ikonik GSP Production dan Swara Mahardhika.
Baca juga:
Guruh Soekarnoputra Meninggal Dunia di Usia 73 Tahun, ini Profil dan Jejak Kariernya
Di ranah musik, sentuhan magisnya bersama Guruh Gipsy dan Gank Pegangsaan telah menelurkan banyak karya legendaris.
Salah satu mahakaryanya yang tak lekang oleh waktu adalah lagu "Kala Sang Surya Tenggelam" yang dibawakan dengan sangat apik oleh mendiang Chrisye.