Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1

30 Tahun Kudatuli, Prof Sukidi Ajak Publik Berani Bersuara

Dwi AstariniDwi Astarini - Senin, 20 Juli 2026
30 Tahun Kudatuli, Prof Sukidi Ajak Publik Berani Bersuara

30 Tahun Kudatuli, Prof Sukidi Ajak Publik Berani Bersuara

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM - PEMIKIR Kebinekaan Prof Sukidi Mulyadi menyampaikan refleksi mendalam mengenai pelajaran berharga di balik peringatan 30 tahun Peristiwa 27 Juli 1996 atau Kudatuli. Menurutnya, Kudatuli memberikan pelajaran penting untuk mengenali bagaimana sistem otoritarianisme bekerja dan bagaimana masyarakat sipil harus meresponsnya.

Hal tersebut disampaikan Sukidi dalam diskusi bertajuk 30 Tahun Kudatuli, dalam catatan wartawan: Refleksi Perjuangan Wartawan, Merekam Kebenaran dan Menjaga Independensi di Kedai Tempo, Jakarta, Minggu (19/7).

Acara itu turut dihadiri mantan jurnalis Willy Pramudya, Widiarsi Agustina, Ari Junaedi serta CEO Info Media Digital dan aktivis Aliansi Jurnalis Independen Wahyu Dhyatmika.

Dengan mengutip sastrawan dunia Mark Twain, Sukidi menyebut sejarah mungkin tidak pernah berulang secara persis, tapi polanya sering kali memiliki irama yang senada (rhyme).

"Sejarah bisa mengakrabkan kita, kata Profesor Timothy Snyder dari Yale University, tetapi sekaligus memberikan pelajaran dan peringatan," ujar Sukidi.

Baca juga:

Catatan Jurnalis saat Peristiwa Kudatuli: Sensor Ketat Militer dan Larangan Nama Megawati Soekarnoputri

Peringatan dan Pelajaran dari Peristiwa Kudatuli



Peringatan pertama yang disoroti Sukidi dari peristiwa Kudatuli yakni terjadinya serangan brutal terhadap para pejuang dan penjaga demokrasi (the brutal attack on democracy). Serangan tersebut, menurutnya, dilancarkan melalui mekanisme yang disebut ilmuwan politik Steven Levitsky dan Lucan Way sebagai the weaponized state.

"The weaponized state adalah kondisi saat negara dikangkangi dan dijadikan sebagai senjata politik bagi pemerintahan yang otoriter untuk membunuh, melukai, dan menghilangkan para pejuang demokrasi," jelas Sukidi.

Ia mengingatkan pola penggunaan instrumen negara sebagai senjata politik untuk membungkam pemikiran kritis (critical minds) masyarakat berpotensi terus beradaptasi dan berulang di berbagai zaman, termasuk di masa kini.

Pelajaran kedua yang ditekankan Sukidi yakni bahwa kekuasaan otoriter selalu bekerja melalui politik ketakutan (the politics of fear), teror, intimidasi, serta represi. Sukidi menegaskan esensi dari serangan terhadap kemanusiaan tidak boleh terjebak pada perdebatan administratif mengenai klasifikasi pelanggaran HAM berat atau ringan. Menghilangkan atau melukai satu nyawa, menurutnya, pada hakikatnya merupakan serangan terhadap seluruh nilai kemanusiaan.

Pesan yang dikirim kekuasaan yang otoriter melalui politik ketakutan yakni agar masyarakat tidak bersuara. Sikap diam (silence) justru memberikan ruang bagi otoritarianisme untuk tumbuh semakin kuat.

Prof Sukidi Mulyadi, Pemikir Kebinekaan



Ia mencontohkan bagaimana Megawati Soekarnoputri beserta seluruh elemen gerakan prodemokrasi pada 30 tahun silam memilih berdiri tegak melawan kesewenang-wenangan tersebut. "Satu-satunya jalan terbaik untuk menghentikan dan mengalahkan otoritarianisme ialah dengan keberanian. Terutama keberanian untuk menyuarakan kebenaran di hadapan penguasa yang lalim," lanjut Sukidi.

Sebagai pelajaran ketiga, Sukidi mengingatkan gerakan otoritarianisme di masa lalu hampir selalu ditopang kekuatan militerisme yang berupaya menguasai berbagai lini kehidupan masyarakat. Dalam konteks pertanggungjawaban publik, Sukidi mengingatkan konsep pembangkangan sipil yang beradab (civil disobedience atau civil resistance) seperti yang dirumuskan pemikir Henry David Thoreau.

Sukidi menekankan seluruh persenjataan dan fasilitas yang digunakan aparat keamanan pada dasarnya dibiayai uang pajak rakyat. Oleh karena itu, aparat tidak memiliki legalitas moral untuk melukai rakyatnya sendiri.

Ia juga mengutip pandangan sosiolog Harvard University, Profesor Lawrence Lessig, mengenai kesadaran moral warga negara untuk menolak tunduk pada kesewenang-wenangan aparat negara yang menyimpang atau melakukan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). "Henry David Thoreau mengatakan kita tidak memiliki kewajiban sedikit pun untuk patuh kepada pemerintah yang bertindak layaknya pelanggar hukum itu sendiri. Tidak ada kepatuhan pada kekuasaan yang merawat ketidakadilan dan kezaliman," kata Sukidi.

Sebagai penutup refleksinya, Sukidi mengutip pesan mulia keagamaan yang menegaskan bahwa bentuk perjuangan yang paling utama adalah keberanian untuk menyampaikan kebenaran secara jujur dan adil di hadapan pemimpin yang menyimpang.

"Sebaik-baik jihad, sebaik-baik perjuangan, yakni berani mengatakan kebenaran di depan penguasa zalim," tandasnya.(Pon)




Baca juga:

Peringati 29 Tahun Peristiwa 'Kudatuli', PDIP: Tanpa 27 Juli, Tidak Ada Reformasi









#Kudatuli #PDIP #Demokrasi
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
30 Tahun Kudatuli, Prof Sukidi Ajak Publik Berani Bersuara
Menyebut sejarah mungkin tidak pernah berulang secara persis, tapi polanya sering kali memiliki irama yang senada (rhyme).
Dwi Astarini - Senin, 20 Juli 2026
30 Tahun Kudatuli, Prof Sukidi Ajak Publik Berani Bersuara
Indonesia
Jurnalis Senior Ungkap Cara Orde Baru Kendalikan Media, dari Diksi hingga Isi Berita
Aparat saat itu secara rutin menghubungi redaksi untuk memantau pemberitaan.
Dwi Astarini - Senin, 20 Juli 2026
Jurnalis Senior Ungkap Cara Orde Baru Kendalikan Media, dari Diksi hingga Isi Berita
Indonesia
Catatan Jurnalis saat Peristiwa Kudatuli: Sensor Ketat Militer dan Larangan Nama Megawati Soekarnoputri
Sebagai bagian dari upaya penghilangan pengaruh Sukarno oleh penguasa.
Dwi Astarini - Senin, 20 Juli 2026
Catatan Jurnalis saat Peristiwa Kudatuli: Sensor Ketat Militer dan Larangan Nama Megawati Soekarnoputri
Indonesia
PDIP Tagih Jawaban BGN soal Data Kader Diduga Ikut Proyek MBG
PDIP kirim surat setelah adanya pernyataan dari petinggi BGN yang menyebut hampir seluruh partai politik terlibat dalam pengadaan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Frengky Aruan - Minggu, 19 Juli 2026
PDIP Tagih Jawaban BGN soal Data Kader Diduga Ikut Proyek MBG
Indonesia
BBHAR PDIP Gugat Zulfan Lindan dan Total Politik terkait Tudingan Kerusuhan Agustus
Gugatan tersebut diajukan setelah pihaknya terlebih dahulu menempuh mekanisme penyelesaian sengketa pers melalui Dewan Pers.
Dwi Astarini - Kamis, 16 Juli 2026
BBHAR PDIP Gugat Zulfan Lindan dan Total Politik terkait Tudingan Kerusuhan Agustus
Indonesia
Bupati Sukoharjo Etik Suryani Jadi Tersangka, PDIP: kalau OTT, ya Langsung Dipecat
Ketua DPP PDIP Deddy Sitorus mengatakan partainya memiliki aturan yang jelas terhadap kader yang tertangkap melalui OTT.
Dwi Astarini - Minggu, 12 Juli 2026
Bupati Sukoharjo Etik Suryani Jadi Tersangka, PDIP: kalau OTT, ya Langsung Dipecat
Indonesia
Puan Tegaskan Sikap PDIP Tidak Abu-Abu, Jelas!
Partai politik yang berada di barisan pemerintah menghormati semua pendapat dan pandangan yang berbeda. Karena itu, dia menilai posisi PDIP sebaiknya harus jelas.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 02 Juli 2026
Puan Tegaskan Sikap PDIP Tidak Abu-Abu, Jelas!
Indonesia
PDIP Ogah Komentari soal Target Besar Jokowi untuk PSI, tak Mau Campuri Rumah Tangga Partai Lain
PDIP tidak akan ikut mengomentari ataupun mencampuri urusan internal partai politik lain.
Dwi Astarini - Senin, 29 Juni 2026
PDIP Ogah Komentari soal Target Besar Jokowi untuk PSI, tak Mau Campuri Rumah Tangga Partai Lain
Indonesia
Kunci Negara Sukses di Mata Prabowo: Harus Berani Akui Kekurangan
Presiden Prabowo Subianto menegaskan negara sukses adalah yang berani mengakui kekurangan dan menghadapi kesulitan. Kritik dan masukan akademisi akan ditindaklanjuti pemerintah.
Wisnu Cipto - Minggu, 28 Juni 2026
Kunci Negara Sukses di Mata Prabowo: Harus Berani Akui Kekurangan
Indonesia
PKB Tepis Tudingan Deddy Sitorus PDIP, Sebut Koalisi Kompak dan Solid
Partai-partai yang tergabung dalam koalisi saat ini tengah bekerja keras untuk memastikan berbagai program pemerintah berjalan sesuai harapan masyarakat.
Dwi Astarini - Selasa, 23 Juni 2026
PKB Tepis Tudingan Deddy Sitorus PDIP, Sebut Koalisi Kompak dan Solid
Bagikan