Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1

Pameran 'Sumakala' Ceritakan Masa Temaram Yogyakarta Setelah Peristiwa Geger Sepehi

Hendaru Tri HanggoroHendaru Tri Hanggoro - Rabu, 19 Oktober 2022
Pameran 'Sumakala' Ceritakan Masa Temaram Yogyakarta Setelah Peristiwa Geger Sepehi

Di sebalik kegemilangan sejarah Keraton Yogyakarta, ada satu masa kelam yang pernah dialami Keraton Yogyakarta. (Foto: Unsplash/Farano Gunawan)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KERATON Yogyakarta tercatat sebagai salah satu kerajaan di Indonesia yang mempunyai warisan budaya berupa benda dan tak benda yang bernilai tinggi. Dari karya sastra, benda-benda pusaka atau kebesaran Keraton, upacara adat, kesenian, sampai kuliner tradisional. Di sebalik kegemilangan sejarah Keraton Yogyakarta, ada satu masa kelam yang pernah dialami Keraton Yogyakarta.

Masa itu berlangsung pada 1812-1822 dan diawali oleh penyerbuan tentara Sepoy atau Sepehi dari India ke Keraton Yogyakarta pada 18-20 Juni 1812. Tentara ini tergabung dalam batalion sukarelawan Benggala pasukan Inggris. Penyerbuan ini bertujuan mengukuhkan kekuasaan Inggris di Jawa.

"Dalam babad-babad Jawa peristiwa ini dikenal sebagai 'Geger Sepoy' atau Komplotan Sepoy, tentara sewaan India dari Inggris, dan ia adalah sebuah pralambang bagi kekuasaan Inggris di India maupun bagi Indonesia," catat Peter Carey dalam Asal Usul Perang Jawa : Pemberontakan Sepoy & Lukisan Raden Saleh.

Pasukan Sepehi berhasil menaklukkan Keraton Yogyakarta. Akibat penyerbuan ini, Keraton Yogyakarta tunduk pada Inggris. Penyerbuan juga membuat banyak benda budaya, kekayaan material, serta pusaka keraton dijarah habis-habisan oleh prajurit Sepoy. Jejaknya tidak banyak ditemukan lagi.

Baca juga:

Peringati Sumpah Pemuda, Keraton Yogyakarta Gelar Pentas Musik Kebangsaan Daring

pameran sumakala
Di sebalik kegemilangan sejarah Keraton Yogyakarta, ada satu masa kelam yang pernah dialami Keraton Yogyakarta. (Foto: Unsplash/Fuad Najib)

Untuk mengenang kembali bagaimana makna dan pengaruh penyerbuan itu pada kehidupan di Yogyakarta, Keraton Yogyakarta menggelar pameran bertajuk "Sumakala: Dasawarsa Temaram Yogyakarta".

Pengageng KHP Nitya Budaya Keraton Yogyakarta, GKR Bendara, menjelaskan pameran yang menggambarkan masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono III dan Sri Sultan Hamengku Buwono IV itu akan dibuka pada 28 Oktober 2022 di Kompleks Bangsal Pagelaran Keraton Yogyakarta.

"Momentum ini upaya Keraton Yogyakarta untuk merekonstruksi ulang kisah-kisah Sultan terdahulu," ujar GKR Bendara dalam keterangannya, seperti dikutip Antara, Selasa (17/10).

Bendara menuturkan bahwa pameran akhir tahun yang dihelat Keraton Yogyakarta itu juga mendorong penarasian kembali pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono III dan Sri Sultan Hamengku Buwono IV. Dia mengatakan pascaperistiwa Geger Sepehi, Keraton Yogyakarta mengalami masa yang temaram.

Berbagai desakan politik dari Pemerintahan Inggris terhadap Sultan Hamengku Buwono III berdampak ketidakstabilan perekonomian. Sebab, seluruh biaya perang yang ditimbulkan akibat gempuran Inggris ke Yogyakarta harus ditanggung oleh Keraton Yogyakarta.

Sementara itu, kondisi karut-marut tersebut harus disaksikan oleh GRM Ibnu Djarot, putra mahkota yang masih belia.

Klimaksnya, pangeran harus menyaksikan ayahandanya meninggal setelah dua tahun bertakhta. Dia, sebagai putra mahkota yang kala itu masih berusia 10 tahun, harus menggantikan kedudukan Sultan dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono IV.

Baca juga:

Putri Keraton Yogyakarta Ungkap Peran Penting Perempuan dalam Tugas Kerajaan

pameran sumakala
Keraton mencoba membaca ulang sejarah semasa 1812-1822 dan mewujudkannya dalam bentuk visual. (Foto: Unsplash/Agto Nugroho)

"Meskipun kedua Sultan, yakni Sultan ketiga dan Sultan keempat mengalami kondisi yang sulit, tetapi berbagai prestasi dalam pemerintahan maupun pembangunan kebudayaan di keraton turut disumbangkan," ujar Bendara.

Beberapa karya pada masa kedua Sultan itu yang masih bisa dijumpai sampai sekarang antara lain tari Bedhaya Durmakina, Babad Ngayogyakarta, dan kereta-kereta kebesaran dari masing-masing Sultan.

Putri Sultan Hamengku Buwono X ini mengakui pameran "Sumakala" tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Keraton Yogyakarta dan tim pameran. Sebab, pascaperistiwa Geger Sepehi (1812), keraton yang megah harus porak-poranda.

Sementara, benda budaya, kekayaan material, hingga pusaka yang dimiliki keraton kala itu dijarah habis-habisan oleh prajurit Sepoy.

"Sumber-sumber mengenai pemerintahan keraton pada awal abad ke-19 praktis tidak banyak ditemukan. Di sinilah keraton mencoba membaca ulang sejarah semasa 1812-1822 dan mewujudkannya dalam bentuk visual," kata Bendara.

Dalam rangkaian pameran itu, berbagai kegiatan pendukung juga akan digelar. Mulai napak tilas kediaman putra mahkota, menjelajahi ruas penyerangan Geger Sepehi, hingga berbagai diskusi dan lokakarya yang berkaitan dengan tema pameran.

"Sebagai institusi budaya sekaligus museum yang inklusif, Keraton Yogyakarta juga menggandeng komunitas untuk bekerja sama dalam penyelenggaraan pameran," kata Bendara. (dru)

Baca juga:

Museum Kesejarahan Jakarta dan Kunstkring Gelar Pameran Jejak Memori Rijsttafel

#Yogyakarta #Keraton Yogyakarta
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Hendaru Tri Hanggoro

Berkarier sebagai jurnalis sejak 2010 dan bertungkus-lumus dengan tema budaya populer, sejarah Indonesia, serta gaya hidup. Menekuni jurnalisme naratif, in-depth, dan feature. Menjadi narasumber di beberapa seminar kesejarahan dan pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan lembaga pemerintah dan swasta.
Show More

Berita Terkait

Indonesia
Stasiun Yogyakarta Kini Punya Lelana Gallery, Ruang Kreatif untuk UMKM Berbasis Budaya
Stasiun Yogyakarta kini memiliki Lelana Gallery yang menampilkan produk UMKM berbasis budaya dan keberlanjutan. Inisiatif KAI Wisata ini mendukung ekonomi kreatif lokal.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 16 Juli 2026
Stasiun Yogyakarta Kini Punya Lelana Gallery, Ruang Kreatif untuk UMKM Berbasis Budaya
Berita Foto
Momen Hangat Presiden Prabowo dan PM India Narendra Modi saat Berkunjung ke Candi Prambanan
Presiden Prabowo Subianto mendampingi Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi saat mengunjungi Candi Prambanan di DI Yogyakarta, Rabu (8/7/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 08 Juli 2026
Momen Hangat Presiden Prabowo dan PM India Narendra Modi saat Berkunjung ke Candi Prambanan
Indonesia
Imbas Gangguan Stasiun Pasar Senen, KA Tujuan Yogyakarta Tiba Telat Hampir 2 Jam
Gangguan terjadi setelah lokomotif KA Jaka Tingkir dan rangkaian KA Serayu mengalami masalah di jalur emplasemen Pasar Senen,
Wisnu Cipto - Jumat, 22 Mei 2026
Imbas Gangguan Stasiun Pasar Senen, KA Tujuan Yogyakarta Tiba Telat Hampir 2 Jam
Tradisi
Makna Tradisi Grebeg Gunungan Idul Adha di Yogyakarta, Simbol Syukur dan Berkah
Tradisi Grebeg Gunungan Idul Adha di Yogyakarta menjadi simbol syukur, berbagi rezeki, dan perpaduan budaya Jawa dengan ajaran Islam yang terus lestari hingga kini.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 13 Mei 2026
Makna Tradisi Grebeg Gunungan Idul Adha di Yogyakarta, Simbol Syukur dan Berkah
Fun
Rekomendasi Wisata Religi di Jogja saat Long Weekend Kenaikan Yesus Kristus Mei 2026
Berikut rekomendasi wisata religi di Yogyakarta untuk libur panjang Kenaikan Yesus Kristus 2026, mulai dari Gua Maria Sendangsono hingga Gereja Ganjuran.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 12 Mei 2026
Rekomendasi Wisata Religi di Jogja saat Long Weekend Kenaikan Yesus Kristus Mei 2026
Indonesia
DPR Desak Pemerintah Audit Seluruh Daycare Pasca Tragedi Memilukan di Little Aresha Yogyakarta
Maman menilai fenomena ini merupakan pengkhianatan terhadap kepercayaan orang tua yang menitipkan buah hati mereka
Angga Yudha Pratama - Rabu, 29 April 2026
DPR Desak Pemerintah Audit Seluruh Daycare Pasca Tragedi Memilukan di Little Aresha Yogyakarta
Indonesia
DPR Desak Pemulihan Hak Bayi yang Jadi Korban Kekerasan Daycare Little Aresha Yogyakarta
Secara aturan, kasus ini memenuhi syarat untuk restitusi karena korbannya bayi
Angga Yudha Pratama - Selasa, 28 April 2026
DPR Desak Pemulihan Hak Bayi yang Jadi Korban Kekerasan Daycare Little Aresha Yogyakarta
Indonesia
Daycare Little Aresha Tak Berizin Siksa Puluhan Anak, Komisi III DPR RI Pemilik Yayasan Segera Dipecat
Sahroni mendesak Komisi Yudisial (KY) dan Mahkamah Agung (MA) untuk mengambil langkah tegas berupa pemecatan
Angga Yudha Pratama - Senin, 27 April 2026
Daycare Little Aresha Tak Berizin Siksa Puluhan Anak, Komisi III DPR RI Pemilik Yayasan Segera Dipecat
ShowBiz
Record Store Day Yogyakarta 2026 Digelar 25–26 April, 71 Lapak Siap Meriahkan XT Square
Record Store Day Yogyakarta 2026 digelar 25–26 April di XT Square. Hadirkan 71 lapak vinyl, kaset, dan CD serta program kreatif kolaboratif.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 23 April 2026
Record Store Day Yogyakarta 2026 Digelar 25–26 April, 71 Lapak Siap Meriahkan XT Square
Indonesia
Wilayah Yogyakarta Masuki Fase Krusial Potensi Gempa Megathrust, IABI: Ini Bukan untuk Menakut-nakuti
Selain ancaman laut, para ahli mengidentifikasi kompleksitas Sesar Opak yang memicu gempa darat 2006
Angga Yudha Pratama - Kamis, 16 April 2026
Wilayah Yogyakarta Masuki Fase Krusial Potensi Gempa Megathrust, IABI: Ini Bukan untuk Menakut-nakuti
Bagikan