Massa Otot Mulai Menurun di Usia 35, ini Faktor Penyebabnya
Dokter berikan penjelasan perihal terjadinya penurunan masa otot. (Foto: pixabay/schaferle)
PENURUNAN massa otot sebenarnya sudah mulai terjadi ketika seseorang memasuki usia 35 tahun dan akan semakin progresif seiring bertambahnya usia. Hal itu dipaparkan spesialis ortopedi Rumah Sakit Medistra Jakarta dr Kiki Novito, SpOT.
"Setelah penurunan massa otot di usia 35 tahun, massa otot kemudian pelan-pelan berkurang lagi dan begitu memasuki usia 65, pengurangan massa otot dan tulang akan semakin progresif berkali-kali lipat," jelas Kiki pada webinar kesehatan, seperti dikabarkan ANTARA.
Baca Juga:
Tekan Risiko Demensia Alzheimer dengan Gaya Hidup Sehat Sejak Muda
Kiki menyebut penurunan massa otot yang progresif itu disebut dengan sarcopenia. Kondisi itu akan membuat seseorang mengalami penurunan kekuatan otot dan performa fisik.
Penurunan massa otot pada umumnya disebabkan sel yang menua. Pada tubuh manusia, Kiki menjelaskan, ada satu sel bernama mitokondria yang berfungsi sebagai penghasil energi. Namun, seiring bertambahnya usia, produksi sel itu menadi lebih sedikit.
"Itu merupakan sesuatu yang pasti terjadi pada semua orang. Kalau ditambah lagi karena kurang digunakan semasa mudanya, kurang dilatih, enggak suka olahraga, itu tentu akan lebih berat," tambah Kiki.
Ia menjelaskan, pada usia yang menua, stimulus saraf pada otak akan semakin berkurang sehingga penggunaan otot juga berkurang. Seiring bertambah usia, pembuluh darah juga menjadi lebih kaku sehingga suplai darah ke otot ikut berkurang.
Baca Juga:
Pentingnya Edukasi Kesehatan Untuk Menekan Kasus COVID-19
Selain itu, kurangnya konsumsi kalori dan protein, juga bisa memengaruhi pengurangan massa otot. Kiki kerap menemui orang tua yang takut makan karena banyak penyakit seperti gula. Padahal, penyakit-penyakit itu bukan berarti lansia tidak boleh makan, tapi harus mencukupi kalori dan protein sesuai dengan yang dibutuhkan.
"Tentunya, seberapa banyak boleh mengonsumsi itu, harus dikonsultasikan dengan dokter sesuai dengan masalah yang ada pada diri," ucap Kiki.
Agar massa otot bisa tetap terjaga, Kiki menyarankan untuk melakukan resistance exercise, seperti halnya angkat beban. Dalam hal ini, kamu tidak harus pakai barbel. Angkat beban bisa dilakukan dengan benda-benda lain yang ditemukan di rumah. Selain itu, kamu juga bisa mengonsumsi suplemen protein serta vitamin D.
Mengenai suntik testosteron untuk menambah massa otot, Kiki menjelaskan memang betul suntik testosteron bisa menambah masa otot, tapi efek sampingnya perlu diperhatikan. (Ryn)
Baca Juga:
Bagikan
Berita Terkait
Menu Makanan Penangkis Flu Musim Hujan Rekomendasi Dietisien RSCM
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Program Pemutihan BPJS Kesehatan Berlangsung di 2025, ini Cara Ikut dan Tahapannya
Prodia Hadirkan PCMC sebagai Layanan Multiomics Berbasis Mass Spectrometry