Menurut Pakar, Tidak Perlu BAB Setiap Hari
Tidak ada jumlah buang air besar yang tetap atau normal. (Pixabay/Tama66)
SEMUA orang buang air besar, tetapi ternyata kita tidak perlu buang air besar (BAB) setiap hari. BAB setiap hari, menurut ahli gastroenterologi Dr. Folasade May, merupakan kesalahpahaman.
"Saya bahkan memiliki orang yang mencoba dan membuat janji temu, karena mereka berkata, 'Oh, saya berhenti buang air besar setiap hari beberapa tahun yang lalu'," ujar profesor dari Fakultas Kedokteran David Geffen di Universitas California, Los Angeles, AS tersebut.
"Dan saya harus mengingatkan orang-orang bahwa sebenarnya tidak ada jumlah buang air besar yang tetap atau normal," dia menekankan.
Baca Juga:
Gagasan itu mungkin berasal dari kepercayaan era Victoria bahwa buang BAB setiap hari membuat kamu lebih sehat, kata konsultan dan profesor di divisi gastroenterologi dan hepatologi Dr. Michael Camilleri dari Mayo Clinic di Minnesota seperti diberitakan CNN.
Padahal, belum tentu. "Kebanyakan orang akan mengalami antara buang air besar hingga tiga kali sehari hingga tiga kali per minggu. Di mana saja dalam kisaran itu, kami anggap normal," tambah May.
Dalam hal BAB sebagai ukuran kesehatan, frekuensi bukanlah satu-satunya faktor penting. Dan beberapa faktor dapat memengaruhi seberapa sering kita buang air besar, termasuk pola makan, hidrasi, stres, usia, penggunaan obat, dan keadaan sosial, kata ahli gastroenterologi Dr. Trisha Pasricha dari Rumah Sakit Umum Massachusetts yang juga merupakan instruktur kedokteran di Harvard Medical School.
Selain itu, sangat membantu untuk mengetahui seperti apa kotoranmu selain seberapa sering kamu BAB. “Bentuk feses, penampilan atau konsistensi buang air besar sebenarnya adalah kriteria yang jauh lebih baik daripada angka sederhana untuk frekuensinya,” kata Camilleri.
Profesional medis menilai kualitas feses menggunakan Bristol Stool Chart, yang mengklasifikasikan feses menjadi tujuh kelompok. Jenis kotoran yang paling sehat adalah jenis tiga dan empat: tinja yang berbentuk seperti sosis dengan retakan di permukaannya atau seperti ular dan halus.
Jika kamu buang air besar tiga kali seminggu dan konsistensinya keras atau seperti kerikil, tidak apa-apa jika kamu tidak mengalami perubahan apa pun dalam kualitas hidupmu, kata Pasricha.
Namun, jika kamu terlalu mengejan saat mencoba buang air besar atau merasa seperti belum sepenuhnya mengosongkan usus, kamu mungkin perlu mengubah buang air besar lebih sering atau memiliki kualitas tinja yang lebih sehat, kata para ahli.
Baca Juga:
Cara-cara memperlancar BAB
Menempatkan kaki di bangku toilet, atau bahkan setumpuk buku, juga bisa membantu. Dengan melakukannya, itu mengangkat lutut di atas pinggulmu, mengendurkan otot-otot dasar panggul yang menopang usus, dan membiarkan kotoran keluar dengan lebih mudah, kata Pasricha.
“Kita tidak berevolusi untuk buang air besar dengan duduk dengan pinggul 90 derajat di atas kursi, seperti yang kami lakukan sekarang. Kita dulu semua buang air besar jongkok. Duduk tegak, sudut 90 derajat seperti itu benar-benar menutup lorong,” dia menjelaskan.
Makan cukup serat dari sayuran, buah-buahan, biji-bijian dan kacang-kacangan dapat membantu mencegah sembelit, kata para ahli. Asupan serat total harus setidaknya 25 gram setiap hari, menurut Food and Drug Administration, AS.
Beberapa penelitian telah menemukan kiwi dan plum dapat sangat membantu untuk menghilangkan sembelit, kata para ahli. Namun jangan makan terlalu banyak serat, karena mengakibatkan perut kembung.
Cukup terhidrasi juga akan melembutkan feses sehingga kamu bisa mengeluarkannya tanpa mengejan, kata May.
“Kopi, atau minuman berkafein, juga telah terbukti merangsang kontraksi usus besar,” kata Camilleri, mencatat bahwa minuman tersebut dapat memicu pergerakan usus. Sebaliknya, diet tinggi lemak dapat memperlambat sistem pencernaanmu. (aru)
Baca Juga:
Keadaan Tidak Memungkinkan? Ini Cara untuk Menahan Buang Air Kecil
Bagikan
Berita Terkait
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Program Pemutihan BPJS Kesehatan Berlangsung di 2025, ini Cara Ikut dan Tahapannya
Prodia Hadirkan PCMC sebagai Layanan Multiomics Berbasis Mass Spectrometry
Senang Ada Temuan Kasus Tb, Wamenkes: Bisa Langsung Diobati