MERAHPUTIH.COM - HANTAVIRUS kembali menjadi perhatian setelah laporan kasus di kapal pesiar MV Hondius yang melibatkan sejumlah penumpang dengan gejala pernapasan berat. Kasus tersebut menyoroti bagaimana penyakit zoonosis tetap menjadi ancaman kesehatan global, terutama ketika penanganan lingkungan dan pengawasan kesehatan tidak dilakukan secara optimal.
Peningkatan kasus penyakit yang berasal dari hewan membuat istilah patogen zoonosis semakin sering dibahas dalam dunia kesehatan. Salah satu penyakit yang kembali menjadi sorotan dan berkaitan erat dengan zoonosis yakni hantavirus, virus langka yang ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus dan dapat menyebabkan gangguan serius pada manusia.
Seperti disebutkan WHO, secara umum, patogen zoonosis adalah mikroorganisme penyebab penyakit, seperti virus, bakteri, parasit, atau jamur, yang dapat berpindah dari hewan ke manusia. Penularannya bisa terjadi melalui kontak langsung dengan hewan, cairan tubuh, gigitan, makanan yang terkontaminasi, hingga paparan lingkungan yang telah tercemar. Penyakit yang muncul akibat perpindahan tersebut dikenal sebagai zoonosis.
Dalam beberapa dekade terakhir, zoonosis menjadi perhatian global karena banyak wabah besar berasal dari interaksi antara manusia dan hewan. Penyakit seperti flu burung, rabies, hingga COVID-19 merupakan contoh penyakit yang berkaitan dengan patogen zoonosis. Faktor seperti perubahan lingkungan, urbanisasi, perdagangan satwa liar, hingga meningkatnya populasi manusia membuat risiko penularan zoonosis semakin tinggi.
Baca juga:
Cara Menangani Paparan Hantavirus Sejak Dini, Jangan Asal Bersihkan Kotoran Tikus
Hantavirus ialah salah satu contoh nyata dari patogen zoonosis. Virus ini hidup pada hewan pengerat, terutama tikus, tanpa menyebabkan penyakit serius pada hewan tersebut. Namun, ketika virus berpindah ke manusia, dampaknya bisa sangat berbahaya. Penularan hantavirus umumnya terjadi ketika seseorang menghirup partikel udara yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang membawa virus. Risiko penularan meningkat di area dengan sanitasi buruk, ruang tertutup yang jarang dibersihkan, gudang, loteng, atau lingkungan dengan populasi tikus tinggi.
Hal yang membuat hantavirus berbahaya yakni gejalanya yang sering menyerupai flu biasa pada tahap awal. Penderitanya dapat mengalami demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, dan tubuh lemas. Namun, dalam beberapa hari, kondisi bisa berkembang cepat menjadi gangguan pernapasan berat atau kerusakan ginjal, tergantung jenis hantavirus yang menginfeksi.
Salah satu bentuk paling serius yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yang menyebabkan penumpukan cairan di paru-paru hingga memicu gagal napas. Ada juga Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dan dapat menyebabkan perdarahan.
Para ahli menilai peningkatan kesadaran masyarakat terhadap zoonosis sangat penting untuk mencegah penyebaran penyakit serupa di masa depan. Pencegahan sederhana seperti menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, menyimpan makanan dengan aman, dan menggunakan perlindungan saat membersihkan area yang terkontaminasi dapat membantu menurunkan risiko paparan hantavirus.
Selain itu, pendekatan kesehatan terpadu yang dikenal dengan konsep one health juga semakin ditekankan. Konsep ini melihat kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai satu kesatuan yang berkaitan. Itu berarti pengendalian penyakit zoonosis tidak cukup hanya dilakukan di sektor kesehatan manusia, tetapi juga harus melibatkan pengawasan hewan dan pengelolaan lingkungan yang baik.
Hantavirus menjadi pengingat bahwa penyakit yang berasal dari hewan masih menjadi ancaman nyata. Memahami apa itu patogen zoonosis dan bagaimana cara penularannya menjadi langkah penting agar masyarakat lebih waspada terhadap risiko penyakit yang dapat muncul dari lingkungan sekitar.(Far)
Baca juga:
WHO Soroti Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Ini Gejala Awal yang Sering Dikira Flu