Mengapa Lima Pimpinan KPK Tak Hadiri Peringatan Dua Tahun Teror Novel?

Zaimul Haq Elfan HabibZaimul Haq Elfan Habib - Jumat, 12 April 2019
Mengapa Lima Pimpinan KPK Tak Hadiri Peringatan Dua Tahun Teror Novel?

Gedung KPK. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Lima pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tak menghadiri rangkaian peringatan teror terhadap Novel Baswedan yang digelar Wadah Pegawai KPK (WP-KPK), Kamis (11/4) kemarin. Agus Rahardjo Cs tak terlihat di sekitar lokasi kegiatan meski hanya sebentar.

Absennya lima pimpinan semakin menguatkan dugaan adanya gejolak di tubuh KPK. Hal ini lantaran, beberapa waktu sebelum peringatan teror terhadap Novel, sejumlah pegawai KPK melayangkan petisi terhadap pimpinannya.

Dalam petisi tersebut, para penyelidik dan penyidik mengeluhkan lima hal, salah satunya adanya hambatan-hambatan dalam mengembangkan sebuah perkara hingga level pejabat yang lebih tinggi atau big fish.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah. (MP/John Abimanyu)
Juru Bicara KPK Febri Diansyah. (MP/John Abimanyu)

Dikonfirmasi hal itu, Juru Bicara KPK, Febri Diansyah menjelaskan, WP-KPK telah mengirimkan surat undangan kepada lima pimpinan untuk hadir dalam peringatan kemarin.

"Dari informasi yang saya dapatkan pemberitahuan sudah dilakukan dan sebenarnya ada rencana kemarin pimpinan juga akan bergabung," kata Febri di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (12/4).

Menurut Febri, kelima pimpinan berencana untuk hadir, Namun, kelima pimpinan terpaksa absen dengan berbagai kendala. Terdapat pimpinan yang sedang cuti, atau sedang bertugas di lokasi lain.

"Kebetulan ada pimpinan yang sedang cuti atau tidak masuk pada hari kemarin. Ada juga yang sedang ditugaskan di tempat lain di Jakarta ada juga yang sedang bertugas di daerah," jelas dia.

Di sisi lain, Febri menyebut lima pimpinan KPK telah menerima petisi yang dilayangkan sejumlah pegawai. Rencananya awal pekan depan, kelima pimpinan akan bertemu dengan para pegawai di bidang penindakan tersebut.

"Awal minggu depan akan dilakukan pertemuan tersebut nanti saya update lagi," katanya.

Kemarin, WP-KPK bersama koalisi masyarakat sipil dan aktivis antikorupsi menggelar serangkaian kegiatan untuk memperingati dua tahun teror terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan.

Sejumlah kegiatan digelar untuk memperingati percobaan pembunuhan terhadap Novel itu sejak sekitar pukul 13.00 WIB hingga malam hari. Sejumlah musisi yang menaruh perhatian pada isu antikorupsi menyumbangkan lagu untuk mendukung Novel dan KPK.

Selain itu, terdapat juga pembacaan deklarasi yang disampaikan WP-KPK, Novel, dan sejumlah aktivis antikorupsi, termasuk tiga mantan Komisioner KPK, yakni Abraham Samad, Bambang Widjojanto dan Busyro Muqoddas.

Sementara pada malam hari, budayawan Emha Ainun Najib atau yang akrab disapa Cak Nun bersama presenter Najwa Shihab mengisi kegiatan sarasehan budaya di pelataran Gedung KPK. (Pon)

Baca Juga:

#KPK #Novel Baswedan #Febri Diansyah
Bagikan
Ditulis Oleh

Zaimul Haq Elfan Habib

Low Profile

Berita Terkait

Indonesia
KPK Didesak Segera Susun Strategi Pemberantasan Korupsi yang Lebih Sistematis
Sistem yang membuka celah gelap dinilai menjadi motor penggerak korupsi yang selama ini luput dari perhatian mendalam
Angga Yudha Pratama - Rabu, 28 Januari 2026
KPK Didesak Segera Susun Strategi Pemberantasan Korupsi yang Lebih Sistematis
Indonesia
KPK Tegaskan OTT Jadi Pintu Masuk Pengungkapan Kasus Yang Lebih Besar
saat ini pelaku korupsi menggunakan pola layering (pelapisan) guna menyamarkan aliran dana dan tidak lagi secara fisik menyerahkan uang hasil rasuah.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 28 Januari 2026
KPK Tegaskan OTT Jadi Pintu Masuk Pengungkapan Kasus Yang Lebih Besar
Indonesia
Ketua KPK: Modus OTT kini Menggunakan Pola Layering
Praktik suap kini tidak lagi dilakukan dengan cara konvensional seperti pertemuan langsung dan serah terima uang secara fisik.
Dwi Astarini - Rabu, 28 Januari 2026
Ketua KPK: Modus OTT kini Menggunakan Pola Layering
Indonesia
KPK Gunakan AI untuk Periksa LHKPN, Ribuan Pejabat Dinilai dengan Sistem Skor
KPK mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk pemeriksaan LHKPN pada 2025. Ribuan pejabat dinilai dengan sistem skor dan bendera merah.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 28 Januari 2026
KPK Gunakan AI untuk Periksa LHKPN, Ribuan Pejabat Dinilai dengan Sistem Skor
Indonesia
Sepanjang 2025, KPK Tangani 48 Perkara Suap dan Lakukan 11 OTT
Ketua KPK mengungkap lembaganya melakukan 11 OTT dan menangani 48 perkara penyuapan atau gratifikasi sepanjang tahun 2025.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 28 Januari 2026
Sepanjang 2025, KPK Tangani 48 Perkara Suap dan Lakukan 11 OTT
Indonesia
Perkuat Asset Tracing, KPK Kembalikan Aset Korupsi Rp 1,53 Triliun ke Kas Negara
KPK telah mengembalikan aset korupsi senilai Rp 1,53 triliun ke kas negara. KPK kini terus mengoptimalkan asset recovery.
Soffi Amira - Rabu, 28 Januari 2026
Perkuat Asset Tracing, KPK Kembalikan Aset Korupsi Rp 1,53 Triliun ke Kas Negara
Indonesia
Komisi III DPR Gelar Raker dengan KPK Bahas Anggaran dan Rencana Kerja 2026
Komisi III DPR RI menggelar rapat kerja bersama KPK untuk membahas evaluasi anggaran dan rencana kerja tahun 2026.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 28 Januari 2026
Komisi III DPR Gelar Raker dengan KPK Bahas Anggaran dan Rencana Kerja 2026
Indonesia
KPK Kembangkan Penyidikan Suap Pajak, PPh dan PPN Ikut Disorot
KPK membuka peluang mengembangkan penyidikan kasus suap perpajakan dengan mendalami PPh dan PPN, selain PBB yang kini ditangani.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 28 Januari 2026
KPK Kembangkan Penyidikan Suap Pajak, PPh dan PPN Ikut Disorot
Indonesia
Jaksa Soroti Selisih Harga Chromebook di E-Catalog yang Lebih Mahal daripada Marketplace
Jaksa mempertanyakan apakah para saksi pernah melakukan survei harga sebelum proses pengadaan dilakukan.
Dwi Astarini - Selasa, 27 Januari 2026
Jaksa Soroti Selisih Harga Chromebook di E-Catalog yang Lebih Mahal daripada Marketplace
Indonesia
Eks Pejabat Kemendikbud Akui Terima Uang Rp 450 Juta dan USD 30 Ribu dari Vendor Chromebook
Mengaku menerima uang saat melakukan survei ke gudang vendor.
Dwi Astarini - Selasa, 27 Januari 2026
Eks Pejabat Kemendikbud Akui Terima Uang Rp 450 Juta dan USD 30 Ribu dari Vendor Chromebook
Bagikan