Masyarakat Diperingatkan Tak Lakukan Silaturahmi Secara Fisik

Angga Yudha PratamaAngga Yudha Pratama - Rabu, 12 Mei 2021
Masyarakat Diperingatkan Tak Lakukan Silaturahmi Secara Fisik

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito. ANTARA/HO-Biro Pers Setpres/Muchlis Jr/am.

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Merahputih.com - Masyarakat dapat berlebaran secara aman dan nyaman terutama yang berada di zona merah dan oranye. Hal itu karena risiko penularan COVID-19 yang cukup tinggi di daerah yang masuk zonasi tersebut.

Pertama, terkait dengan Salat Id. Bagi masyarakat yang berada di zona tersebut dapat memilih salat Idulfitri di rumah secara berjamaah. Tujuannya untuk menghindari terciptanya kerumunan yang berpotensi area penularan COVID-19.

“Perlindungan kepada diri sendiri dan orang lain di masa pandemi ini merupakan salah satu ibadah juga bagi kita semua,” kata Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito, Rabu (12/5).

Baca Juga:

Deretan Cara Minta Maaf Paling Ekstrem, Yakin Berani?

Kedua, terkait dengan silaturahmi. Satgas COVID-19 berharap agar masyarakat di kedua zona tersebut dapat mengurungkan niat untuk melakukan silaturahmi fisik.

Silaturahmi dapat memanfaatkan teknologi untuk melakukan silaturahmi virtual dengan sanak saudara dan kerabat lainnya.

Ketiga, pemberian bingkisan pada saat Idulfitri dalam bentuk apapun dapat dilakukan juga melalui metode pengiriman paket atau transfer.

Sejalan dengan kebijakan yang berlaku, maka ada pelarangan operasional untuk fasilitas umum di zona merah dan oranye.

"Satgas mengimbau kepada kepada daerah untuk mengkoordinasikan hal ini dengan fasilitas umum yang ada di daerah masing-masing,” ucap Wiku.

Wiku mengatakan, meskipun fasilitas umum tutup, ada alternatif lain yang dapat dilakukan masyarakat selama masa liburan. Seperti berbelanja online atau menghabiskan quality time bersama keluarga inti yang tinggal serumah.

"Ingatlah COVID-19 tidak bisa berhenti penularannya tanpa kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat,” ucapnya.

Oleh karena itu, Wiku mengatakan, masyarakat dan pemerintah daerah (Pemda) yang berada di zona merah dan oranye untuk dapat menegakan prokes kesehatan (prokes) sebaik mungkin dalam situasi pandemi ini.

Dalam situasi kurang ideal ini, Satgas COVID-19 juga berharap masing-masing kepala menjadi contoh yang baik bagi masyarakat di daerahnya.

"Jangan sampai ada kepala daerah yang malah menjadi batu sandungan karena melanggar protokol kesehatan,” ucapnya.

Wiku menyebutkan, dengan mematuhi prokes, maka kesempatan merayakan Lebaran tahun depan bersama keluarga akan terbuka lebar.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito dalam tangkapan layar akun Youtube BNPB Indonesia saat menayangkan acara bincang-bincang Satuan Tugas Penanganan COVID-19 di Jakarta, Jumat (24/7/2020). (ANTARA/Dewanto Samodro)
Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito dalam tangkapan layar akun Youtube BNPB Indonesia saat menayangkan acara bincang-bincang Satuan Tugas Penanganan COVID-19 di Jakarta, Jumat (24/7/2020). (ANTARA/Dewanto Samodro)

Sementara itu, tren angka positivity rate Indonesia per Mei 2021 saat ini mencapai angka terendah selama pandemi COVID-19. Pada bulan Mei ini, tercatat angka minimal sebesar 8,5 persen dan maksimal sebesar 13,6 persen dengan angka rata-rata sebesar 11,3 persen.

Wiku Adisasmito menyebut perkembangan Indonesia lebih baik dibandingkan India yang sedang krisis COVID-19. Meski sempat menyentuh angka tertinggi pada Januari 2021, angka positivity rate meningkat cukup tinggi mencapai 27,2 persen.

"Indonesia mencoba belajar dari kondisi COVID-19 pada tahun lalu, yang berdampak hingga awal tahun ini," kata dia.

Melihat perbandingan data dengan India, positivity rate awalnya berkisar di angka 2-3 persen dan tertinggi mencapai 8 persen per September 2020. Namun perubahan drastis terjadi sejak April 2021 yang angkanya mencapai 14 persen, dan Mei 21,7 persen.

Baca Juga:

Alasan Minta Maaf Paling Basi Ketika Lupa Hari Ulang Tahun Pasangan

Peningkatan ini dampak dari lonjakan kasus akhir-akhir ini dengan penambahan kasus mencapai 400 ribu per hari. Peningkatan yang terjadi di India disebabkan akibat kegiatan keagamaan dan kegiatan politik yang menimbulkan kerumunan massa.

Dan dampaknya meningkatkan angka positivity rate. Dari yang semula di angka 3 persen menjadi 22 persen hanya dalam waktu kurang dari 2 bulan, akibat abainya protokol kesehatan. (Knu)

#COVID-19 #Obat Covid #Kasus Covid #Vaksin Covid-19
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Waspada Ledakan COVID-19 Cicada, Varian Baru Incar Anak Tanpa Vaksin di 25 Negara Dunia
Nurhadi mengingatkan pemerintah agar tidak hanya fokus pada masuknya varian ke tanah air, tetapi lebih menekankan pada kekuatan kapasitas deteksi dini
Angga Yudha Pratama - Rabu, 08 April 2026
Waspada Ledakan COVID-19 Cicada, Varian Baru Incar Anak Tanpa Vaksin di 25 Negara Dunia
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Video Perencanaan Pandemi COVID-19 dari Epstein Files Viral di Media Sosial
Konten itu ternyata merupakan bagian dari materi promosi rumah sakit yang berlokasi di Be’er Ya’akov, Israel.
Dwi Astarini - Kamis, 19 Februari 2026
[HOAKS atau FAKTA]: Video Perencanaan Pandemi COVID-19 dari Epstein Files Viral di Media Sosial
Indonesia
Penanganan Penyakit Tuberculosis Bakal Contoh Pola Pandemi COVID-19
Salah satu fokus dalam penanganan Tb adalah memperluas skrining atau deteksi dini. Masyarakat diimbau untuk tidak takut melakukan pemeriksaan, karena TBC dapat disembuhkan dengan pengobatan yang konsisten.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 17 Oktober 2025
Penanganan Penyakit Tuberculosis Bakal Contoh Pola Pandemi COVID-19
Indonesia
Kasus ISPA di Jakarta Naik Gara-Gara Cuaca, Warga Diminta Langsung ke Faskes Jika Ada Gejala
Gejala umum ISPA yang harus diwaspadai meliputi batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan demam
Angga Yudha Pratama - Kamis, 16 Oktober 2025
Kasus ISPA di Jakarta Naik Gara-Gara Cuaca, Warga Diminta Langsung ke Faskes Jika Ada Gejala
Lifestyle
Ciri-Ciri dan Risiko Warga Yang Alami Long COVID
Gejala long COVID tidak selalu sama pada setiap orang. Sebagian mengalami hanya satu keluhan, seperti sesak napas atau kelelahan (fatigue), sementara yang lain menghadapi kombinasi beberapa gangguan.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 12 Agustus 2025
Ciri-Ciri dan Risiko Warga Yang Alami Long COVID
Indonesia
Kemenkes Temukan 1 Kasus Positif COVID dari 32 Spesimen Pemeriksa
Kemenkes menjabarkan saat ini ada 179 kasus COVID-19, dengan 1 kasus positif dari 32 pemeriksaan yang ditemukan
Wisnu Cipto - Senin, 16 Juni 2025
Kemenkes Temukan 1 Kasus Positif COVID dari 32 Spesimen Pemeriksa
Indonesia
178 Orang Positif COVID-19 di RI, Jemaah Haji Pulang Batuk Pilek Wajib Cek ke Faskes Terdekat
Batuk-pilek disertai sesak napas dalam waktu kurang dari 14 hari setelah kembali dari Tanah Suci.
Wisnu Cipto - Senin, 16 Juni 2025
178 Orang Positif COVID-19 di RI, Jemaah Haji Pulang Batuk Pilek Wajib Cek ke Faskes Terdekat
Indonesia
Semua Pasien COVID-19 di Jakarta Dinyatakan Sembuh, Tren Kasus Juga Terus Menurun Drastis
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menegaskan bahwa situasi COVID-19 di Ibu Kota tetap terkendali
Angga Yudha Pratama - Jumat, 13 Juni 2025
Semua Pasien COVID-19 di Jakarta Dinyatakan Sembuh, Tren Kasus Juga Terus Menurun Drastis
Indonesia
Jakarta Tetap Waspada: Mengungkap Rahasia Pengendalian COVID-19 di Ibu Kota Mei 2025
Ani mengimbau masyarakat untuk terus menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan
Angga Yudha Pratama - Rabu, 11 Juni 2025
Jakarta Tetap Waspada: Mengungkap Rahasia Pengendalian COVID-19 di Ibu Kota Mei 2025
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Vaksin COVID-19 Terkoneksi Bluetooth di Aplikasi Handphone
Informasi ini diunggah akun Facebook “Jefri Papahnya Aqiela”.
Frengky Aruan - Senin, 09 Juni 2025
[HOAKS atau FAKTA]: Vaksin COVID-19 Terkoneksi Bluetooth di Aplikasi Handphone
Bagikan