Masih Gelap, Listrik dan BBM Jadi Kebutuhan Paling Mendesak Korban Bencana di Sumatra
Kendaraan mengantre membeli BBM di sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di ruas Jalan Manekroo, Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat. Hingga Selasa (9/12/2025) antrean panjang kendaraan masih memadati sejumlah SPBU di wilayah ini pasca bencana alam banjir bandang pada Rabu (26/11/2025) lalu. ANTARA/Teuku Dedi Iskandar
MerahPutih.com - Kementerian Sosial mengklaim telah menyalurkan bantuan logistik ke tiga provinsi terdampak banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara dengan total anggaran sebesar Rp 83 miliar.
Terdapat 39 dapur umum yang telah didirikan, dengan kapasitas pelayanan mampu mencapai 417 ribu setiap harinya. Selain itu, Kemensos juga telah menyalurkan beras sebanyak 101,4 ton per hari ini, dengan rincian di Aceh sebanyak 52 ton, Sumatera Utara 15 ton, dan Sumatera Barat 34,4 ton.
Dengan kondisi itu, Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono mengatakan, saat ini kebutuhan yang paling mendesak bagi masyarakat di Aceh Tamiang saat ini yakni listrik serta bahan bakar minyak (BBM).
"Seperti di Aceh Tamiang, itu kondisinya gelap, jadi listrik menjadi kebutuhan yang mendesak karena kalau listrik hidup tentunya air dari tanah bisa ditarik ke atas. Di samping itu, kebutuhan-kebutuhan mendesak yang lain misalnya BBM, itu yang dibutuhkan pada saat tanggap darurat," katanya dalam konferensi pers di Kantor Kemensos, Jakarta, Selasa (9/12).
Baca juga:
93 Persen Jaringan Listrik di Aceh Sudah Pulih, 4 Kabupaten Berhasil Menyala
Ia mengatakan, setelah terjun langsung selama beberapa hari untuk memantau pendistribusian di Aceh, Wamensos juga menyampaikan bahwa beberapa bupati di Aceh membutuhkan bantuan truk untuk mengangkut distribusi logistik hingga bantuan.
Sedangkan untuk beberapa wilayah yang masih terisolasi, bantuan terus disalurkan lewat udara, baik melalui helikopter atau pesawat hercules.
"Di Aceh Tamiang itu ada sekitar 10 kecamatan yang terisolasi dan Pak Bupati pada waktu itu meminta bantuan supaya ada truk minimal di satu kecamatan itu tiga, jadi memang untuk selanjutnya yang harus dilakukan melalui kolaborasi antarkementerian dan lembaga mendistribusikan bahan-bahan makanan, termasuk logistik ke daerah-daerah terpencil," ujarnya.
Ia menegaskan, saat ini proses penyaluran bantuan sudah cukup masif dan aman, hanya membutuhkan koordinasi dan kolaborasi yang lebih baik.
"Saya pikir sampai sekarang ini proses itu sudah sangat masif dan untuk permakanan saya pikir aman dan itu tinggal bagaimana kemudian bisa mendistribusikan secara merata ke daerah-daerah yang terpencil," ungkapnya.
Bagikan
Alwan Ridha Ramdani
Berita Terkait
Total Kerusakan dan Kerugian Bencana Alam di Sumbar Capai Rp 33,5 Triliun
Lalin Jembatan Bailey Bireuen Aceh-Medan Gantian Tiap 1 Jam, Buka-Tutup Hingga September
Ribuan Rumah di 14 Desa Karawang Teredam Banjir, 27 Ribu Warga Terdampak
TNI Bersihkan 19 Sekolah Terdampak Banjir di Aceh Tamiang
Jembatan Bailey Kutablang Aceh Kini Dijaga 24 Jam, Gara-Gara Ini!
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
Sumatera Barat Masuki Fase Pemulihan, BNPB Tekankan Validasi Lahan Aman Hunian
Kemenhut Bentuk Tim Percepatan Pembersihan Kayu Hanyut Pascabanjir Sumatra
Ratusan Ribuan Warga di Aceh Masih Mengungsi Setelah 2 Bulan Lalu di Terjang Banjir
Satgas PKH Tindak 23 Subjek Hukum Pemicu Bencana Sumatera