Kenali penyebab Resistensi Antibiotik

Muchammad YaniMuchammad Yani - Jumat, 22 November 2019
Kenali penyebab Resistensi Antibiotik

Dr. dr. Hari Paraton SpOG(K) (Foto: MP/Iftinavia Pradinantia)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KESADARAN masyarakat untuk menggunakan obat dengan dosis yang tepat dan aman masih rendah. Itu dibuktikan dengan tingginya angka penggunaan antibiotik tanpa resep di tengah masyarakat. Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 menunjukkan 35.2% masyarakat menyimpan antibiotik yang
diperoleh tanpa resep.

Padahal penggunaan antibiotik yang asal itu sangat membahayakan tubuh karena menyebabkan resistensi antibiotik. World Health Organization mencatat resistensi antibiotik merupakan salah satu ancaman kesehatan global. Resistensi antibiotik diperkirakan telah mengakibatkan 700 ribu kematian di seluruh dunia.

Baca juga:

Siklus Haid Tidak Normal Indikasi Kondisi Kesehatan Serius

Lalu apa itu resistensi antibiotik?

Resistensi antibiotik adalah suatu keadaan dimana bakteri resisten dan tidak dapat dimatikan dengan antibiotik. Akibatnya, kemampuan tubuh dalam melawan penyakit menjadi rendah. Penyakit pun akan sulit disembuhkan dan penyebarannya sulit dihentikan.

Resistensi antibiotik bisa terjadi jika menyalahgunakan antibiotik (Foto: MP/Iftinavia Pradinantia)
Resistensi antibiotik bisa terjadi jika menyalahgunakan antibiotik (Foto: MP/Iftinavia Pradinantia)

Jika dibiarkan dapat mengakibatkan kecacatan dan berujung pada kematian. Proses resistensi bakteri terhadap penyakit berlangsung cepat apabila mengonsumsi antibiotik secara berlebihan.

Jika jumlah bakteri yang resisten terhadap antibiotik semakin banyak, ragam prosedur medis seperti transplantasi organ, kemoterapi, pengobatan diabetes, dan operasi besar menjadi sangat berisiko. Efek dari kondisi ini, pasien harus menjalani perawatan yang lebih lama dan menanggung biaya perawatan yang lebih mahal.

Baca juga:

Penggunaan Antibiotik Sebabkan Kecacatan

Dr. dr. Hari Paraton SpOG(K), Ketua Komite Pencegahan Resistensi Antimikroba menjelaskan ada empat penyebab munculnya resistensi antibiotik. Pertama, pemakaian berlebihan (overused). "Kurangnya kontrol dari pihak pemberi antibiotik maupun inisiatif pengguna antibiotik membuat pengguna mengonsumsi lebih dari dosis," jelasnya.

Kedua, penggunaan antibiotik tanpa indikasi (misused). Banyak orang yang memakai antibiotik tanpa anjuran dokter sehingga menimbulkan resistensi pada suatu antibiotik. Kemudahan mereka dalam mendapatkan antibiotik tanpa resep membuatnya bisa menggunakan tanpa petunjuk dokter.

Sering mengonsumsi antibiotik tak beraturan membuat kuman (Foto: Pixabay/nastya_gepp)
Sering mengonsumsi antibiotik tak beraturan membuat kuman (Foto: Pixabay/nastya_gepp)

Ketiga, penggunaan di bawah dosis yang dianjurkan (underused). "Resistensi antibiotik bisa juga terjadi jika seseorang yang seharusnya rutin minum antibiotik, tetapi tidak mematuhi petunjuk penggunaan tersebut," tuturnya.

Keempat, transmisi bakteri resisten di fasilitas kesehatan akibat abainya menjalankan kewaspadaan universal. “Aturan pengendalian antibiotik sudah dikeluarkan melalui Permenkes No 8 Tahun 2015, yang mengatur setiap rumah sakit diwajibkan memiliki tim PPRA dan menerapkan program-program pengendalian antibiotik," bebernya.

Menurutnya, tantangan utama dari menerapkan PPRA adalah konsistensi dari semua komunitas kesehatan terutama manajemen rumah sakit dalam mengimplementasikan aturan di lapangan. "Jangan hanya andalkan rumah sakit tetapi harus ada kesadaran dari masyarakat," tukasnya.

Baca juga:

Susu vs Yogurt, Manakah yang Lebih Sehat?

#Penyakit #Info Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Muchammad Yani

Lebih baik keliling Indonesia daripada keliling hati kamu
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Olahraga
Wabah Ebola Bikin Kacau Persiapan Piala Dunia 2026, Laga RD Kongo vs Chili Resmi Dibatalkan
Wabah Ebola mengacaukan persiapan Piala Dunia 2026. Laga RD Kongo vs Chili pun harus dibatalkan akibat wabah tersebut.
Soffi Amira - Rabu, 03 Juni 2026
Wabah Ebola Bikin Kacau Persiapan Piala Dunia 2026, Laga RD Kongo vs Chili Resmi Dibatalkan
Dunia
Senggolan Bawa Petaka! Kemenkes Uganda Haramkan Warga Jabat Tangan Demi Cegah Penularan Wabah Ebola
Data terbaru otoritas DRC mencatat 131 kematian akibat virus tersebut terjadi di negara tetangga Uganda
Angga Yudha Pratama - Rabu, 20 Mei 2026
Senggolan Bawa Petaka! Kemenkes Uganda Haramkan Warga Jabat Tangan Demi Cegah Penularan Wabah Ebola
Indonesia
BRIN Jelaskan Cara Penularan hingga Pencegahan Hantavirus, Gejalanya Mirip Flu
BRIN mengimbau masyarakat untuk memahami penularan hantavirus. Virus ini berasal dari hewan pengerat atau tikus liar.
Soffi Amira - Rabu, 13 Mei 2026
BRIN Jelaskan Cara Penularan hingga Pencegahan Hantavirus, Gejalanya Mirip Flu
Indonesia
Hantavirus Ancam Dunia, DPR Desak Pemerintah Siapkan Deteksi Dini
Kasus hantavirus kini sudah muncul di Indonesia. Komisi IX DPR pun meminta pemerintah untuk memperkuat deteksi dini.
Soffi Amira - Senin, 11 Mei 2026
Hantavirus Ancam Dunia, DPR Desak Pemerintah Siapkan Deteksi Dini
Lifestyle
Dokter Tirta Sebut Hantavirus Sulit Jadi Pandemi Global, ini Alasannya
Dokter Tirta buka suara soal Hantavirus. Ia menyebutkan, bahwa penularannya sangat sulit.
Soffi Amira - Jumat, 08 Mei 2026
Dokter Tirta Sebut Hantavirus Sulit Jadi Pandemi Global, ini Alasannya
Indonesia
Jemaah Calon Haji Indonesia yang Wafat Bertambah Jadi 12 Orang, Kemenhaj Ungkap Penyebab
Dua jemaah calon haji Indonesia wafat di Arab Saudi. Kini, total calon haji yang meninggal dunia mencapai 12 orang.
Soffi Amira - Kamis, 07 Mei 2026
Jemaah Calon Haji Indonesia yang Wafat Bertambah Jadi 12 Orang, Kemenhaj Ungkap Penyebab
Indonesia
Cara Menangani Paparan Hantavirus Sejak Dini, Jangan Asal Bersihkan Kotoran Tikus
Kenali cara menangani paparan hantavirus sejak dini, mulai dari membersihkan area terkontaminasi hingga mengenali gejala awal yang mirip flu biasa.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 07 Mei 2026
Cara Menangani Paparan Hantavirus Sejak Dini, Jangan Asal Bersihkan Kotoran Tikus
Dunia
WHO Ungkap Kasus Hantavirus di Kapal Pesiar, Ketahui Cara Penularan hingga Risikonya
WHO melaporkan kasus hantavirus di kapal MV Hondius. 3 penumpang tewas, satu pasien dirawat intensif. Simak penjelasan pakar soal penularan dan bahayanya.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 06 Mei 2026
WHO Ungkap Kasus Hantavirus di Kapal Pesiar, Ketahui Cara Penularan hingga Risikonya
Indonesia
Jelang Idul Adha 2026, DPR Minta Pengawasan Ketat Hewan Kurban untuk Cegah PMK
DPR meminta pengawasan ketat terhadap hewan kurban menjelang Idul Adha 2026. Sebab, penyakit PMK mulai mengintai.
Soffi Amira - Selasa, 05 Mei 2026
Jelang Idul Adha 2026, DPR Minta Pengawasan Ketat Hewan Kurban untuk Cegah PMK
Indonesia
450 Kasus TBC Ditemukan di Solo Awal 2026, Pemkot Lakukan Cek Kesehatan Gratis dan Tracing Intensif
Dinkes Solo mencatat, sebanyak 450 kasus TBC ditemukan sejak awal 2026. Pemkot Solo pun menggelar cek kesehatan gratis.
Soffi Amira - Kamis, 23 April 2026
450 Kasus TBC Ditemukan di Solo Awal 2026, Pemkot Lakukan Cek Kesehatan Gratis dan Tracing Intensif
Bagikan