BRIN Jelaskan Cara Penularan hingga Pencegahan Hantavirus, Gejalanya Mirip Flu

Soffi AmiraSoffi Amira - Rabu, 13 Mei 2026
BRIN Jelaskan Cara Penularan hingga Pencegahan Hantavirus, Gejalanya Mirip Flu

Hantavirus umumnya ditularkan melalui paparan partikel dari hewan pengerat, terutama tikus. (Foto: Pexels/Vincent M.A. Janssen)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengimbau masyarakat untuk memahami hantavirus secara tepat.

Khususnya, mulai dari sumber penularan, gejala klinis, hingga langkah pencegahan yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristiyanto menjelaskan, bahwa hantavirus merupakan kelompok virus zoonotik yang ditularkan melalui rodensia atau hewan pengerat, terutama tikus liar.

Beberapa jenis tikus yang diketahui dapat menjadi reservoir hantavirus antara lain tikus rumah (Rattus rattus), tikus got (Rattus norvegicus), tikus ladang, hingga mencit liar yang hidup di area permukiman, pertanian, maupun hutan.

Baca juga:

Penumpang Terakhir Tinggalkan MV Hondius yang Dilanda Hantavirus, 25 Kru dan 2 Tenaga Medis masih Tertahan di Kapal

Salah satu jenis hantavirus yang banyak dibahas adalah Andes virus, yang ditemukan pada tikus liar (Oligoryzomys longicaudatus) spesies umum di kawasan Patagonia, Argentina, dan Chile.

Virus ini diketahui dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yaitu infeksi paru berat yang berpotensi menimbulkan gagal napas akut. Reservoir utama Andes virus adalah tikus liar.

“Penularan umumnya terjadi ketika manusia menghirup partikel halus dari urin, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi,” jelas Ristiyanto dalam keterangan tertulisnya, dikutip Rabu (13/5).

Ia menambahkan, penelitian mengenai hantavirus di Indonesia sebenarnya telah dilakukan sejak 1991 oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) Kementerian Kesehatan, khususnya di wilayah Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur.

Baca juga:

4 Kasus Hantavirus Ditemukan di Jakarta, DPRD DKI Minta Pemprov Tingkatkan Kewaspadaan

Penelitian tersebut menjadi bagian dari upaya pemantauan penyakit zoonosis dan identifikasi rodensia yang berpotensi menjadi reservoir virus di Indonesia.

Menurutnya, gejala awal infeksi hantavirus sering menyerupai influenza, seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, lemas, hingga gangguan pencernaan.

Dikarenakan gejalanya tidak spesifik, diagnosis dini kerap terlambat dilakukan. Dalam kondisi berat, infeksi dapat berkembang cepat menjadi gangguan pernapasan serius yang membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit.

Ristiyanto menyebutkan, bahwa tingkat kematian akibat HPS tergolong tinggi, yakni berkisar 20 hingga 35 persen.

Jadi, kewaspadaan terhadap paparan rodensia dan deteksi dini menjadi faktor penting dalam pencegahan penyakit ini.

Baca juga:

Hantavirus Menyebar, Penumpang dari AS Bakal Diawasi Kekarantinaan Kesehatan Soetta

Ia juga menekankan, bahwa hingga saat ini Indonesia belum pernah melaporkan kasus Andes virus.

Selain itu, berdasarkan hasil riset vektor dan reservoir penyakit di Indonesia pada periode 2015–2018, Andes virus juga tidak ditemukan pada kelompok tikus domestik, peridomestik, maupun silvatik yang diteliti.

Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat Indonesia memiliki keanekaragaman rodensia yang tinggi, kepadatan penduduk besar, serta kondisi lingkungan yang mendukung perkembangan populasi tikus.

Sementara itu, Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Arief Mulyono menegaskan, masyarakat perlu memahami informasi mengenai Andes virus secara proporsional.

Meski terdapat laporan ilmiah mengenai kemungkinan penularan antarmanusia, karakteristik penyebarannya sangat berbeda dengan penyakit yang mudah menular seperti influenza, campak, maupun COVID-19. (knu)

“Penularan antarmanusia pada Andes virus sangat jarang terjadi dan umumnya hanya berlangsung melalui kontak erat dan intensif dalam waktu lama. Penyakit ini tidak menyebar cepat melalui udara di lingkungan masyarakat,” ujar Arief.

#Hantavirus #Penyakit #Penyebaran Virus #BRIN
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Kasus ISPA di Jakarta Naik 15,7 Persen, Dinkes DKI: Bukan karena Influenza A
Kasus ISPA di Jakarta naik 15,7 persen. Namun, Dinkes DKI menegaskan bahwa penyebabnya bukan dari influenza A.
Soffi Amira - Selasa, 22 September 2026
Kasus ISPA di Jakarta Naik 15,7 Persen, Dinkes DKI: Bukan karena Influenza A
Lifestyle
Awas Musim Flu 2026 Mendekat! Cek Jadwal Vaksin dan Strain Virus yang Wajib Diwaspadai
Jangan sampai tumbang! Ancaman musim flu 2026 di depan mata. Cek panduan lengkap jadwal vaksin flu, info strain virus terbaru, dan opsi vaksin mRNA mFLUSIVA.
Angga Yudha Pratama - Jumat, 18 September 2026
Awas Musim Flu 2026 Mendekat! Cek Jadwal Vaksin dan Strain Virus yang Wajib Diwaspadai
Indonesia
Tragedi KM Virgo Transport Makin Misterius, Data BRIN Tunjukkan Ombak Laut Bersahabat
BRIN merilis analisis ilmiah hilangnya KM Virgo Transport di Laut Jawa. Tinggi gelombang bukan kategori ekstrem hanya 1,5 m. Simak temuan selengkapnya di sini!
Wisnu Cipto - Selasa, 15 September 2026
Tragedi KM Virgo Transport Makin Misterius, Data BRIN Tunjukkan Ombak Laut Bersahabat
Indonesia
110 Ribu Warga Masih Mengungsi akibat Gempa NTT, Ancaman Penyakit Mulai Mengintai
Sebanyak 110 ribu pengungsi gempa di NTT kini terancam terkena penyakit. Air bersih dan sanitasi pun terbatas.
Soffi Amira - Selasa, 25 Agustus 2026
110 Ribu Warga Masih Mengungsi akibat Gempa NTT, Ancaman Penyakit Mulai Mengintai
Indonesia
3 Teknologi untuk Rumah Tahan Gempa, dari Seismic Rubber Bearing hingga Papan Komposit Polimer
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merilis sejumlah terobosan khusus terkait dengan kesiapan bencana dalam bentuk pembangunan rumah.
Dwi Astarini - Jumat, 21 Agustus 2026
3 Teknologi untuk Rumah Tahan Gempa, dari Seismic Rubber Bearing hingga Papan Komposit Polimer
Indonesia
Pesawat N219 dan Varian Amfibinya Bakal Dirangcang Buat Visi Ambulans Udara Presiden Prabowo
Sebagai tulang punggung sistem nirawak, ia menjelaskan BRIN mengembangkan Pesawat Udara Nirawak (PUNA) MALE yang mampu mengudara selama 24 jam nonstop
Alwan Ridha Ramdani - Minggu, 16 Agustus 2026
Pesawat N219 dan Varian Amfibinya Bakal Dirangcang Buat Visi Ambulans Udara Presiden Prabowo
Indonesia
BRIN Perkuat Penguasaan Teknologi Nuklir, Siapkan Indonesia Hadapi Era PLTN
BRIN membangun ekosistem teknologi nuklir dari hulu hingga hilir agar Indonesia siap memasuki era PLTN tanpa bergantung pada teknologi asing.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 07 Agustus 2026
BRIN Perkuat Penguasaan Teknologi Nuklir, Siapkan Indonesia Hadapi Era PLTN
Indonesia
BRIN Pastikan Kelola Data Satelit Lampung-1 Yang Diluncurkan Perusahaan Antariksa Komersial China
Selain memastikan keamanan data proyek satelit tersebut, Arif mengungkapkan BRIN juga tengah menyiapkan peluncuran satelit buatan dalam negeri, BRIN NEO-1, yang dijadwalkan mengorbit pada awal 2027.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 06 Agustus 2026
BRIN Pastikan Kelola Data Satelit Lampung-1 Yang Diluncurkan Perusahaan Antariksa Komersial China
Indonesia
Presiden Prabowo Bangun Sekolah Unggulan hingga Undang Universitas Terbaik Dunia
Presiden menegaskan fondasi utama untuk menguasai sains dan teknologi yakni sistem pendidikan yang kuat.
Dwi Astarini - Kamis, 06 Agustus 2026
Presiden Prabowo Bangun Sekolah Unggulan hingga Undang Universitas Terbaik Dunia
Indonesia
BRIN Fokus Kembangkan Teknologi Nuklir hingga AI, Tingkatkan Daya Saing Indonesia
BRIN fokus mengembangkan teknologi-teknologi maju yang diharapkan mampu memperkuat daya saing ekonomi Indonesia dalam dua hingga tiga dekade mendatang.
Dwi Astarini - Kamis, 06 Agustus 2026
BRIN Fokus Kembangkan Teknologi Nuklir hingga AI, Tingkatkan Daya Saing Indonesia
Bagikan