MerahPutih.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan pentingnya penguasaan teknologi nuklir secara menyeluruh sebagai langkah strategis agar Indonesia tidak hanya menjadi pembeli teknologi ketika mulai mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan lembaganya tengah membangun ekosistem nuklir nasional secara holistik, mulai dari penguasaan bahan baku hingga pengelolaan limbah.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan Indonesia memiliki kemampuan teknologi yang mandiri saat memasuki era pemanfaatan energi nuklir.
“Kami berupaya menguasai seluruh rantai teknologi, mulai dari penambangan dan pemurnian uranium serta torium, fabrikasi bahan bakar, teknologi reaktor, keselamatan, metrologi radiasi, hingga pengolahan limbah,” ujar Arif di Kompleks Istana Kepresidenan dikutip Jumat (7/8).
Baca juga:
Dihadapan Periset BRIN, Presiden Ingin Pimpin Pemerintahan Berdasar Realitas
BRIN Ingin Indonesia Tak Bergantung pada Teknologi Asing
Menurut Arif, pengembangan teknologi nuklir menjadi salah satu fokus utama BRIN dalam mendukung kedaulatan nasional, terutama di bidang energi, kesehatan, pangan, dan pengawasan wilayah.
Ia menegaskan, penguasaan teknologi harus dipersiapkan sejak dini agar Indonesia tidak sepenuhnya bergantung pada negara lain ketika memutuskan membangun dan mengoperasikan PLTN.
BRIN harus menyiapkan kemampuan teknologi nuklir sejak sekarang agar ketika Indonesia memutuskan memasuki era PLTN, kita tidak memulai sepenuhnya dari nol dan tidak hanya menjadi pembeli teknologi,
Kepala BRIN, Arif Satria.
Semikonduktor, AI, hingga Teknologi Kuantum Jadi Prioritas
Selain teknologi nuklir, BRIN juga memprioritaskan pengembangan sejumlah teknologi strategis lainnya, seperti semikonduktor, kecerdasan artifisial (AI), genomik, dan teknologi kuantum.
Menurut Arif, penguasaan teknologi-teknologi tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing Indonesia sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dalam dua hingga tiga dekade mendatang.
Ia menjelaskan, pengalaman berbagai negara menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara kapasitas inovasi dengan tingkat kemajuan ekonomi.
Baca juga:
BRIN Fokus Kembangkan Teknologi Nuklir hingga AI, Tingkatkan Daya Saing Indonesia
Negara-negara yang menempati peringkat teratas dalam Global Innovation Index (GII), seperti Swiss, Swedia, Amerika Serikat, dan Korea Selatan, juga memiliki pendapatan per kapita yang tinggi.
“Riset dan inovasi merupakan lokomotif pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan sekaligus fondasi daya saing Indonesia di masa depan,” ujar Arif. (Knu)