MerahPutih.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan fenomena El Nino yang diperkirakan bertahan hingga awal 2027 berpotensi menekan pasokan listrik nasional.
Lonjakan konsumsi energi diprediksi terjadi bersamaan dengan penurunan debit air waduk yang menjadi sumber utama Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Baca juga:
BMKG Ingatkan Dampak El Nino, 6 Provinsi Jadi Prioritas Antisipasi Kekeringan dan Karhutla
Konsumsi Energi Nasional Melonjak, Suplai PLTA Terganggu
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan peningkatan suhu udara selama kemarau panjang mendorong masyarakat menggunakan pendingin ruangan secara masif, sehingga menyebabkan beban puncak listrik melonjak.
Di sisi lain, kapasitas produksi energi bersih dari PLTA terancam menurun jika debit air waduk dan danau surut. Tanpa manajemen alokasi air yang presisi, suplai listrik bisa terganggu.
“Informasi mengenai curah hujan sangat penting untuk menentukan rencana penggunaan air di PLTA-PLTA. Cuaca panas memicu lonjakan konsumsi energi, sehingga data iklim ini sangat digunakan untuk menentukan langkah antisipasi,” kata Ardhasena dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (30/7).
Baca juga:
BMKG mendorong Kementerian ESDM, PLN, dan pengelola bendungan untuk menggunakan data iklim terbaru sebagai acuan pengaturan turbin air.
Manajemen alokasi air yang presisi menjadi kunci agar suplai listrik dari PLTA tetap stabil hingga melewati periode puncak kemarau,
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan
El Nino Diprediksi Memuncak Desember 2026-Januari 2027
BMKG memproyeksikan indeks El Nino mencapai puncak pada Desember 2026 hingga Januari 2027. Bahkan, ada peluang fenomena ini berkembang melampaui kategori kuat sehingga dampaknya terhadap iklim Indonesia perlu terus diantisipasi.
Baca juga:
Pemprov DKI Siap Lakukan Hujan Buatan Hadapi Kemarau Panjang
Data BMKG menunjukkan pada dasarian terakhir Juli 2026, 509 Zona Musim (ZOM) atau 54,5% wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Dilansir dari Antara, wilayah hujan tersisa di tanah air hanya 77 ZOM.
Secara spasial, kemarau mendominasi wilayah selatan khatulistiwa: Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan Timur, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Banyak daerah sudah masuk kategori Merah (lebih dari 60 hari tanpa hujan), Merah muda (31–60 hari), dan Cokelat tua (21–30 hari).
“Kondisi ini sesuai pola klimatologis Indonesia, di mana musim kemarau biasanya bermula dari Nusa Tenggara Timur lalu bergerak ke arah barat,” tandas Ardhasena. (*)

