Merahputih.com - BMKG mengonfirmasi munculnya fenomena El Niño sangat kuat dengan nilai SSTA mencapai +2.99 pada pertengahan Agustus 2026. Lonjakan suhu permukaan laut yang ekstrem ini memicu meluasnya wilayah kemarau hingga 79,9% ZOM serta menempatkan sebagian besar Pulau Jawa dan Nusa Tenggara dalam status Awas kekeringan meteorologis.
Masyarakat dan pemerintah daerah diimbau untuk segera memperkuat tata kelola air bersih guna mengantisipasi puncak kemarau yang diprediksi berlangsung hingga November 2026.
Baca juga:
Memasuki dasarian III Agustus 2026, laporan analisis curah hujan BMKG mencatat bahwa 88,61% wilayah Indonesia mengalami curah hujan jauh di bawah normal.
Kondisi ini kian diperparah oleh indeks Dipole Mode Samudra Hindia (IOD positif) yang merangkak naik ke angka +0.394, sehingga memperketat kelangkaan pembentukan awan hujan di kawasan selatan khatulistiwa.
Ancaman kekeringan meteorologis ini berpotensi memicu kekeringan lahan pertanian, penyusutan cadangan waduk, hingga peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan hasil pemantauan Dasarian II Agustus 2026, nilai SSTA di region Nino3.4 tercatat sebesar +2.99 yang menunjukkan indikasi El Niño dengan intensitas sangat kuat, didukung oleh indeks IOD dasarian yang merangkak naik ke angka +0.394,
tulis laporan monitoring iklim BMKG
Daftar Isi
-
Analisis ENSO dan IOD: Mengapa Kemarau 2026 Terasa Sangat Terik?
-
Peta Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis (Dasarian III Agustus 2026)
-
Sebaran Musim Kemarau: 79,9% Wilayah Indonesia Sudah Mengering
-
Proyeksi Curah Hujan Hingga Februari 2027: Kapan Hujan Mulai Turun?
-
Kesimpulan dan Langkah Mitigasi Penting
Analisis ENSO dan IOD: Mengapa Kemarau 2026 Terasa Sangat Terik?
Daftar Isi
- Analisis ENSO dan IOD: Mengapa Kemarau 2026 Terasa Sangat Terik?
- Peta Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis (Dasarian III Agustus 2026)
- Sebaran Musim Kemarau: 79,9% Wilayah Indonesia Sudah Mengering
- Proyeksi Curah Hujan Hingga Februari 2027: Kapan Hujan Mulai Turun?
- Kesimpulan dan Langkah Mitigasi Penting

Dua iklim utama pengguncang cuaca dunia, El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD), saat ini berada pada fase yang saling menguatkan fenomena kekeringan di Indonesia.
-
Indeks ENSO (Region Niño3.4): Berada di angka +2.99 (naik tajam dari Juli yang tercatat +2.20). Angka di atas +2.0 merupakan indikator resmi fenomena El Niño Sangat Kuat.
-
Indeks IOD Bulanan: Tercatat sebesar +0.394 (meningkat dari Juli sebesar +0.242), mengindikasikan fase IOD Positif yang menyedot pasokan uap air menjauhi wilayah Indonesia barat.
Kombinasi kedua fenomena ini menyebabkan 90,29% wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori Rendah pada pertengahan Agustus 2026.
Peta Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis (Dasarian III Agustus 2026)

BMKG memetakan tingkatan risiko kekeringan berdasarkan durasi hari tanpa hujan dan proyeksi curah hujan ke depan:
| Status Risiko | Wilayah Terdampak |
|
AWAS (Tinggi) |
• Sebagian besar Pulau Jawa • Sebagian besar Nusa Tenggara (NTB & NTT) • Sebagian kecil Kalimantan Selatan dan Maluku |
|
SIAGA (Sedang) |
• Sumatra bagian selatan (sebagian) • Jawa bagian barat & tengah (sebagian) • Sebagian besar Pulau Kalimantan • Sulawesi bagian utara & selatan (sebagian) • Sebagian besar Kepulauan Maluku & Papua bagian selatan |
|
WASPADA (Rendah) |
• Kalimantan bagian tengah & utara (beberapa wilayah) • Sulawesi & Maluku (sebagian kecil) • Papua bagian selatan |
Sebaran Musim Kemarau: 79,9% Wilayah Indonesia Sudah Mengering

Hingga pertengahan Agustus 2026, sebanyak 559 Zona Musim (ZOM) atau 79,9% wilayah Indonesia resmi berada di dalam cengkeraman musim kemarau.
Wilayah-wilayah yang sedang mengalami musim kemarau meliputi:
-
Sumatra: Aceh (sebagian), Sumut (sebagian), Riau, Kep. Riau, Jambi, Bengkulu, Sumsel, Babel, Lampung.
-
Jawa & Bali-Nusa Tenggara: Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT (merata).
-
Kalimantan: Kalbar, Kalteng, Kalsel, Kaltara, serta sebagian besar Kaltim.
-
Sulawesi: Gorontalo, Sulteng, Sulbar, Sulsel, Sultra, Sulut.
-
Maluku & Papua: Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
Proyeksi Curah Hujan Hingga Februari 2027: Kapan Hujan Mulai Turun?
Berdasarkan pemodelan prediksi curah hujan BMKG, tren kekeringan ekstrem diproyeksikan bertahan selama beberapa bulan ke depan sebelum akhirnya melandai di akhir tahun.
1. Prediksi Dasarian (Akhir Agustus – Pertengahan September 2026)
Curah hujan pada periode Agustus III hingga September II 2026 umumnya berada pada rentang Rendah hingga Menengah (0–150 mm/dasarian).
Kategori hujan amat rendah (<50 mm/dasarian) memapar hampir seluruh wilayah Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku dan Papua.
2. Tren Curah Hujan Sangat Rendah (<50 mm/Bulan)
-
September 2026 (Puncak Rentan): Berpotensi tinggi terjadi di Bengkulu selatan, Sumsel, Babel, Lampung, seluruh Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalbar selatan, Kalteng, Kalsel, Kaltim, Sulawesi, Malut, Maluku, hingga kawasan Papua.
-
Oktober 2026 (Mulai Menyempit): Terfokus di Sumsel bagian selatan, Lampung, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalsel selatan, Sulteng timur, Sulsel selatan, Sultra, Maluku selatan, dan Papua Selatan.
-
November 2026 (Fase Transisi): Area curah hujan <50mm/bulan tersisa di Madura (Jawa Timur), NTB bagian timur, NTT, Sulsel selatan, Sultra selatan, dan sebagian kecil Papua Selatan.
-
Desember 2026 – Februari 2027 (Kembalinya Musim Hujan): Nihil / Tidak ada wilayah yang berpotensi mengalami curah hujan <50 mm/bulan. Indonesia diprediksi mulai memasuki musim hujan secara merata.
Kesimpulan dan Langkah Mitigasi Penting
Fenomena El Niño sangat kuat 2026 membutuhkan langkah tanggap cepat dari berbagai pihak:
-
Sektor Pertanian: Petani di wilayah status Awas (Jawa, Bali, NTB, NTT) disarankan menyesuaikan pola tanam ke komoditas hemat air (palawija) atau menunda masa tanam.
-
Manajemen Air Bersih: Pemerintah daerah perlu mendistribusikan pasokan air bersih secara berkala ke titik-titik krisis kekeringan.
-
Antisipasi Karhutla: Pembukaan lahan dengan cara membakar wajib dihentikan total, terutama di wilayah Kalimantan dan Sumatra bagian selatan.