MerahPutih.com - Pemerintah menegaskan kesiapan menghadapi musim kemarau 2026 dengan strategi antisipasi, adaptasi, dan mitigasi berbasis teknologi.
Fokus utama diarahkan pada efisiensi penggunaan air, percepatan tanam, serta penguatan infrastruktur irigasi untuk menjaga ketahanan pangan nasional.
Baca juga:
Puncak Musim Kemarau 2026: BMKG Prediksi El Nino Lebih Kering
Percepatan Tanam dan Pola Tumpang Sari
Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Sekjen Kementan), Suwandi, menyebut percepatan tanam menjadi kunci peningkatan indeks pertanaman.
“Kalau selama ini tanam dua kali setahun, kita dorong menjadi tiga kali. Dengan lahan yang sama, produksi bisa meningkat karena frekuensi tanamnya bertambah,” kata Suwandi, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (17/6).
Menurut dia, petani juga didorong memanfaatkan lahan dengan pola tumpang sari menggunakan komoditas seperti kacang tanah, kacang hijau, dan sayuran. Strategi ini diyakini mampu meningkatkan produktivitas sekaligus pendapatan petani.
Baca juga:
BMKG Prediksi Kemarau 2026 Berlangsung hingga Tujuh Bulan di Sejumlah Wilayah
Infrastruktur Air dan Perlindungan Petani
Pemerintah menyiapkan tambahan 57 ribu unit pompa air untuk melayani sekitar satu juta hektare lahan, melengkapi sistem perpompaan yang sebelumnya mendukung dua juta hektare.
Kekuatan utama kita menghadapi musim kemarau adalah sistem perpompaan, pengelolaan sumber air dari waduk, embung, sungai maupun sumur yang terhubung dengan teknologi dan energi memadai,
Sekjen Kementan Suwandi.
Selain menjaga produksi, pemerintah juga memperkuat perlindungan petani melalui program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dengan nilai pertanggungan hingga Rp 6 juta per hektare. Petani terdampak kekeringan akan mendapat bantuan benih gratis, sarana produksi, serta pendampingan percepatan tanam kembali.
Pemerintah juga telah menyiapkan berbagai varietas unggul yang lebih adaptif terhadap kondisi kekeringan, seperti Inpari, Inpago, Situbagendit, Situ Patenggang, Pajajaran, dan varietas genjah lainnya.
Baca juga:
Bapanas Butuh Tambahan Rp 17,73 Triliun pada 2027 Buat Stabilkan Harga Pangan
Sosialisasi Informasi Cuaca dan Iklim Terbaru
Kementan juga terus memperbarui informasi cuaca dan iklim melalui pemantauan BMKG dan satelit NOAA agar petani dapat menyesuaikan pola tanam sesuai kondisi lapangan.
Melalui surat yang dikirim kepada gubernur dan bupati pada 9 Maret 2026, pemerintah daerah diminta memetakan wilayah rawan kekeringan, memperkuat sistem peringatan dini, memperbaiki jaringan irigasi, melakukan normalisasi saluran air, serta mengoptimalkan pemanfaatan embung dan waduk.
“Kita minta daerah melakukan pemetaan wilayah yang selama ini menjadi langganan kekeringan sehingga langkah-langkah penyelamatan bisa dilakukan lebih cepat dan lebih tepat,” tandas Suwandi. (Pon)