MerahPutih.com - Peternak ayam Soloraya menggelar aksi demo dipicu mahalnya harga pakan ayam seperti jagung yang mencekik. Naiknya harga pakan bikin peternak sampai menggadaikan sertifikat tanah, BPKB dan lain untuk menutupi biaya operasional.
Aksi mereka diawali dengan membentangkan spanduk ‘Harga Pakan Tidak Terjangkau’; ‘BKK mahal’; ‘Pakan Mahal Bisa Bangkrut, dan lainnya. Aksi juga dilakukan dengan bagikan 50 ekor ayam hidup dan ditutup bagikan 1.000 telur.
Penanggung Jawab aksi, Krishandika Immanuel Raharjo, peternakan ayam saat ini sangat berat dan tidak dalam baik-baik saja. Dimana semua pakan ayam melambung tinggi satu setengah tahun ini.
Kami peternak gabungan Soloraya merana. Kami mengalami tekanan, harga telur dibawah HAP (Harga Acuan Pemerintah),
ujar Raharjo, Rabu (5/8).
Baca juga:
Presiden Prabowo: Kita tak akan Swasembada Satu Tahun, tapi Seterusnya
Ia menyebut HAP telur pada bulan Juli justru turunkan. Padahal harga pakan hari ini terus naik.
“Komposisi harga pakan cukup naik signifikan seperti jagung harga di tingkat pernak bisa sampai Rp 6.800 per kg sampai Rp 7.000. Padahal HAP pemerintah hari ini hanya Rp 5.500 per kg,” katanya.
Ia menegaskan, swasembada jagung saat ini belum bisa bawa harga jagung pakan ternak diangka HAP ditingkat peternak. Dilain sisi harga jagung internasional cukup murah.
Bukan saya ingin impor, tetapi jika kita ingin solusi, kenapa impor harus ditutup. Itu yang kami harapkan,
katanya.
Persoalan lain, perintah membuat kebijakan impor tunggal melalui BUMN yang justru membuat terjadinya harga pakan ayam naik signifikan.
Ini membuat kami semakin tekan dari peternak. Karena menyusun harga pokok produksi juga ikut naik. Itu yang terjadi temen peternak dan jika ini berlarut-larut dan margin makin tipis peternak rakyat bisa tutup dan kalah dengan peternak modal besar. Ini sangat ironis akan terjadi PHK massal,
katanya.