Karbon Dioksida Capai Rekor Tertinggi di Atmosfer Bumi

P Suryo RP Suryo R - Selasa, 26 November 2019
Karbon Dioksida Capai Rekor Tertinggi di Atmosfer Bumi

Peningkatan suhu udara secara global. (Foto: Pixabay/geralt)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

EFEK gas rumah kaca paling bertanggung jawab atas pemanasan global. Menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), sudah mencapai titik tertinggi di atmosfer bumi pada tahun 2018.

Sekretaris Jenderal WMO Petteri Taalas mengatakan, terlepas dari semua komitmen di bawah Perjanjian Paris tentang Perubahan Iklim, konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer belum menunjukan tanda-tanda melambat, apalagi penurunan.

Baca Juga:

Tren Ramah Lingkungan Belum Mampu Kalahkan Efek Rumah Kaca

pemanasan
Perubahan iklim mengancam generasi muda. (Foto: Pixabay/Tumisu)


Konsentrasi karbon dioksida rata-rata global mencapai 407,8 bagian per juta pada tahun 2018. Ini naik dari 405,5 bagian per juta pada tahun 2017, kata WMO.

Pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak dan gas melepaskan gas rumah kaca seperti karbon dioksida dan metana ke atmosfer bumi dan lautan. Ilmuwan mengatakan bahwa penambahan gas rumah kaca sudah menyebabkan suhu bumi naik ke tingkat yang tidak dapat dijelaskan oleh faktor alam.

Menurut badan kelautan dan atmosfer Amerika yang ditulis pada usatoday, dalam 20 tahun terakhir, suhu dunia telah meningkat sekitar dua pertiga derajat Fahrenheit. Perubahan iklim merusak kesehatan anak-anak dan menjadi ancaman belangsungan kehidupan.


Baca Juga:

Superyacht Aqua, Kapal Pesiar Termewah yang Ramah Lingkungan

karbon
Karbon dioksida yang mengancam kelangsungan hidup. (Foto: Pixabay/GoranH)


WMO menekankan adanya tren jangka panjang peningkatan karbon dioksida ini berdampak pada generasi masa depan. Mereka terancam dengan dampak perubahan iklim yang semakin parah. Kenaikan suhu, cuaca yang lebih ekstrem, tekanan air, kenaikan permukaan laut dan gangguan terhadap laut. dan ekosistem darat.

Perlu diingat, 3-5 juta tahun yang lalu, bumi terakhir kali mengalami konsentrasi karbon dioksida yang sama. Saat itu, suhu bumi 5 derajat lebih hangat dan permukaan laut mencapai 65 kaki atau 19,2 meter lebih tinggi dari sekarang. (lgi)

Baca Juga:

4 Tempat Wisata Ini Melarang Wisatawan Pakai Tabir Surya

#Rumah Kaca #Gas #Pemanasan Global
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Dunia
Cuaca Panas Ekstrem Bahayakan Ibu Hamil dan Newborn
suhu panas ekstrem yang terjadi selama kehamilan makin terikat dengan kelahiran prematur, bayi lahir mati, berat rendah, serta komplikasi maternal pada ibu.
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
  Cuaca Panas Ekstrem Bahayakan Ibu Hamil dan Newborn
Dunia
15 Pulau Anyar Muncul Kawasan Arktik Akibat Pemanasan Global
Pemanasan global menyebabkan bagian depan gletser, yang dikenal sebagai gletser outlet, mengalami penyusutan
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 29 September 2026
15 Pulau Anyar Muncul Kawasan Arktik Akibat Pemanasan Global
Dunia
Perdana Menteri Nepal Sebut Banjir Bandang Peringatan bagi Dunia, Desak Kerja Sama Global untuk Hadapi Krisis
Pemanasan global telah merusak stabilitas ekologi Himalaya yang rapuh, melelehkan permafrost serta gletser, dan mempercepat timbulnya berbagai bahaya.
Dwi Astarini - Jumat, 25 September 2026
Perdana Menteri Nepal Sebut Banjir Bandang Peringatan bagi Dunia, Desak Kerja Sama Global untuk Hadapi Krisis
Dunia
Kiamat Es Greenland dan Antartika: 12,5 Triliun Ton Lenyap, Ini Dampak Mengerikannya
Sebanyak 12,5 triliun ton es kutub mencair sejak 1970-an akibat pemanasan global. Simak data satelit terbaru dan dampak mengerikan kenaikan permukaan laut di sini
Angga Yudha Pratama - Kamis, 24 September 2026
Kiamat Es Greenland dan Antartika: 12,5 Triliun Ton Lenyap, Ini Dampak Mengerikannya
Indonesia
Politisi AS dan Uni Eropa Siapkan Teknologi Rekayasa Iklim
Para aktivis lingkungan menentang keras penggunaan teknologi tersebut karena berisiko merusak lapisan ozon pelindung bumi
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 24 September 2026
Politisi AS dan Uni Eropa Siapkan Teknologi Rekayasa Iklim
Dunia
Agustus Terpanas Sepanjang Sejarah, Perubahan Iklim dan El Nino Penyebabnya
Terjadi persis seperti yang telah diperkirakan para ilmuwan sejak puluhan tahun lalu.
Dwi Astarini - Jumat, 11 September 2026
Agustus Terpanas Sepanjang Sejarah, Perubahan Iklim dan El Nino Penyebabnya
Indonesia
Harga Gas Nonsubsidi Bright Gas Turun Rp 4.000 - 8.000 Per Tabung
Harga baru itu merupakan harga jual di tingkat agen Bright Gas di wilayah Pulau Jawa mulai 14 Juli 2026.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 15 Juli 2026
Harga Gas Nonsubsidi Bright Gas Turun Rp 4.000 - 8.000 Per Tabung
Indonesia
Ancaman PHK Akibat Harga Gas Industri Naik, PGN Pastikan Turunkan Harga ke USD 13 per MMBTU
Saat ini, kebutuhan gas bumi industri dipenuhi melalui tiga kategori utama, yaitu Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), gas pipa non-HGBT, dan LNG non-HGBT
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 30 Juni 2026
Ancaman PHK Akibat Harga Gas Industri Naik, PGN Pastikan Turunkan Harga ke USD 13 per MMBTU
Indonesia
Pemerintah Turunkan Harga LNG Industri, Juragan Keramik Langsung Batalkan Rencana PHK
Pemerintah memangkas harga LNG sektor industri menjadi Rp208.000 per MMBTU
Angga Yudha Pratama - Senin, 29 Juni 2026
Pemerintah Turunkan Harga LNG Industri, Juragan Keramik Langsung Batalkan Rencana PHK
Indonesia
PGN Akan Amankan Pasokan Gas Domestik Dari Blok Masela
Dengan volume cadangan gas Blok Masela, yang sangat besar, kerja sama ini diproyeksikan akan menjaga stabilitas pasokan energi bersih di Indonesia dalam jangka panjang
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 21 Mei 2026
PGN Akan Amankan Pasokan Gas Domestik Dari Blok Masela
Bagikan