Merahputih.com - Ketua Komisi V DPR RI Lasarus menuntut penanganan permanen dan terpadu terhadap fenomena penurunan tanah di jalur kereta api Semarang, Jawa Tengah, guna mengakhiri solusi teknis sementara yang tidak efektif.
Lasarus menilai langkah pemompaan air yang selama ini diandalkan tidak lagi memadai untuk menghadapi penurunan tanah yang masif. Pembangunan jalur kereta yang lebih tinggi dan permanen menjadi harga mati agar infrastruktur transportasi tersebut tidak terus-menerus kalah oleh banjir rob.
Baca juga:
“Pada titik tertentu pompa bisa bekerja, tetapi pada kondisi tertentu tidak akan mampu mengatasi persoalan, apalagi jika sudah berkaitan dengan bencana alam,” tegas Lasarus dalam keterangannya, Jumat (d.
Politisi F-PDI Perjuangan ini mendorong adanya roadmap yang jelas dan terintegrasi. Jika PT Kereta Api Indonesia (KAI) terkendala dana untuk investasi mandiri, Lasarus mendesak pemerintah segera mengambil alih melalui anggaran negara agar proyek strategis ini tidak terbengkalai.
Masalah utama mandeknya penanganan permanen di Semarang disinyalir bukan karena keterbatasan anggaran, melainkan buruknya koordinasi antarinstansi. Lasarus menyoroti adanya ego sektoral antara Kementerian Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Perkeretaapian, dan PT KAI yang membuat penanganan berjalan parsial.
“Masalahnya sering kali bukan pada anggaran, tetapi koordinasi. Ego sektoral antar lembaga membuat penanganan menjadi tidak terintegrasi,” jelasnya.
Baca juga:
Banjir di Semarang, KAI Berlakukan Pembatasan Kecepatan Kereta
Komisi V DPR berencana mempertemukan seluruh pihak terkait dalam satu forum untuk menyusun pembagian peran dan target penyelesaian yang konkret. Langkah ini harus selaras dengan program pengendalian banjir Kementerian Pekerjaan Umum yang direncanakan hingga 2028.
Selain itu, Lasarus mengkritik ketimpangan pembangunan infrastruktur perkeretaapian yang justru masif di daerah sepi penumpang, sementara jalur padat seperti Semarang masih bergelut dengan masalah klasik yang tak kunjung usai.