Iwakum Nilai Kesaksian Pemerintah Justru Ungkap Kelemahan Pasal 8 UU Pers

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Senin, 24 November 2025
Iwakum Nilai Kesaksian Pemerintah Justru Ungkap Kelemahan Pasal 8 UU Pers

Iwakum Hadirkan Saksi dan Ahli dalam Sidang Lanjutan Uji Materiil UU Pers di MK

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Ikatan Wartawan Hukum (Iwakum) menilai keterangan saksi yang dihadirkan Presiden dalam sidang lanjutan uji materi Pasal 8 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers (UU Pers) di Mahkamah Konstitusi (MK), justru semakin memperlihatkan kelemahan mendasar dari norma tersebut.

Dalam sidang yang digelar pada Senin (24/11), Presiden melalui Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) serta Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menghadirkan Christiana Chelsia Chan, S.H., LL.M sebagai saksi untuk menjawab gugatan yang diajukan Iwakum.

Ketua Umum Iwakum, Irfan Kamil menilai, penjelasan saksi pemerintah menunjukkan bahwa Pasal 8 terlalu bergantung pada tafsir historis dan pemahaman internal para perumus, bukan pada kejelasan norma yang seharusnya mudah dipahami publik.

“Saksi pemerintah tadi menunjukkan bahwa Pasal 8 harus dijelaskan panjang lebar lewat sejarah dan filosofi. Itu bukti bahwa normanya sendiri kabur dan tidak dapat ditegakkan secara pasti. Undang-undang tidak boleh bergantung pada cerita di balik layar, tetapi harus jelas dibaca oleh semua pihak,” ujar Irfan dalam keterangan tertulis.

Baca juga:

Iwakum Nilai Keterangan DPR dan Dewan Pers di MK Tak Jawab Substansi Perlindungan Wartawan

Dalam pemaparannya di hadapan Majelis Hakim MK, Christiana Chelsia Chan sebagai salah satu perumus UU Pers menjelaskan konteks historis dan filosofi Pasal 8. Namun, Iwakum menilai penjelasan tersebut tidak menyentuh inti persoalan yang mereka ajukan dalam permohonan judicial review.

Irfan menegaskan bahwa pengalaman wartawan di lapangan menunjukkan ketidakpastian nyata, terutama saat aparat pemerintah tidak memiliki pedoman jelas terkait posisi dan peran Dewan Pers dalam perlindungan hukum jurnalis.

“Dari keterangan saksi pemerintah terlihat bahwa Pasal 8 tidak memiliki parameter objektif yang bisa dipegang. Kalau negara saja kesulitan menjelaskan batasannya tanpa membawa sejarah panjang, bagaimana mungkin wartawan yang menghadapi tekanan di lapangan bisa memperoleh kepastian perlindungan?” tegasnya.

Baca juga:

Iwakum Hadirkan Saksi dan Ahli dalam Sidang Lanjutan Uji Materiil UU Pers di MK

Sementara itu, Koordinator Tim Kuasa Hukum Iwakum, Viktor Santoso Tandiasa, menyebut kesaksian pemerintah justru semakin menguatkan dalil permohonan mereka—bahwa Pasal 8 tidak memenuhi asas lex certa dan lex stricta dalam peraturan perundang-undangan.

“Ketika saksi harus kembali ke niat pembentuk dan penjelasan di luar teks, itu menegaskan bahwa rumusan Pasal 8 tidak cukup jelas, tidak cukup tegas, dan membuka ruang multitafsir. Itu persoalan konstitusional karena wartawan menjadi tidak terlindungi secara pasti,” kata Viktor. (Pon)

#Ikatan Wartawan Hukum (Iwakum) #UU Pers #Mahkamah Konstitusi
Bagikan
Ditulis Oleh

Ponco Sulaksono

Berita Terkait

Indonesia
3 Kader Muhammadiyah Gugat Keabsahan Sidang Isbat Ramadan ke MK
Mahkamah Konstitusi menggelar sidang uji materiil UU Peradilan Agama terkait sidang isbat Ramadan. Kader Muhammadiyah menggugat Pasal 52A yang dianggap diskriminatif terhadap metode hisab.
Wisnu Cipto - Rabu, 10 Juni 2026
3 Kader Muhammadiyah Gugat Keabsahan Sidang Isbat Ramadan ke MK
Indonesia
Respons Putusan MK, AHY Sebut Demokrat Konsisten Dorong Partisipasi Politik Perempuan
Partai politik bisa didiskualifikasi di daerah pemilihan tertentu apabila tidak memenuhi kuota caleg perempuan sebesar 30 persen.
Dwi Astarini - Jumat, 29 Mei 2026
Respons Putusan MK, AHY Sebut Demokrat Konsisten Dorong Partisipasi Politik Perempuan
Indonesia
Putusan MK soal Kuota Perempuan, Jangan Hanya Sekadar Syarat Administratif
Partai harus melakukan kaderisasi politik perempuan yang serius dan berkelanjutan
Frengky Aruan - Kamis, 28 Mei 2026
Putusan MK soal Kuota Perempuan, Jangan Hanya Sekadar Syarat Administratif
Indonesia
GMNI Serahkan Amicus Curiae Uji Materiil UU TNI ke MK, Tegaskan Supremasi Sipil Pasca-Reformasi
GMNI Jakarta menyerahkan amicus curiae ke MK terkait UU TNI. Dokumen menegaskan pentingnya supremasi sipil, koreksi Reformasi 1998, dan peneguhan Pancasila 1 Juni 1945.
Wisnu Cipto - Rabu, 27 Mei 2026
GMNI Serahkan Amicus Curiae Uji Materiil UU TNI ke MK, Tegaskan Supremasi Sipil Pasca-Reformasi
Indonesia
Putusan MK soal Kuota 30 Persen Caleg Perempuan Akan Dimasukkan dalam Revisi UU Pemilu
Putusan MK tersebut merupakan langkah penting untuk memperkuat partisipasi politik perempuan dalam demokrasi Indonesia.
Frengky Aruan - Selasa, 26 Mei 2026
Putusan MK soal Kuota 30 Persen Caleg Perempuan Akan Dimasukkan dalam Revisi UU Pemilu
Indonesia
Sidang Gugatan Kesejahteraan Dosen di MK, Komisi X DPR Minta Hakim Kabulkan Permohonan
Komisi X DPR RI mendukung gugatan kesejahteraan dosen di MK dan meminta hakim mengabulkan permohonan demi perbaikan pendidikan tinggi Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 26 Mei 2026
Sidang Gugatan Kesejahteraan Dosen di MK, Komisi X DPR Minta Hakim Kabulkan Permohonan
Indonesia
Putusan MK soal Caleg Perempuan Didukung PKS dan PAN, Partai Bisa Gugur di Dapil
Putusan MK yang mewajibkan keterwakilan 30% caleg perempuan mendapat dukungan dari PKS dan PAN. Partai yang tidak memenuhi aturan kini terancam gugur di dapil terkait.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 26 Mei 2026
Putusan MK soal Caleg Perempuan Didukung PKS dan PAN, Partai Bisa Gugur di Dapil
Indonesia
Demokrat Sebut Putusan MK soal Kuota 30 Persen Caleg Perempuan Hanya Pertegas Aturan Lama
Sekjen Partai Demokrat Herman Khaeron buka suara soal putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mewajibkan partai politik memenuhi kuota 30 persen caleg perempuan.
Frengky Aruan - Selasa, 26 Mei 2026
Demokrat Sebut Putusan MK soal Kuota 30 Persen Caleg Perempuan Hanya Pertegas Aturan Lama
Indonesia
Komisi II DPR Nilai Putusan MK Jadi Perlindungan Hak Politik Perempuan
MK memutuskan ketentuan keterwakilan perempuan paling sedikit 30 persen dalam pencalonan anggota DPR dan DPRD bersifat wajib dipenuhi partai politik.
Frengky Aruan - Selasa, 26 Mei 2026
Komisi II DPR Nilai Putusan MK Jadi Perlindungan Hak Politik Perempuan
Indonesia
4 Jurnalis Indonesia Ditahan Israel, Iwakum Desak Pemerintah Bertindak Cepat
Iwakum mengecam penahanan empat jurnalis Indonesia oleh Israel saat mengikuti misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 menuju Gaza.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 19 Mei 2026
4 Jurnalis Indonesia Ditahan Israel, Iwakum Desak Pemerintah Bertindak Cepat
Bagikan