MerahPutih.com - Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Kamis (25/4) tergelincir ke level Rp 16.208 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.161 per dolar AS.
Pada akhir perdagangan Kamis (25/4), kurs rupiah melemah 33 poin atau 0,20 persen menjadi Rp16.188 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp 16.155 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis ditutup merosot seiring pasar menantikan rilis inflasi Indeks Harga Belanja Personal (PCE) Amerika Serikat (AS).
"Data produk domestik bruto triwulan I-2024 AS akan rilis malam nanti waktu Indonesia dan data PCE AS rilis Jumat waktu AS," katanya dikutip Antara, Kamis (25/4).
Baca juga:
Rupiah Terdepresiasi, Suku Bunga Bank Indonesia Diminta Bertahan di 6 Persen
Di sisi lain, pelemahan rupiah lebih lanjut ditahan oleh kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI-Rate yang diumumkan pada hasil Rapat Dewan Gubernur BI April.
BI memutuskan untuk menaikkan suku bunga BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,25 persen, dengan tujuan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar dan mencegah pertumbuhan ekonomi dari dampak rambatan risiko global.
Kenaikan suku bunga BI-Rate akan berdampak positif pada yield obligasi Pemerintah Indonesia sehingga akan meningkatkan minat investor asing untuk menahan dan bahkan meningkatkan investasinya di pasar keuangan Indonesia.
Ekonom Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Teuku Riefky menilai keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 6,25 persen akan berdampak positif terhadap nilai tukar rupiah.
Baca juga:
Namun, Ia memberikan catatan bahwa kenaikan BI-Rate juga akan menimbulkan risiko memperlambat pertumbuhan ekonomi Indonesia karena meningkatnya biaya kredit (cost of credit) yang lebih tinggi.
"Mengenai (kenaikkan) BI-Rate, sebetulnya akan berdampak positif ya terhadap rupiah, cuman memang kan di sisi lain juga akan memiliki dampak terhadap sektor riil yang kemungkinan akan memperlambat pertumbuhan ekonomi," kata Riefky. (*)