Merahputih.com - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengakhiri perdagangan Senin (27/7) sore pada zona merah. Sikap wait and see para pelaku pasar terhadap arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat, The Fed diduga menjadi pemicu utama penekanan IHSG.
Baca juga:
Langkah koreksi IHSG terjadi meskipun tensi ketegangan geopolitik di Timur Tengah memperlihatkan sinyal penurunan. Penurunan harga minyak mentah dunia akibat peredaan konflik Amerika Serikat dan Iran belum cukup kuat memberikan dorongan positif bagi pasar domestik.
Sentimen terangkat oleh meredanya ketegangan geopolitik setelah Amerika Serikat menghentikan serangan terhadap Iran pada akhir pekan, dan Iran mengatakan bahwa mereka telah menghentikan serangan balasan terhadap sekutu Amerika Serikat di kawasan itu,
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus.
Faktor Moneter Global dan Domestik
Fokus perhatian pasar kini tertuju pada agenda rapat Federal Open Market Committee (FOMC) guna menentukan arah suku bunga acuan.
Selain sentimen global seperti data ekonomi China dan Bank of Japan, kondisi internal Indonesia turut memengaruhi psikologis investor.

Pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia serta penetapan Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur BI memicu kehati-hatian.
Pelaku pasar menaruh perhatian khusus terhadap transisi kepemimpinan di Bank Indonesia. Langkah penunjukan pejabat sementara bertujuan menjaga stabilitas, namun pasar tetap mengantisipasi potensi ketidakpastian arah kebijakan moneter serta stabilitas nilai tukar Rupiah.
Rincian data transaksi dan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG):
-
Penutupan Indeks IHSG: Turun 10,65 poin (0,17 persen) ke level 6.185,78.
-
Penutupan Indeks LQ45: Turun 2,23 poin (0,36 persen) ke posisi 612,56.
-
Nilai Transaksi Pasar: Mencapai Rp12,12 triliun dengan frekuensi 1,79 juta kali transaksi.
-
Volume Perdagangan: Melibatkan 26,00 miliar lembar saham.
-
Statistik Pergerakan Saham: Sebanyak 318 saham menguat, 360 saham melemah, serta 287 saham stagnan.
-
Sektor Penguat Tertinggi: Sektor industri memimpin penguatan 0,72 persen, disusul sektor teknologi 0,33 persen.
-
Sektor Pelemahan Terbesar: Sektor infrastruktur terkoreksi paling dalam sebesar 1,29 persen.
-
Top Gainers (Penguat Terbesar): DMMX, BAJA, ZONE, TAMA, dan MCAS.
-
Top Losers (Pelemahan Terbesar): KDTN, ARKO, MLPT, OMRE, dan OILS.
Perbandingan Bursa Saham Regional Asia
Kondisi berlawanan justru terjadi pada mayoritas bursa saham kawasan Asia yang bergerak menguat secara kompak. Sentimen positif pertumbuhan laba industri China sebesar 18,7 persen memberi angin segar bagi bursa regional.
Tercatat Indeks Nikkei menguat 0,66 persen menuju 65.038,00, sementara Indeks Shanghai melesat 1,15 persen ke level 3.858,25.
Baca juga:
IHSG Tercebur ke Zona Merah Bersama Wall Street Akibat Harga Minyak Meroket
Indeks Hang Seng turut naik 0,98 persen ke posisi 25.207,18, diikuti Indeks Kospi naik 0,97 persen ke 6.755,75, serta Indeks Straits Times menguat 0,55 persen menuju 5.619,20.
Perbedaan pergerakan ini menegaskan kehati-hatian investor domestik dalam mencermati arah dinamika moneter nasional maupun global.

