Merahputih.com - Lonjakan harga minyak mentah dunia langsung memicu efek domino, menyeret turun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ke zona merah pada perdagangan Jumat (24/7).
Kondisi ini sejalan dengan pelemahan bursa saham global akibat kekhawatiran pelaku pasar terhadap ancaman inflasi baru.
Baca juga:
IHSG dan Rupiah Kompak Anjlok Berjamaah Akibat Sentimen Ekonomi pada Pembukaan Perdagangan Hari Ini
Perdagangan penutupan pekan mencatatkan pelemahan IHSG sebesar 48,33 poin atau 0,77 persen menuju posisi 6.266,98.
Pelemahan serupa turut melanda kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 lewat penurunan 6,66 poin atau 1,06 persen menuju posisi 620,46.
Apabila tekanan jual berlanjut, IHSG berpotensi menguji area support 6.262, 6.181, hingga 6.103. Sementara itu, apabila mampu kembali menguat, resistance berada di 6.377-6.394, kemudian 6.454,
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata.
Dampak Krisis Timur Tengah pada Pasar Saham
Serangan kelompok Houthi sokongan Iran terhadap dua kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah memperburuk distribusi minyak global. Lalu lintas pelayaran Selat Hormuz merosot tajam hingga 75 persen. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bahkan mengancam akan meminta pertanggungjawaban Iran jika insiden serupa terulang.
Kekacauan geopolitik tersebut melambungkan harga energi melampaui level 100 dolar AS per barel. Lonjakan ini mendongkrak ekspektasi inflasi, membuka peluang pengetatan kebijakan moneter lanjutan oleh bank sentral.

Pelaku pasar kini menanti langkah bank sentral Amerika Serikat, The Fed, merespons kenaikan harga energi dengan mempertahankan suku bunga tinggi.
Rincian indikator pasar global merespons krisis geopolitik:
-
Komoditas Minyak WTI: Melonjak lebih dari 6 persen menembus 92 dolar AS per barel.
-
Komoditas Minyak Brent: Naik melampaui 6 persen mencetak rekor tertinggi sejak pertengahan tahun mencapai 100 dolar AS per barel.
-
Kinerja Wall Street AS: S&P 500 turun 1,21 persen (7.408,30), Nasdaq Composite jatuh 1,87 persen (25.454,81), dan Dow Jones melemah 0,97 persen (51.711,65).
-
Bursa Saham Eropa: Indeks Euro Stoxx 50 minus 1,63 persen, FTSE 100 Inggris merosot 0,73 persen, DAX Jerman melemah 1,56 persen, serta CAC 40 Prancis anjlok 1,64 persen.
-
Bursa Saham Asia: Nikkei tergelincir 3,12 persen (64.351,00), Kospi terperosok 3,35 persen (6.859,54), Hang Seng turun 1,14 persen (24.923,72), Strait Times minus 0,57 persen (5.549,94), dan Shanghai melemah 0,55 persen (3.855,45).
Dinamika Ekonomi Domestik dan Permintaan Obligasi
Faktor dalam negeri turut mewarnai pergerakan pasar seiring perlambatan pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) menjadi 8,7 persen (yoy) dari periode pelaporan sebelumnya sebesar 10,8 persen.
Penurunan ini mencerminkan pengetatan likuiditas akibat arus modal keluar, kontraksi Net Foreign Assets (NFA), serta penarikan sementara dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) menuju Bank Indonesia (BI).
Likuiditas memiliki potensi membaik pada jangka pendek hingga menengah seiring kembalinya arus modal asing serta penempatan kembali dana SAL menuju bank-bank Himbara.
“Namun, prospek jangka panjang masih dibayangi risiko pengetatan apabila The Fed kembali bersikap lebih hawkish, ketegangan geopolitik mendorong kenaikan harga minyak, atau pemerintah kembali menarik dana SAL untuk memperkuat ruang fiskal,” kata Liza.
Baca juga:
KPK Bongkar Modus Pengumpulan 46.500 Dolar Singapura Buat Amplop Menhut
Di tengah tekanan likuiditas, minat investasi terhadap instrumen obligasi domestik tetap tinggi. Hal ini tercermin dari respons positif pasar keuangan China terhadap penerbitan perdana Panda Bond Indonesia.
Data dinamika ekonomi domestik:
-
Pertumbuhan Uang Beredar (M2): Melambat dari 10,8 persen menjadi 8,7 persen secara tahunan.
-
Faktor Penekan Likuiditas: Terjadi arus modal keluar, kontraksi NFA, serta penarikan dana SAL.
-
Penerbitan Panda Bond: Sukses mencatatkan bid-to-cover ratio sebesar 2,4 kali.
-
Permintaan Investor Asing: Mencapai 17 miliar Yuan China, melampaui target penerbitan sebesar 7 miliar Yuan China.

