Merahputih.com - Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan, merespons keras peringatan Profesor University of Maryland, R. Dwi Susanto, mengenai fenomena El Nino yang akan memberikan ancaman kekeringan ekstrem pada paruh kedua tahun ini. Prediksi ilmiah menunjukkan intensitas anomali cuaca kali ini berpotensi masuk kategori kuat hingga sangat kuat menjelang akhir 2026.
Sinyal El Nino berpotensi menjadi kategori kuat hingga sangat kuat pada paruh kedua 2026 bukan sekadar peringatan ilmiah. Ini adalah alarm nyata bagi jutaan petani kita menggantungkan hidup pada ketersediaan air,
Daniel Johan.
Belajar Dari Kelamnya Sejarah 1997
Baca juga:
Badan Cuaca PBB Peringatkan Dampak El Nino, Dunia Bisa Dilanda Gelombang Panas
Politisi Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut mengingatkan semua pihak mengenai memori kelam periode 1997–1998. Kala itu, bencana kekeringan panjang memicu gagal panen massal di berbagai wilayah Indonesia akibat minimnya persiapan mitigasi.
Guna menghindari bencana serupa, pengelolaan sektor pertanian wajib mengalami perbaikan lewat langkah konkret:
-
Pembuatan Sumur Bor: Membangun titik-titik sumur dalam pada kantong pertanian rawan kekeringan.
-
Pembangunan Embung Desa: Mempercepat penampungan air tingkat desa berpijak dukungan dana pusat.
-
Pola Tanam Baru: Mengubah masa tanam berbasis data prakiraan cuaca milik BMKG.
-
Digitalisasi Air: Menerapkan teknologi digital guna mengelola distribusi air secara efisien.
Mendesak Dorongan Political Will Pemerintah
Daniel Johan juga mengingatkan potensi serangan hama kuat saat kondisi lahan kering berlebihan. Manajemen air nasional berbasis siklus iklim menjadi harga mati demi menyelamatkan masa depan pangan nusantara. Infrastruktur penyimpanan air harus terintegrasi penuh bersama data iklim teranyar agar air hujan tidak terbuang percuma.
Baca juga:
Presiden Prabowo Ajak ASEAN Perkuat Pangan Lokal, Hadapi Dampak El Nino
“Kita punya prakiraan, kita punya teknologi, dibutuhkan hanyalah political will untuk memastikan air hujan tidak mengalir sia-sia ke laut, melainkan tersimpan untuk mengairi sawah di bulan-bulan terkering,” ujar Daniel Johan.
Koordinasi ketat lintas kementerian serta lembaga menjadi kunci utama penyelamatan nasib petani saat ini. Langkah antisipasi sejak dini akan meminimalkan dampak buruk terhadap stabilitas stok pangan nasional.