Kesehatan

Efek Aspartam pada Tubuh

Ikhsan Aryo DigdoIkhsan Aryo Digdo - Jumat, 30 Juni 2023
Efek Aspartam pada Tubuh

Aspartam 200 kali lebih manis dari gula, sehingga bisa memberikan rasa manis tanpa tambahan kalori. (Foto: Unsplash/Charlie W)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

ASPARTAM, jenis pemanis yang ditemukan dalam berbagai makanan dan minuman bersoda, secara resmi diklasifikasikan dan dilabeli sebagai zat yang mungkin karsinogenik bagi manusia.

Namun, label tersebut sering menimbulkan kebingungan karena tidak memberikan gambaran apakah potensi risikonya besar atau kecil. Selain Aspartam, zat berlabel "mungkin karsinogenik" lainnya termasuk lidah buaya, solar, dan acar sayuran Asia.

Baca Juga:

Pikiran Positif Tentang Penuaan Baik untuk Pemulihan Memori pada Lansia

Aspartam 200 kali lebih manis dari gula, sehingga bisa memberikan rasa manis tanpa tambahan kalori. Kamu akan menemukannya di daftar bahan dari banyak makanan diet atau makanan bebas gula termasuk minuman diet, permen karet, dan beberapa yoghurt. Zat aspartam juga bisa ditemukan di sekitar 6.000 produk makanan lainnya.

Pemanis ini telah digunakan selama beberapa dekade dan disetujui oleh badan keamanan pangan, tetapi ada kontroversi seputar bahan tersebut. IARC, badan penelitian kanker dari Organisasi Kesehatan Dunia, telah meninjau sekitar 1.300 penelitian tentang aspartam dan kanker.

Kantor berita Reuters mengatakan telah berbicara dengan sumber yang dekat dengan proses tersebut, dan aspartam akan diklasifikasikan dengan label ‘mungkin karsinogenik’. Tetapi apa sebenarnya arti klasifikasi tersebut?

Pengumuman resmi akan dibuat oleh IARC dan komite ahli terpisah untuk bahan tambahan makanan, bersamaan dengan publikasi di jurnal medis Lancet Oncology pada 14 Juli.

IARC menggunakan empat kemungkinan klasifikasi:

Grup 1 - Karsinogenik bagi manusia

Grup 2A - Mungkin bersifat karsinogenik bagi manusia

Grup 2B - Mungkin bersifat karsinogenik bagi manusia

Grup 3- Tidak dapat diklasifikasikan


Namun, di sinilah hal itu bisa membingungkan. "Kategoriisasi IARC tidak akan memberi tahu kita apa pun tentang tingkat risiko sebenarnya dari aspartam, karena bukan itu yang dimaksud dengan kategorisasi IARC," kata Kevin McConway, profesor statistik di Open University.

IARC memberi tahu kita seberapa kuat buktinya, bukan seberapa berisiko suatu zat bagi kesehatan seseorang. Kategori ‘kemungkinan’ digunakan ketika ada bukti terbatas pada manusia atau data dari eksperimen hewan. Ini termasuk solar, bedak pada perineum, nikel, lidah buaya, acar sayuran Asia dan banyak bahan kimia.

"Namun saya menekankan bahwa bukti bahwa hal-hal ini dapat menyebabkan kanker tidak terlalu kuat atau mereka akan dimasukkan ke dalam kelompok 1 atau 2A," tambah Prof McConway.

Baca Juga:

Kenali Jenis-Jenis Terapi Anak

Klasifikasi IARC telah menimbulkan kebingungan di masa lalu, dan telah dikritik karena menciptakan alarm yang tidak perlu. Ketika daging merah olahan dikategorikan sebagai karsinogenik, hal itu menyebabkan laporan menyamakannya dengan merokok.

Kami tidak memiliki jumlah yang setara untuk aspartam. Meski begitu, Komite Ahli Gabungan Pangan Organisasi Kesehatan Dunia dan Organisasi Pangan dan Pertanian akan melaporkannya pada bulan Juli.

“Badan tersebut akan mempelajari dengan cermat laporan tersebut, tetapi pandangan kami adalah bahwa keamanan pemanis ini telah dievaluasi oleh berbagai komite ilmiah dan dianggap aman di tingkat penggunaan yang diizinkan saat ini,” ujar Rick Mumford, wakil kepala penasihat ilmiah Badan Standar Makanan Inggris.

Tahun lalu sebuah penelitian terhadap 105.000 orang membandingkan orang yang tidak mengonsumsi pemanis dengan mereka yang mengonsumsi dalam jumlah banyak. Pemanis tingkat tinggi, termasuk aspartam, dikaitkan dengan risiko kanker yang lebih tinggi, tetapi ada banyak perbedaan dalam kesehatan dan gaya hidup antara kedua kelompok.

Frances Hunt-Wood dari International Sweeteners Association mengatakan Aspartam adalah salah satu bahan yang paling banyak diteliti dalam sejarah. "Dengan lebih dari 90 badan keamanan makanan di seluruh dunia menyatakan aman."

Namun, perlu diketahui ada beberapa golongan orang yang tidak bisa mengonsumsi aspartam dengan aman. Ini adalah orang-orang dengan penyakit bawaan yang disebut fenilketonuria atau PKU. Sebab orang dengan PKU tidak dapat memetabolisme komponen aspartam. (dsh)

Baca Juga:

Dampak Mengonsumsi Makanan Manis Berlebihan Sebelum Tidur

#Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Disya Shaliha

Average internet voyager, surrendering to the whims of my feline rulers.
Show More

Berita Terkait

Indonesia
Cara Cek Masuk Daftar PBI JKN 2026 Pakai HP, Biar Akses Kesehatan Gratis Tetap Aman
Pemerintah memastikan masyarakat bisa dengan mudah mengecek status kepesertaan Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan Nasional (PBI JKN) 2026 hanya lewat HP.
Wisnu Cipto - Jumat, 04 September 2026
Cara Cek Masuk Daftar PBI JKN 2026 Pakai HP, Biar Akses Kesehatan Gratis Tetap Aman
Indonesia
Asap Karhutla Mengepul, ini nih Pilihan Masker yang Direkomendasikan untuk Melindungi Pernapasan
. Di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, misalnya, ISPU sempat mencapai angka 1.919 pada 2 September 2026 atau masuk kategori berbahaya.
Dwi Astarini - Jumat, 04 September 2026
Asap Karhutla Mengepul, ini nih Pilihan Masker yang Direkomendasikan untuk Melindungi Pernapasan
Lainnya
Jangan Dianggap Sakit Perut Biasa, Ini Ciri-Ciri Gejala Usus Buntu Anak!
Usus buntu bisa mengakibatkan kematian. Jangan anggap semua sakit perut anak sebagai keluhan biasa.
Wisnu Cipto - Selasa, 01 September 2026
Jangan Dianggap Sakit Perut Biasa, Ini Ciri-Ciri Gejala Usus Buntu Anak!
Lifestyle
Ramalan Zodiak Hari Ini 1 September 2026: Taurus Wajib Waspadai 5 Hal Ini
Ramalan zodiak hari ini 1 September 2026, lengkap dengan asmara, karier, keuangan, dan keberuntungan Aries hingga Pisces. Simak 5 hal yang Taurus wajib waspadai
ImanK - Senin, 31 Agustus 2026
Ramalan Zodiak Hari Ini 1 September 2026: Taurus Wajib Waspadai 5 Hal Ini
Indonesia
Kasus Kanker di Bogor Naik 138 Persen, Mayoritas Payudara dan Paru-Paru
Terjadi lonjakan kasus kanker di Kota Bogor sebesar 138 persen dalam empat tahun terakhir.
Wisnu Cipto - Kamis, 27 Agustus 2026
Kasus Kanker di Bogor Naik 138 Persen, Mayoritas Payudara dan Paru-Paru
Lifestyle
Program Sejuta Vaksin Kanker Serviks Bakal Diperluas ke Seluruh Indonesia
Program Sejuta Vaksin merupakan kerja sama KORPRI seluruh Indonesia dengan Kementerian Kesehatan dan berbagai pihak dalam upaya mencegah kanker serviks.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 18 Agustus 2026
Program Sejuta Vaksin Kanker Serviks Bakal Diperluas ke Seluruh Indonesia
Indonesia
PAM Jaya Perkuat K3, Siapkan Pembangunan 7.000 Km Jaringan Pipa
PAM Jaya kini memperkuat K3 dalam implementasinya. PAM Jaya juga telah menyiapkan pembangunan 7.000 km jaringan pipa.
Soffi Amira - Senin, 10 Agustus 2026
PAM Jaya Perkuat K3, Siapkan Pembangunan 7.000 Km Jaringan Pipa
Lifestyle
Kopi Menu Andalan Temani Gaya Hidup Sehat
Kopi menjadi pilihan utama masyarakat yang ingin tetap produktif sekaligus menjaga kesehatan.
Dwi Astarini - Selasa, 04 Agustus 2026
Kopi Menu Andalan Temani Gaya Hidup Sehat
Indonesia
6 Dokter Intership Meninggal, DPR Minta Evaluasi Total
Langkah darurat ini dinilai sebagai keputusan krusial untuk mencegah berulangnya tragedi serta melindungi keselamatan jiwa dokter maupun pasien.
Dwi Astarini - Jumat, 31 Juli 2026
6 Dokter Intership Meninggal, DPR Minta Evaluasi Total
Indonesia
Kemenkes Kampanyekan Jangan Takut Stigma Negatif Tes HIV, Makin Cepat Diketahui Lebih Baik
Kemenkes dorong masyarakat lakukan tes HIV tanpa takut stigma negatif. Deteksi dini penting untuk menekan penularan dan memastikan pengobatan segera dengan terapi ARV.
Wisnu Cipto - Minggu, 26 Juli 2026
Kemenkes Kampanyekan Jangan Takut Stigma Negatif Tes HIV, Makin Cepat Diketahui Lebih Baik
Bagikan