Efek Aspartam pada Tubuh
Aspartam 200 kali lebih manis dari gula, sehingga bisa memberikan rasa manis tanpa tambahan kalori. (Foto: Unsplash/Charlie W)
ASPARTAM, jenis pemanis yang ditemukan dalam berbagai makanan dan minuman bersoda, secara resmi diklasifikasikan dan dilabeli sebagai zat yang mungkin karsinogenik bagi manusia.
Namun, label tersebut sering menimbulkan kebingungan karena tidak memberikan gambaran apakah potensi risikonya besar atau kecil. Selain Aspartam, zat berlabel "mungkin karsinogenik" lainnya termasuk lidah buaya, solar, dan acar sayuran Asia.
Baca Juga:
Pikiran Positif Tentang Penuaan Baik untuk Pemulihan Memori pada Lansia
Aspartam 200 kali lebih manis dari gula, sehingga bisa memberikan rasa manis tanpa tambahan kalori. Kamu akan menemukannya di daftar bahan dari banyak makanan diet atau makanan bebas gula termasuk minuman diet, permen karet, dan beberapa yoghurt. Zat aspartam juga bisa ditemukan di sekitar 6.000 produk makanan lainnya.
Pemanis ini telah digunakan selama beberapa dekade dan disetujui oleh badan keamanan pangan, tetapi ada kontroversi seputar bahan tersebut. IARC, badan penelitian kanker dari Organisasi Kesehatan Dunia, telah meninjau sekitar 1.300 penelitian tentang aspartam dan kanker.
Kantor berita Reuters mengatakan telah berbicara dengan sumber yang dekat dengan proses tersebut, dan aspartam akan diklasifikasikan dengan label ‘mungkin karsinogenik’. Tetapi apa sebenarnya arti klasifikasi tersebut?
Pengumuman resmi akan dibuat oleh IARC dan komite ahli terpisah untuk bahan tambahan makanan, bersamaan dengan publikasi di jurnal medis Lancet Oncology pada 14 Juli.
IARC menggunakan empat kemungkinan klasifikasi:
Grup 1 - Karsinogenik bagi manusia
Grup 2A - Mungkin bersifat karsinogenik bagi manusia
Grup 2B - Mungkin bersifat karsinogenik bagi manusia
Grup 3- Tidak dapat diklasifikasikan
Namun, di sinilah hal itu bisa membingungkan. "Kategoriisasi IARC tidak akan memberi tahu kita apa pun tentang tingkat risiko sebenarnya dari aspartam, karena bukan itu yang dimaksud dengan kategorisasi IARC," kata Kevin McConway, profesor statistik di Open University.
IARC memberi tahu kita seberapa kuat buktinya, bukan seberapa berisiko suatu zat bagi kesehatan seseorang. Kategori ‘kemungkinan’ digunakan ketika ada bukti terbatas pada manusia atau data dari eksperimen hewan. Ini termasuk solar, bedak pada perineum, nikel, lidah buaya, acar sayuran Asia dan banyak bahan kimia.
"Namun saya menekankan bahwa bukti bahwa hal-hal ini dapat menyebabkan kanker tidak terlalu kuat atau mereka akan dimasukkan ke dalam kelompok 1 atau 2A," tambah Prof McConway.
Baca Juga:
Klasifikasi IARC telah menimbulkan kebingungan di masa lalu, dan telah dikritik karena menciptakan alarm yang tidak perlu. Ketika daging merah olahan dikategorikan sebagai karsinogenik, hal itu menyebabkan laporan menyamakannya dengan merokok.
Kami tidak memiliki jumlah yang setara untuk aspartam. Meski begitu, Komite Ahli Gabungan Pangan Organisasi Kesehatan Dunia dan Organisasi Pangan dan Pertanian akan melaporkannya pada bulan Juli.
“Badan tersebut akan mempelajari dengan cermat laporan tersebut, tetapi pandangan kami adalah bahwa keamanan pemanis ini telah dievaluasi oleh berbagai komite ilmiah dan dianggap aman di tingkat penggunaan yang diizinkan saat ini,” ujar Rick Mumford, wakil kepala penasihat ilmiah Badan Standar Makanan Inggris.
Tahun lalu sebuah penelitian terhadap 105.000 orang membandingkan orang yang tidak mengonsumsi pemanis dengan mereka yang mengonsumsi dalam jumlah banyak. Pemanis tingkat tinggi, termasuk aspartam, dikaitkan dengan risiko kanker yang lebih tinggi, tetapi ada banyak perbedaan dalam kesehatan dan gaya hidup antara kedua kelompok.
Frances Hunt-Wood dari International Sweeteners Association mengatakan Aspartam adalah salah satu bahan yang paling banyak diteliti dalam sejarah. "Dengan lebih dari 90 badan keamanan makanan di seluruh dunia menyatakan aman."
Namun, perlu diketahui ada beberapa golongan orang yang tidak bisa mengonsumsi aspartam dengan aman. Ini adalah orang-orang dengan penyakit bawaan yang disebut fenilketonuria atau PKU. Sebab orang dengan PKU tidak dapat memetabolisme komponen aspartam. (dsh)
Baca Juga:
Bagikan
Berita Terkait
Polda dan Polres se-Indonesia Zoom Meeting Bahas Antisipasi Hoaks Virus Nipah
[HOAKS atau FAKTA] : Sering Main Ponsel di Ruangan Gelap Bisa Bikin Kebutaan pada Mata
Sekda DKI Minta Dinas KPKP Uji Kelayakan Daging Ikan Sapu-sapu
Cegah Virus Nipah, DPR Dorong Kampanye Digital Protokol Kesehatan
Cak Imin Janjikan Program Penghapusan Tunggakan Iuran JKN Segera Terwujud
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah