Dunia Internasional Belajar Islam Moderat di Indonesia

Luhung SaptoLuhung Sapto - Jumat, 10 Maret 2017
Dunia Internasional Belajar Islam Moderat di Indonesia

Raja Salman dan Jokowi foto bersama 28 tokoh agama. (ANTARA FOTO/Biropers-Setpres/Laily Rachev)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Islam moderat yang berkembang di Indonesia terbukti mampu membangun konstruksi antaragama dalam perspektif Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), bukan negara islam. Fakta itulah yang membuat dunia internasional yang ingin belajar dan terinspirasi Islam moderat dari Indonesia untuk membangun perdamaian di negaranya masing-masing.

Itulah yang menjadi misi Raja Salman Bin Abdul Aziz Al Saud dari Arab Saudi yang selama beberapa hari terakhir berkunjung dan berlibur di Indonesia.

"Saya kira itu patut dicontoh oleh Arab Saudi. Malah sekarang banyaknya negara-negara lain itu berbondong-bondong mencontoh ke Indonesia mengenai kemampuan untuk membangun suatu sistem solidaritas antar agama dan suatu sistem perlindungan terhadap minoritas sehingga kita bisa duduk bersama dan bisa berdialog. Itu jarang terjadi," ungkap Dr. Adnan Anwar, mantan Wakil Sekjen PBNU dan Pengembang Organisasi NU dalam keterangan tertulis di Kawasan Timur Tengah di Jakarta, Kamis (9/3).

Adnan mencontohkan, belakangan ini di setiap forum pertemuan internasional ulama, baik yang diselenggarakan NU atau lembaga lain, hampir seluruh perwakilan negara Timur Tengah dan Eropa selalu hadir. Itu menunjukkan bahwa Indonesia ini luar biasa. Sesuatu yang menurut mereka menarik untuk dipelajari, bagaimana kita membangun konstruksi antar agama dalam perpektif NKRI bukan negara Islam, meski 80 persen penduduk Indonesia beragama islam.

"Kalau negara lain saja betah dan mau belajar kepada Indonesia, kenapa justru orang Indonesia sendiri yang mempermasalahkan hal tersebut?" tanya Adnan.

Menurut pria yang juga peneliti dari Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), negara yang selalu ribut (perang) karena konstruksi menggunakan negara islam. Akibatnya malah terjadi perpecahan dan saling bunuh membunuh dan sama-sama berteriak Allahu Akbar. Itu sangat ironis karena sesama umat islam malah saling membunuh.

Ia mengungkapkan, fakta itu berbeda 180 derajat dengan kondisi di Indonesia. Di klaim bahwa Indonesia itu mayoritas adalah islam yang rahmatan lil alamin itu betul-betul terjadi dan bukan isapan jempol dan bukan hanya klaim. Faktanya semua bisa hidup berdampingan di Indonesia.

"Indonesia ini kan sudah mempraktekkan sebaga negara Darussalam, negara yang aman. Nah negara yang aman ini menjadi modal untuk membangun peradaban. Bagaimana kalau negaranya perang? tentunya ya tidak mungkin bisa membangun peradaban. Seperti pertempuran yang terjadi di Timur Tengah sana," jelas Adnan.

Dalam hal ini, Adnan mengungkapkan, atas permintaan banyak negara di Timur Tengah, NU sudah membuka cabang di beberapa negara seperti Afganistan, India, dan Pakistan, juga beberapa negara di Afrika Utara. Itu fakta bahwa mereka benar-benar ingin meniru Indonesia dalam memelihara kerukunan dan kedamaian hidup bernegara.

Karena itu sebagai tokoh muda NU, Adnan mengimbau agar kelompok-kelompok radikal itu tidak usah terus menerus menyerang dan menyebarkan propaganda negatif di Indonesia yang aman dengan Bhinneka Tunggal Ika. Karena perbedaan yang ada di Indonesia justru bisa menjadi senjata untuk memperkuat persatuan dan kesatuan. Artinya islam moderat dan Bhinneka Tunggal Ika ini adalah modal besar bangsa Indonesia untuk memerangi radikalisme dan terorisme.

Berbeda dengan negara-negara di Timur Tengah. Di sana perbedaannya lebih dikarenakan masalah madzhab antara syiah dan sunni yang memicu terjadi perang saudara. Belum lagi perbedaan antar golongan dan agama. Semua itu diselesaikan melalui perang.

"Itu akan sangat sulit dan benar-benar berbeda dengan di Indonesia. Kalau di Indonesia itu bisa berlapang dada untuk melindungi yang minoritas. Jadi saya tekankan lagi bahwa masyarakat Indonesia secara luas harus bisa menjaga etika kehidupan berbangsa dan bernegara harus di mulai dari cara pandangnya dulu, baik dari sisi teologi dan sosiologi. Cara pandang bangsa kita dalam etika bernegara juga sudah sangat baik, menghormati pemimpin, menghormati simbol-simbol negara," papar Adnan.

Terkait dengan kunjungan Raja Salman ke Indonesia, Adnan menilai cara yang dilakukan pemerintah RI sudah sangat proporsional dan bagus. Karena apapun pemerintah Arab Saudi ini punya hubungan khusus atau hubungan historis dengan Indonesia. Dulunya pernah terkait kunjungan Bung Karno atau peran Bung Karno yang tentunya punya historis yang cukup panjang. Jadi kalau Indonesia menjamu dengan tata krama yang sangat tinggi saya kira sangat wajar. Sudah sepatutnya Raja Salman mendapat servis khusus dari pemerintahan kita.

Arab Saudi juga melihat Indonesia sebagai negara muslim terbesar sehingga bisa menjadi partner yang potensial untuk mengembangkan kerjasama di segala hal, termasuk di bidang energi, bidang pendidikan dan sebagainya.

"Raja Salman tampak melihat bahwa banyak hal yang bisa dipelajari dari Indonesia ini, terutama menjaga keragaman suku, ras, budaya dan juga agama. Indonesia di mata Raja Salman adalah sebuah negara yang cukup besar, banyak agama, banyak etnis tapi bisa bersatu. Inikan menjadi pembelajaran yang sangat penting bagi Raja Salman. Dan dia bisa bertemu dan berdialog dengan berbagai tokoh lintas agama yang ada di Indonesia," jelas Adnan Anwar.

#Raja Salman Bin Abdul Aziz Al Saud #Radikalisme #Terorisme
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Luhung Sapto

Penggemar Jones, Penjelajah, suka makan dan antimasak
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
Kopilot Flydubai Berkicau, Ungkap Rencana Tabrakkan Pesawat ke Bandara atau Gedung di Tel Aviv
Kopilot yang diketahui merupakan warga negara Oman tersebut dilaporkan merupakan seorang ekstremis ‘lone wolf’ (bertindak sendiri).
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
Kopilot Flydubai Berkicau, Ungkap Rencana Tabrakkan Pesawat ke Bandara atau Gedung di Tel Aviv
Lifestyle
8 Cara Keluarga Cegah Anak Terpapar Pemahaman Kekerasan dan Radikalisme
Regulasi penggunaan sosial media pada anak di Indonesia belum seketat negara maju lainnya.
Dwi Astarini - Senin, 07 September 2026
8 Cara Keluarga Cegah Anak Terpapar Pemahaman Kekerasan dan Radikalisme
Indonesia
Kemendikdasmen Perkuat Peran Sekolah Cegah Anak Terpapar Radikalisme di Media Sosial
Kekerasan yang perlu dicegah tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga dalam bentuk nonfisik, baik di dunia nyata maupun ruang digital.
Dwi Astarini - Kamis, 03 September 2026
Kemendikdasmen Perkuat Peran Sekolah Cegah Anak Terpapar Radikalisme di Media Sosial
Indonesia
620 Anak Terhubung Terorisme, BNPT Soroti Bahaya Paparan Radikalisme di Media Sosial
BNPT mengungkap 620 anak usia 11-18 tahun terpapar kekerasan dan radikalisme. 6 anak di Jakarta diarahkan menjalani rehabilitasi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 03 September 2026
620 Anak Terhubung Terorisme, BNPT Soroti Bahaya Paparan Radikalisme di Media Sosial
Berita Foto
Hari Internasional untuk Korban Terorisme 2026, Kolaborasi Perkuat Perlindungan Korban
Silence momen dan doa dalam acara Peringatan Hari Internasional untuk Peringatan dan Penghormatan bagi Korban Terorisme 2026 di Jakarta, Jum'at (21/8/2026).
Didik Setiawan - Jumat, 21 Agustus 2026
Hari Internasional untuk Korban Terorisme 2026, Kolaborasi Perkuat Perlindungan Korban
Indonesia
BNPT Siapkan 111 Pencegahan Terorime Sejak Dini, 250 Anak Telah Berhasil Direhabilitasi
Ancaman terorisme saat ini sudah mulai bergeser. Kini, internet dijadikan sarana untuk melakukan rekrutmen, kontrapropaganda, hingga pendanaan terorisme
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 27 Juli 2026
BNPT Siapkan 111 Pencegahan Terorime Sejak Dini, 250 Anak Telah Berhasil Direhabilitasi
Indonesia
Paham Radikal Menyebar Cepat, Kadensus 88 Minta Orangtua Lindungi Anak di Ruang Digital
Pendekatan terhadap anak yang terpapar persoalan di ruang digital mengedepankan perlindungan, rehabilitasi, dan pendampingan.
Dwi Astarini - Kamis, 21 Mei 2026
Paham Radikal Menyebar Cepat, Kadensus 88 Minta Orangtua Lindungi Anak di Ruang Digital
Indonesia
Densus 88 Ungkap Pola Baru Terorisme Digital, Anak Muda Jadi Target Rentan
Kadensus 88 AT Polri mengungkap pola baru terorisme digital yang menyasar generasi muda melalui algoritma, komunitas virtual, dan kerentanan psikologis.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 21 Mei 2026
Densus 88 Ungkap Pola Baru Terorisme Digital, Anak Muda Jadi Target Rentan
Indonesia
Waspada! Paham Ekstremisme dan Terorisme Kini Menyebar Lewat Algoritma Digital
Wakapolri mengungkap pola baru terorisme dan ekstremisme yang kini berkembang melalui ruang digital. Polri juga menyoroti ratusan anak terpapar radikalisme di Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 21 Mei 2026
Waspada! Paham Ekstremisme dan Terorisme Kini Menyebar Lewat Algoritma Digital
Indonesia
Densus 88 Antiteror Polri Tangkap 8 Orang Diduga Sebaran Propaganda Terorisme di Medsos
Densus 88 Antiteror Polri masih terus melakukan pengembangan dan pendalaman terhadap kedelapan tersangka tersebut
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 06 Mei 2026
Densus 88 Antiteror Polri Tangkap 8 Orang Diduga Sebaran Propaganda Terorisme di Medsos
Bagikan