Dukungan terhadap Gubernur Nusa Tenggara Timur, Frans Lebu Raya untuk menolak kehadiran paham radikalisme di provinsi berbasis kepulauan itu terus mengalir melalui karangan bunga. Karangan bunga yang sebelumnya, hanya berjumlah sekitar 65 buah, hingga Senin sudah lebih dari 100 buah.
Hingga Senin siang, warga masih terus berdatangan meletakan karangan bunga, baik di dalam halaman dan depan lobi kantor Gubernur NTT. Ada juga yang diletakan di depan pagar depan Kantor Gubernur NTT di jalan El Tari. Pemasangan karangan bunga ini ada yang berasal dari kelompok organisasi, instansi maupun individu. Selain berasal dari himpunan dan ikatan mahasiswa dari sejumlah daerah di NTT ada juga dari organisasi sosial lainnya.
Mariana, seorang warga yang ditemui di lokasi itu mengaku, NTT adalah daerah dengan toleransi terbaik di Indonesia, sehingga penolakan terhadap paham radikalisme seperti Front Pembela Islam, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) serta berbagai paham intoleran. Nampak anggota Satuan Polisi Pamong Praja Setda Provinsi NTT terus memantau aktivitas warga ini.
Kepala Biro Humas Setda Provinsi NTT, Semuel Pakereng yang dikonfirmasi di Kupang, mengatakan, Pemprov NTT memberi apresiasi kepada masyarakat, baik secara individu maupun kelompok yang secara spontan memberikan dukungan.
Menurut Pakereng, dalam hubungan dengan radikalisme, Gubernur NTT pada setiap kesempatan selalu menyampaikan imbauan kepada seluruh masyarakat NTT supaya selalu waspada terhadap adanya paham radikalisme.
Dia mengatakan, awal pekan lalu, Gubernur NTT Frans Lebu Raya juga telah mengumpulkan semua pimpinan satuan kerja perangkat daerah mulai dari eselon II, III dan IV untuk menyampaikan secara khusus masalah radikalisme ini.
"Bapak Gubernur awal Minggu lalu memimpin rapat dengan pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) dan pejabat struktural lingkup pemprov NTT. Dalam rapat ini, Bapak Gubernur tekankan soal radikalisme," katanya.
Dalam rapat itu, Gubernur sudah meminta seluruh pimpinan SKDP untuk melakukan pengawasan mulai di instansi masing-masing dan lingkungan tempat tinggal.
"Prinsipnya adalah paham radikalisme tidak boleh masuk, apalagi berkembang di NTT. Seluruh rakyat NTT sudah menjalani hidup be rdampingan dan penuh toleransi," katanya Semuel Pakereng.
Sumber: ANTARA