MerahPutih.com - Nama dr Achmad Yurianto kerap meramaikan pemberitaan tentang penyebaran virus corona di Indonesia sejak awal Februari. Namun tak hanya itu, dokter berlatar belakang militer itu ternyata mendapatkan promosi jabatan sampai dua kali dalam waktu kurang dari setengah bulan.
Promosi pertama didapat dokter yang akrab disapa Yuri itu pada 3 Maret 2020 lalu. Saat itu, Pemerintah Presiden Joko Widodo (Jokowi) menunjuk dia sebagai Juru Bicara Pemerintah untuk penanganan virus corona jenis baru COVID-19.
Baca Juga:
Karier Jubir Pemerintah Kasus Corona dr Yurianto, Dokter Militer yang Lupa Rumah
Berdasarkan catatan MerahPutih.com, nama Yuri mulai akrab berkomunikasi dengan para pewarta dari berbagai media nasional maupun internasional semenjak Pemerintah Indonesia memulangkan 238 WNI yang berada di Provinsi Hubei, Tiongkok pada Februari lalu. Yuri merupakan salah seorang yang mengkoordinasikan proses pemulangan dan observasi kesehatan selama 14 hari para WNI dari Tiongkok di Pulau Natuna, Minggu (2/2).
Tak berselang lama setelah penunjukkan sebagai Jubir 3 Maret, dr Yuri kembali mendapat promosi kedua naik jabatan menjadi Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Dirjen P2P) Kementerian Kesehatan. Sosok kelahiranMalang Jawa Timur 11 Maret 1962 itu sebelumnya menjabat Sekretaris Ditjen P2P.
Dilansir dari laman resmi Kemenkes Selasa (10/3), Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto memimpin langsung upacara pelantikan Yuri sebagai Dirjen P2P di kantor Kemenkes, Senin (9/2) kemarin, alias 7 hari setelah dokter militer itu ditunjuk sebagai Jubir Pemerintah dalam kasus virus corona. Kenaikan jabatan ini sekaligus menegaskan posisi Yuri sebagai pejabat golongan eselon 1 kelas A di Kemenkes.
Baca Juga:
Yuri sempat menegaskan program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) bakal menjadi program andalannya di jabatannya yang baru. Menurut dia, Germas bukan lagi soal sosialisasi tetapi harus jadi budaya sebagai 'kapal utama' untuk menjaga Indonesia dari ancaman penyakit menular. "Kalau kapal Germasnya tidak kuat yang akhirnya muncul itu penyakit," tegas dia.
Menurut Yuri, saat masih banyak masalah kesehatan yang harus diselesaikan seperti DBD,TBC Malari dan termasuk soal munculnya virus corona COVID-19 di Indonesia. Mau tak mau harus diakui moncernya karier Yuri memang tidak lepas dari kasus corona COVID-19 yang mulai merambah Indonesia.
Apalagi, Presiden Jokowi telah memercayakan Yuri untuk menyampaikan berbagai informasi terkait wabah virus corona COVID-19 yang ada di Indonesia. Bahkan di hari pertama menjabat sebagai Dirjen P2P kemarin, dia masih sempat mengumumkan tambahan 13 kasus baru pasien virus corona, sehingga total kini ada 19 orang yang positif terjangkit COVID-19 di Indonesia.
Baca Juga:
Pasien Positif Virus Corona di Indonesia Bertambah Drastis Jadi 19
Karier Yuri sebagai dokter berawal ketika lulusan S1 Kedokteran Universitas Airlangga pada 1990. Dia memulai karier militernya sebagai Perwira Utama Kesehatan Daerah Militer V Brawijaya pada 1987, kemudian berpindah di Kesehatan Daerah Militer IX Udayana Bali pada 1991. Tahun yang sama, dia menjalani misi sebagai dokter Batalyon Infanteri 745/Sampada Yudha Bakti yang ditugaskan ke Dili Timor Timur.
Karier militer Yurianto terus menanjak hingga diangkat menjadi Wakil Kepala Rumah Sakit tingkat II Dustira Bandung Jawa Barat pada 2006, kemudian sebagai Wakil Kepala Kesehatan Daerah Militer IV Diponegoro Semarang pada 2008, sebagai Kepala Kesehatan Daerah Militer XI Pattimura Ambon Maluku pada 2009, dan Kepala Dinas Dukungan Kesehatan Operasi Pusat Kesehatan TNI pada 2011.
Pada 2015, Yurianto diminta Menteri Kesehatan Nila Moeloek untuk menempati posisi Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan hingga tengah tahun 2019. Sejak saat itu karienya terus naik hingga kemarin resmi menduduki jajaran eselon 1 Kementerian untuk jabatan Dirjen P2P. (*)
Baca Juga: