MerahPutih.com - Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa prevalensi hepatitis B aktif (HBsAg) pada anak usia 1–4 tahun hanya 0,1 persen, jauh di bawah target WHO untuk eliminasi hepatitis B pada anak.
Data SKI 2023 juga memberikan gambaran yang jelas mengenai perubahan epidemiologi tersebut. Pada seluruh kelompok umur, prevalensi hepatitis B aktif (HBsAg) kini mencapai 2,4 persen. Sebanyak 19,7 persen penduduk menunjukkan bukti pernah terpapar virus hepatitis B (anti-HBc positif), sedangkan hanya 24,3 persen yang memiliki antibodi pelindung terhadap hepatitis B (anti-HBs positif).
Kementerian Kesehatan mengatakan lebih dari 60 persen penduduk Indonesia masih rentan terhadap hepatitis B meski program imunisasi nasional sejak 1997 berhasil menekan penularan penyakit tersebut pada anak.
Indonesia sedang mengalami perubahan epidemiologi hepatitis B. Penularan pada generasi yang memperoleh imunisasi sejak bayi telah menurun secara drastis, sedangkan beban penyakit pada kelompok usia dewasa masih mencerminkan tingginya penularan yang terjadi pada masa sebelum imunisasi universal diperkenalkan,
kata Ketua Komite Ahli Hepatitis Kemenkes dr. David H Muljono.
Distribusi antibodi pelindung (anti-HBs) memperlihatkan pola bimodal. Angkanya tinggi pada anak-anak sebagai hasil keberhasilan imunisasi, menurun pada usia remaja dan dewasa muda, kemudian meningkat kembali pada kelompok usia yang lebih tua akibat terbentuknya kekebalan setelah infeksi alami.
Baca juga:
Temuan lain yang perlu mendapat perhatian adalah bahwa lebih dari 60 persen penduduk Indonesia masih tidak memiliki ketiga penanda serologi hepatitis B, yaitu HBsAg, anti-HBc, maupun anti-HBs. Kelompok ini belum pernah terinfeksi, tetapi juga belum memiliki kekebalan terhadap hepatitis B.
Temuan ini menunjukkan bahwa penularan hepatitis B telah menurun secara bermakna dibandingkan dua dekade sebelumnya, tetapi masih terdapat proporsi masyarakat yang besar yang belum memiliki kekebalan terhadap infeksi hepatitis B,
ujarnya.
Selama penularan horizontal masih berlangsung, mereka tetap berisiko terinfeksi pada masa remaja maupun dewasa. Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan tidak dapat berhenti pada imunisasi bayi saja, tetapi perlu dilengkapi dengan strategi perlindungan bagi kelompok usia yang lebih tua.
Strategi eliminasi hepatitis di Indonesia perlu berkembang dari pendekatan yang berfokus pada imunisasi menjadi pendekatan yang mencakup seluruh perjalanan penyakit, mulai dari pencegahan infeksi baru hingga pencegahan sirosis dan kanker hati.
Upaya tersebut meliputi perluasan skrining berbasis risiko, peningkatan akses terhadap pemeriksaan laboratorium, diagnosis dini, tata laksana yang sesuai dengan pedoman nasional dan WHO, pencegahan penularan dalam keluarga, serta pemberian vaksinasi catch-up bagi individu yang belum memiliki kekebalan terhadap hepatitis B,
ujarnya.

