MerahPutih.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendirikan dua rumah sakit lapangan untuk menangani korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) yakni Di Rumah Sakit Ruteng dan Rumah Sakit Aeramo Nageke.
Dua rumah sakit ini membantu puskesmas-puskesmas yang terdampak gempa,
kata Ketua Satuan Tugas (Satgas) Bencana Kemenkes Sumarjaya.
Kemenkes bekerja sama dengan Basarnas untuk mengidentifikasi puskesmas-puskesmas yang terdampak cukup parah dan sulit terjangkau, misalnya puskesmas di Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai, serta Puskesmas Dampek di Manggarai Timur.
Daerah di kedua puskesmas ini sangat sulit. Oleh karena itu kami mengirimkan tenaga medis darurat atau Emergency Medical Team (EMT) untuk memberikan layanan di sana dan mengevakuasi masyarakat yang memang perlu dirujuk di rumah sakit,
tuturnya.
Baca juga:
Kasus Pasien BPJS Yurizal Viral, DPR Tegur Kemenkes Benahi Pola Gaya Komunikasi Nakes
Kemenkes juga terus mengidentifikasi puskesmas-puskesmas yang terdampak dan terus melakukan pelayanan dengan mobilisasi tenaga melalui EMT sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Kemudian, mengaktifkan Health Emergency Operation Center (HEOC) untuk siap siaga melalui telepon jika ada relawan atau bantuan yang diberikan, yang dikepalai oleh kepala Dinas Kesehatan di delapan kabupaten/kota dan satu Dinas Kesehatan provinsi,
ucap Sumarjaya.
Kemenkes memastikan obat-obatan bagi warga terdampak gempa di NTT masih cukup untuk lima hari ke depan dan sewaktu-waktu dapat dikirimkan dari pemerintah pusat ketika dibutuhkan.
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengumumkan hingga Minggu (23/8) total jumlah korban jiwa akibat gempa bumi yang menimpa Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 91 jiwa. Terdapat 40 korban jiwa berjenis kelamin laki-laki, 48 korban jiwa berjenis kelamin perempuan, dan tiga korban lainnya masih dalam tahap identifikasi.
Sedangkan berdasarkan kelompok umur, 39 korban meninggal merupakan lansia, 4 batita, 1 balita, 12 anak dan remaja, 35 dewasa. Berdasar data yang diterima BNPB, 51 persen korban dinyatakan meninggal disebabkan dampak langsung dari gempa seperti tertimpa reruntuhan bangunan, sedangkan sisanya sebanyak 49 persen disebabkan dampak tidak langsung dan jumlah pengungsi akibat gempa bumi di NTT saat ini bertambah menjadi 161.084 jiwa.